ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | SCHOLAE

UI Kembali Kukuhkan Dua Guru Besar Bidang Keilmuan Sosial

20 Agustus 2015
UI Kembali Kukuhkan Dua Guru Besar Bidang Keilmuan Sosial
Prof. Adi Zakaria sedang memaparkan pidato berjudul “Aksentuasi Pendekatan Promise Management dalam Disiplin Pemasaran: Dampaknya Pada National Brands-Nation Brand” pada Rabu (19/8) di kampus UI Depok.. Foto: Humas & KIP UI)
DEPOK - Rektor Universitas Indonesia (UI) Prof. Dr. Ir. Muhammad Anis, M.Met kembali mengukuhkan dua Guru Besar di lingkungan UI yaitu Prof. Dr. Adi Zakaria Afiff, SE, MBA dan Prof. Dr. Billy K Sarwono, MA pada Rabu (19/8) di Balai Sidang UI, kampus Depok. Kedua profesor tersebut menambah jumlah Guru Besar yang dimiliki UI yang kini mencapai 301 profesor. Prof. Adi Zakaria merupakan Guru Besar Tetap Bidang Ilmu Manajemen Pemasaran Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI (FEB UI). Sedangkan Prof. Billy Sarwono merupakan Guru Besar Tetap bidang Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UI (FISIP UI).

Dalam pengukuhannya, Prof. Adi Zakaria memaparkan pidato berjudul “Aksentuasi Pendekatan Promise Management dalam Disiplin Pemasaran: Dampaknya Pada National Brands-Nation Brand”. Pidato ini mengungkapkan kekhawatiran Prof. Adi atas perkembangan daya saing Indonesia. Berdasarkan Global Competitive Index tahun 2014 -2015, Indonesia berada pada urutan yang cukup baik, yaitu ke 34 dari 144 negara dunia yang diukur, namun disini juga terlihat bahwa Indonesia masih kalah kompetitif dibandingkan Thailand, Malaysia dan Singapura. Salah satu upaya meningkatkan kompetitif Indonesia adalah melalui pendekatan disiplin ilmu Pemasaran.

Prof. Adi memaparkan bahwa suatu negara yang di dalam perekonomiannya terdapat banyak national brands (merek-merek nasional) dengan brand equity yang tinggi, akan memiliki daya saing yang lebih baik dibandingkan dengan negara yang memiliki sedikit national brands yang kuat. Namun sayangnya, baik dari segi pangsa national brands maupun nation brand Indonesia mengindikasikan daya saing Indonesia yang belum optimal.

Untuk itu,  Prof. Adi mengajukan Promise Management sebagai sebuah pendekatan yang sejalan dengan kondisi di Indonesia tersebut. Pendekatan ini menjadikan konsumen sebagai pusat dari business universe yang menfokuskan seluruh sumber daya manusia perusahaan (tidak hanya Divisi/Bagian Pemasaran) pada hubungan perusahaan dengan konsumen, dan bukan pada marketing mix atau marketing programs. Dengan pendekatan Promise Management, maka akan lebih tegas dirasakan bahwa suatu merek, termasuk nation brand, akan mencerminkan janji pemilik merek pada konsumen atau publiknya.

Prof. Billy Sarwono menyampaikan pidato pengukuhannya berjudul “Literasi Media untuk Kesetaraan Gender di Indonesia”. Dewasa ini, media yang menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat telah menggantikan peran agen sosialisasi. Media banyak mengkonstruksikan realitas untuk memenuhi kepentingan pemilik media atau bahkan memenuhi kebutuhan pasar. Misalnya media cenderung menggambarkan stereotip perempuan yang muda, cantik, lemah, emosional; sebaliknya laki-laki merupakan sosok kuat, pemberani, tegas dan mandiri.

Dampak konstruksi bias gender dalam media kata dia tidak hanya mempengaruhi perilaku individu melainkan juga budaya masyarakat. Keprihatinan tentang misrepresentation perempuan dalam media dan dampaknya terhadap anak-anak dan remaja ini mendorong Prof. Billy Sarwono, atau biasa dipanggil Oni, untuk menekuni studi tersebut sejak 1995.

Dalam perpektif ilmu komunikasi, maka solusi yang bisa dilakukan adalah mendorong anak-anak, remaja dan khalayak lain menjadi lebih kritis terhadap sajian media melalui literasi media. Masyarakat harus tahu bahwa isi media tak terlepas dari siapa yang berada di baliknya, bagaimana proses produksi teks (berita, acara televisi, film dan lain) tak lepas dari latar belakang awak media, kepentingan pemilik modal, pengiklan dan berbagai faktor lain. Literasi media ini tak hanya untuk menipis bias gender dalam masyarakat, namun juga bisa diaplikasikan sebagai usaha menahan gempuran media sosial dalam kehidupan anak dan remaja di segala bidang.

Melalui pendidikan literasi media, seseorang akan memahami bahwa sebagian besar isi media merupakan hasil konstruksi. Guru dan orang tua dapat menjadi ujung tombak usaha pendidikan literasi media, terutama bagi anak dan remaja. “Saya percaya bahwa literasi media merupakan solusi cerdas dan sederhana namun besar dampaknya di kemudian hari untuk mencapai kesetaraan gender di Indonesia,” simpul Prof. Billy Sarwono.(PR

Tags :

KOMENTAR