ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | SCHOLAE

Nasionalisme Masa Kini

11 Agustus 2015
Nasionalisme Masa Kini
Rudyono Darsono (Foto: Ist)

Oleh: Rudyono Darsono

Persoalan di sekitar nasionalisme, seperti lunturnya semangat cinta Tanah Air, selalu muncul di setiap ranah zaman. Bahkan, lunturnya semangat cinta Tanah Air itu kerap cukup menggelisahkan bangsa ini dan tak jarang memunculkan wacana di media massa, karena hal itu kerap mencuat secara fenomenal di kalangan anak-anak bangsa, khususnya generasi muda, tak terkecuali mahasiswa yang sedang digembleng menjadi pemimpin-pemimpin bangsa di masa depan.
   
Lunturnya semangat nasionalisme – cinta Tanah Air itu, bukan saja membuat semangat hidup, semangat juang, dan semangat membangun negeri ini kian pudar, masyarakat menjadi apatis, tetapi kerap juga dapat mengancam kebersatuan dan/atau disintegrasi bangsa. Dan tidak jarang, munculnya keterlibatan banyak anak muda terdidik dalam konflik antarsuku, agama atau kelompok yang terimbas pada ancaman disintegrasi bangsa.
   
Banyak faktor yang menjadi sumber yang melahirkan atau yang menimbulkan tergerusnya semangat nasionalisme, terutama yang memengaruhi generasi muda terdidik di kampus-kampus, seperti kemiskinan, pengangguran, ketidakadilan sosial, ekonomi, dan hukum, yang mana legalitas hukum sesuai UU sudah tidak lagi menjadi dasar dari penerapan hukum di lapangan, dimana azas oportunitas dan politik telah menjadi panglimnya dan menentukan arah hukum di negeri ini, yang secara transparan dilihat dan diamati oleh anak-anak muda terdidik. Dan yang tidak kalah penting pengaruhnya adalah faktor derasnya arus globalisasi dan tingginya semangat materialisme dan kapitalisme yang semakin memengaruhi kehidupan masyarakat bangsa ini di semua kalangan. Disinilah terlihat sangat jelas dan gamblang oleh kita semua, bahwa Pancasila  sebagai suatu ideologi tunggal bangsa ini telah jauh di tinggalkan oleh para elit politik pemegang mandat dari rakyat pada saat ini.
   
Maka, persoalan kini adalah bagaimana usaha kita dalam merajut dan merekonstruksi ulang nasionalisme di tengah masyarakat, terutama di kalangan generasi muda terdidik-calon pemimpin masa depan bangsa ini. Tentu, suatu konstruksi nasionalisme yang bertolak dari persoalan-persoalan aktual saat ini, seperti dipaparkan di atas.

Nasionalisme Mutakhir

Tumbuh dan bearkembangnya nasionalisme, kata para sosiolog, pada umumnya merupakan hasil konstruksi sosial. Salah satunya Benedict Anderson, mengatakan rasa kebangsaan lahir, tumbuh, berkembang dan terbentuk lewat proses imajinasi; anggota-anggota dalam suatu komunitas, membayangkan kesamaan-kesamaan nasib antara anggota masyarakat, lewat konsepnya, imagined communities. Dan ini yang dari awal oleh para pendiri bangsa  telah menjadi dasar pemikiran awal dalam membentuk bangsa ini dalam mengisi kemerdekaan.
   
Karena itu, benar pula seperti yang diungkapkan Ernest Renan (1882), yang pemikirannya seringkali dikutip Bung Karno, bahwa nasion adalah kesatuan solidaritas yang besar, tercipta oleh perasaan pengorbanan yang telah dibuat di masa lampau untuk membangun masa depan bersama. Bagi Indonesia, hal ini jelas terlihat dari bergeloranya nasinalisme atau semangat cinta Tanah Air pada fase-fase menjelang kemerdekaan, yang disebabkan oleh perasaan senasib dan sepenanggungan dalam penderitaan akibat penjajahan. Dan semua itu tercantum dengan jelas dalam Pembukaan UUD 1945 dengan Pancasilanya, dimana keersamaan, rasa senasib, dan sepenanggungan dapat benar-benar dirasakan oleh segenap anak bangsa.
   
Bagaimana dengan nasionalisme masa kini? Jawaban atas pertanyaan ini, kita perlu secara tegas membentuk dan menanamkan sikap dasar dan perilaku yang mengekspresikan semangat atau visi kebangsaan yang cocok dengan situasi dan kondisi kita saat ini. Apalagi, nasionalisme bukanlah konsep dan terminologi yang mati, melainkan diaktualisasikan sesuai dengan perjalanan waktu dan situasi kontekstul perkembangan zaman.
   
Persoalannya, tentu bagaimana kita secara nyata pula bisa mengaktualisasikan nilai patriotisme nasionalisme dalam konteks ekonomi, politik dan sosial budaya di era kapitalisme yang terus menggerogoti bangsa ini. Semua ini hanya dapat tercipta apabila para penguasa negeri ini dapat mengamalkan Pancasila secara utuh, tidak hanya lip service atau angin surga, tetapi di implementasikan secara nyata, dalam kehidupan sehari-hari. Artinya, persoalan ini menjadi amat vital dan strategis manakala kita menyaksikan betapa deras arus globalisasi yang mengalir di atas roda-roda kehidupan sosial, ekonomi dan politik yang rumit. Ini diperparah lagi oleh situasi Indonesia saat ini yang seolah tidak lagi memiliki apa yang menjadi musuh bersama yang mesti diperangi, seperti di zaman penjajahan dulu, di mana mengusir penjajah merupakan musuh bersama itu, sementara musuh kita saat ini adalah ancaman perpecahan dan ketidak percayaan antar sesama anak bangsa.
   
Kerumitan ini, bahkan semakin berat akibat situasi kemajuan saat ini yang diiringi kemajuan sains dan teknologi yang terus masuk dan turut “mengaduk” suatu ramuan situasi budaya kolonial yang menjadi kemungkinan real, oleh karena kecenderungan suatu bangsa terus-menerus memeroses dirinya melampaui identitas nasional, kesukuan, kedaerahan atau individual personal, dan memanfaatkan para pemuda, kader penerus bangsa untuk masuk kedalam konflik horizontal
   
Pertanyaan berikut adalah bagaimana menumbuhkan semangat nasionalisme atau semangat cinta Tanah Air dalam wujud yang konkret masa kini? Jawabannya, tentu terpaut pada upaya menumbuhkan nasionalisme sesuai dengan semangat zaman ini. Maka, dalam hal ini perlu diciptakan “sosok baru” untuk dijadikan musuh bersama sekaligus cita-cita bersama. Musuh bersama generasi sekarang  yang harus disingkirkan, yakni bukan lagi penjajah, melainkan dengan bangsa sendiri, seperti kentalnya etnisitas, kelompok suku, agama, birokrasi yang korup, ketidakadilan, ketidaksejahteraan, bahkan juga kapitalisme dan kejahatan korporasi yang menggerogoti kekuasaan Negara, yang ujung-ujungnya akan menghancurkan bangsa ini sendiri.

Perlu Nasionalisme Baru
Nasionalisme baru yang dibangun dan dikembangkan harus membantu dalam mendewasakan jati diri bangsa, dengan lebih dulu harus mengikis habis korupsi, membangun supremasi hukum, membasmi ketidakadilan, sekaligus membendung pengaruh kapitalisme dan melenyapkan kekuasaan yang terus berkongkalikong dengan kejahatan korporasi global. Karena, semua ini merupakan akar lunturnya semangat nasionalsme yang kini sangat memengaruhi generasi muda.
   
Salah satu unsur hakiki dari kandungan isi nasionalisme baru, terlihat dalam analis sosial, Lyman T. Sargent, yakni kesadaran diri seseorang sebagai bagian dari suatu kelompok bangsa (national consciousness) yang melekat dengan tendensi identifikasi diri dengan kelompok-kelompok bangsa yang plural (pluriformitas national identity), di atas landasan usaha masing-masing pribadi untuk membangun kehidupan masa depan bersama yang adil dan sejahtera.
   
Mengembangkan nasionalisme dalam konteks ini tentu bukan saja sekadar upaya penanaman semangat kesatuan, semangat cinta Tanaha Air secara buta, melainkan harus menghapus semua ketimpangan yang ada. Menghimpun “keberbangsaan” yang retak akibat berbagai ketimpangan adalah suatu kerja besar dan berat dalam membangun kesadaran nasion baru. Hal ini hanya dapat terwujud apabila para pemegang mandat rakyat, mau mengesampingkan egoistis, baik pribadi maupun kelompoknya dan  mau mendahulukan kepentingan Bangsa diatas kepentingan pribadinya.
   
Meski berat, karena pemegang mandat yang dapat atau mungkin dapat menjalankan serta mengimplementasikan Pancasila, yang menjadi dasar utama Nasionalisme sejati bangsa ini, hanyalah mereka yang tidak atau sangat minim (kecil) keterlibatannya dengan masa lalu  tetapi itulah yang membuat kita tetap survive atau tetap eksis di atas gempuran aneka persoalan politik yang berkembang dalam sejumlah ketegangan globalisasi yang mencengangkan sekaligus menantang kebhinnekaan kita.

Penulis, Ketua Yayasan Perguruan Tinggi 17 Agustus 1945, Jakarta.





Tags :

KOMENTAR