ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | SCHOLAE

Rektor Unsada, Dr H. Dadang Solihin, SE, MA

04 Agustus 2015
Rektor Unsada, Dr H. Dadang Solihin, SE, MA
Rektor Universitas Darma Persada (Unsada) Jakarta periode 2015-2019, Dr H. Dadang Solihin, SE, MA (Foto: Farida Denura)

Antara Senpai, Kohai, dan Budaya Menghormati Senior    

Usai dilantik sebagai Rektor Universitas Darma Persada (Unsada) Jakarta pada Senin, 27 Juli 2015 yang berlangsung di auditorium Grha Wira Bakti Unsada, Jakarta Timur, menggantikan Rektor sebelumnya  Dr. Oloan P. Siahaan, M.Eng,MAEP,  Dr H. Dadang Solihin, SE, MA kepada  SH menegaskan akan mengutamakan bagaimana mendidik  mahasiswa-mahasiswa yang bermental menghargai senioritas.
   
Karena, menurut Direktur Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah, Bappenas, kalau senioritas sudah dihargai, maka kepada orangtua, dosen, dan kepada senior pun dihormati. Senpai memiliki makna orang yang lebih tua atau lebih tinggi kemampuannya. Sedangkan Kohai yang berasal dari kata Ko (kemudian/setelahnya) dan Hai (kawan) digunakan untuk memanggil yunior.

Di Jepang, Senpai dan Kohai tambah Dadang adalah unsur penting dalam hubungan senior-yunior di Jepang, sama ketika menghormati orang yang lebih tua dari kita. Senpai secara harafiah sama dengan mentor dan Kohai secara harafiah adalah menteenya. Atau mudahnya seseorang yang lebih tua dibandingkan dengan yang lebih mudah dalam keluarga/perusahaan/atau organisasi.
   
Orang yang lulus atau bekerja lebih dulu di sebuah perusahaan akan dipanggil senpai oleh rekan sekolahnya yang lulus atau bekerja setelahnya. Kohai dianggap lebih rendah dari sempai karena kurangnya pengalaman yang dimiliki. Bahkan pada perusahaan tertentu, sistem gaji dan promosi didasarkan pada senioritas yang menekankan pada umur  daripada kemampuan yang dimiliki.
   
Dadang sendiri pun demikian. Dalam sambutan perdana usai dilantik mengatakan dirinya sebagai Kohai dengan memohon dukungan dan bimbingan dari yang terhormat para Senpai. Dukungan pun dibuktikan dengan gemuruh tepuk tangan di ruangan tersebut.
   
Dadang pun berkeyakinan jika seluruh mahasiswa Unsada menghargai senioritas maka semua program yang akan dijalankan demi memajukan Unsada akan berjalan dengan baik. Menurut dia, jiwa-jiwa bermental seperti itulah yang dimanfaatkan  untuk membangun negara kesatuan RI.

“Menghargai senioritas itu yang sangat dirindukan oleh Indonesia. Bukan hanya mahasiswa yang memiliki IPK tinggi, akan tetapi memiliki sopan santun dan menghargai senior,”tegas Dadang.
   
Dadang sendiri mengaku ketika dirinya mengikuti fit and proper test calon Rektor, tantangan dari yang terhormat Senpai yakni Pengurus Yayasan Melati Sakura dan Persada kepada dirinya adalah apakah dirinya mampu untuk menjadi Rektor Unsada yang menghasilkan lulusan trilingual yang memiliki budaya kreatif dalam membuat barang (Monozukuri Tetsugaku), semangat industri (Sangyo Spirit), dan jiwa wirausaha-entrpreneurship (Kigyoka)? Dadang, mereasa tidak sendirian dan menerima tantangan dengan syarat Watasiwa Hitori Dewa Arimasen (I am not alone).
   
“Sebagai Kohai, saya memohon untuk selalu mendapat dukungan dan bimbingan dari yang terhormat Senpai. Mohon bukti dukungan Senpai dengan tepuk tangan,”ujar pria kelahiran Bandung 6 November 1961.
   
Monozukuri sendiri bukan sekadar pengulangan tanpa pemikiran (mindless repetition), akan tetapi memerlukan pemikiran kreatif. Professor Takahiro Fujimoto, seorang ahli teori Monozukuri terkemuka Jepang dari Tokyo University mengatakan Monozukuri adalah suatu art, science, dan craft, membuat barang.

Pada saat ini di Unsada terdapat 16 program studi yang berada dalam empat Fakultas (Sastra, Teknik, Teknik Kelautan, dan Ekonomi) dan satu Pasca Sarjana Energi Terbarukan. Dalam waktu dekat direncanakan akan dibuka tiga program Pasca Sarjana masing-masing di bidang teknik, sastra, dan ekonomi.

Ditanya soal visi misi dan program kerja di masa kepemimpinannya periode 2015-2019, Master Ekonomi dari University of Colorado, Denver, Amerika Serikat ini berjanji akan mengoptimalkan seluruh sumber daya yang dimiliki oleh organisasi untuk mencapai tujuan organisasi yakni pencapaian visi misi, lalu diturunkan melalui kegiatan-kegiatan.
   
Visi misi yang dimaksud adalah Dadang siap melaksanakan tridarma perguruan tinggi berkaitan dengan pendidikan, pengajaran, dan penelitian. Di bidang pendidikan dan pengajaran Danang bertekad menciptakan suasana belajar yang kondusif, yang saling menghargai antara dosen dan mahasiswa. Di bidang penelitian, Dadang akan membangun program-program penelitian yang sangat mendukung pemerintahan khususnya Pemda DKI Jakarta maupun pemerintahan lainnya serta mendukung penelitian lainnya di dalam mendukung dunia usaha karena menurut dia strategi dunia usaha itu berdasarkan hasil penelitian.
   
Sementara di bidang pengabdian masyarakat, Dadang mengutamakan program-program terutama yang akan membangun keberpihakan terhadap masyarakat sekitar kampus. Misalnya dalam waktu dekat bekerjasama dengan Pemda DKI Jakarta membantu pedagang tanaman di Kalimalang yang diungsi akibat pelebaran jalan agar direlokasi ke sepanjang bantaran Banjir Kanal Timur untuk mendapatkan ijin menjual taman di lokasi tersebut.

“Unsada akan memfasilitasi, pemberdayaan, serta membekalinya dengan strategi penjualan sehingga melalui jaringan yang dimiliki Unsada tanaman tersebut dapat disewakan di kantor-kantor maupun lainnya,”jelas Dadang.

Dadang mengaku sudah bertemu dengan para pedagang dan mereka juga sudah bersedia jika mendapat lokasi di tempat tersebut. Ditanya alasan tertarik menjadi Rektor, kakek satu cucu yang juga peserta terbaik Program Pendidikan Reguler Angkatan XLIX tahun 2013 dari Lemhanas RI dan dinyatakan lulus dengan Pujian serta dianugerahi penghargaan Wibawa Seroja Nugraha ini mengaku ingin membina pemuda-pemudi Indnesia guna siap menghadapi berbagai tantangan masa depan, dan rangka NKRI sebagai sebuah harga mati dengan keuletan dan ketangguhan.

Dadang juga merupakan angkatan Resimen Mahasiswa (Menwa) 1983 di Jawa Barat dan hingga sekarang terus bergaul dengan teman-teman Menwa sehingga nilai-nilai maupun spirit Menwa akan coba diinternalisasikan di Unsada sehingga menghasilkan mahasiswa dengan kepemimpinan yang tangguh, ulet dan tidak pernah putus asa.
   
Di awal kepemimpinannya ayah 3 anak dan kakek satu cucu ini sangat mengharapkan adanya jalinan kerjasama strategis dengan seluruh civitas akademika, terutama mahasiswa, dosen, dan seluruh stakeholders terkait.
   

BIODATA
Nama                                    : Dr. H. Dadang Solihin, SE,MA
Tempat/Tanggal Lahir     : Bandung, 6 November 1961
Jenis Kelamin                      : Laki-Laki
Status Perkawinan           : Nikah (1 isteri, 3 anak, 1 cucu)

Istri:

Dra.Hj.Greesia Yudiastuti
Anak:
Bahana Wiradanti, ST, MT
Gemala Wiradinta, ST, M.Sc
Galura Wirayudanto

Pendidikan Formal

Lulus 2011    : Doktor Ilmu Pemerintahan, Universitas Padjajaran, Bandung.

Lulus 1997    : Master of Arts, Department of Economics, University of Colorado, Denver, CO, USA.

Lulus 1986  : Sarjana Ekonomi, Fakultas Ekonomi Jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan, Universitas Katolik Parahyangan, Bandung

Pendidikan Kedinasan

2013    : Lulus dengan Pujian dan dianugerahi Penghargaan Wibawa Seroja Nugraha sebagai peserta terbaik Program Pendidikan Reguler Angkatan XLIX, Lemhanas RI, Jakarta.

2010    : Lulus dengan predikat Memuaskan dan dianugerahi Penghargaan Terbaik kedua dari 110 peserta, Pendidikan dan Pelatihan Kepemimpinan Tingkat II (Diklatpim II), Lembaga Administrasi Negara, Jakarta.

1998    : Lulus dengan predikat Baik Sekali, Sekolah Pimpinan Madya Administrasi (SPAMA), Pusdiklat Renbang Bappenas dan Lembaga Administrasi Negara, Jakarta.

Pengalaman Kerja sebagai PNS

2008 - sekarang    : Direktur Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah, Bappenas, Jakarta.

2007 - 2008            : Direktur Sistem dan Pelaporan Evaluasi Kinerja Pembangunan, Bappenas, Jakarta.

2006 - 2007            : Fungsional Perencana Madya Bappenas, Jakarta.

2005 - 2006            : Kepala Pusat Pengkajian Data dan Informasi, Sekjen DPD RI.

2000 - 2002            : Kepala Sub Direktorat Informasi Tata Ruang dan Pertanahan, Bappenas.

1998 - 2000      : Kepala Sub Bagian Pembangunan Dati I, Biro Bantuan Pembangunan Regional II (Kawasan Timur Indonesia), Bappenas.

1988 - 1998            : Staf Perencana Biro Regional III, Bappenas.

Dadang sudah menghasilkan beberapa buku tentang Desentralisasi dan Otonomi Daerah, Perencanaan Pembangunan Daerah, serta Monitoring dan Evaluasi Pembangunan.

Karya-karyanya tersebar di berbagai media terutama di dunia maya di http://dadang-solihin.blogspot.com

Artikel yang sama juga dimuat di harian sore Sinar Harapan, edisi Selasa, 4 Agustus 2015

       

Tags :

KOMENTAR