ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | SCHOLAE

Sekolah Harus Memotivasi Anak Gemar Membaca

18 September 2015
Sekolah Harus Memotivasi Anak Gemar Membaca
Salah satu cara paling mudah supaya anak gemar membaca adalah dengan memberikan bahan bacaan yang mudah dan menyenangkan untuk mereka seperti komik dimana mereka bisa melihat gambar namun juga bisa tetap membaca. (Foto-Foto:Ist)
Membudayakan gemar membaca di sekolah sebenarnya mudah, namun kenyataannya masih terabaikan. Sampai sekarang, masih banyak pihak yang prihatin terhadap lemahnya budaya literasi yang ada di lingkungan sekolah.
    

Jika ditilik dari kualitas pendidikan Indonesia secara umum, hasil survei United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) tahun 2011 di negara-negara berkembang di Asia Pacific, Indonesia hanya menempati peringkat 10 dari 14 negara.     Sedangkan untuk kualitas para guru, kulitasnya berada pada level 14 dari 14 negara berkembang. Masih berdasarkan survei UNESCO, indeks membaca masyarakat Indonesia pun masih sangat rendah, hanya 0,001. Artinya, hanya 1 dari seribu orang masyarakat Indonesia yang membaca buku.
   
Survei lainnya seperti Bank Dunia Nomor 16369-IND dan studi IEA (International Association for the Evaluation of Education Achicievement), untuk kawasan Asia Timur, Indonesia memegang posisi terendah dengan skor 51,7, dibawah Filipina dengan skor 52,6. Data lainnya dari UNDP, angka melek huruf orang dewasa Indonesia hanya 65,5 persen.
   
Pada tahun 2002, Penelitian Human Development Index (HDI) yang dirilis UNDP menyebutkan, melek huruf Indonesia berada di posisi 110 dari 173 negara. Posisi tersebut turun satu tingkat menjadi 111 di tahun 2009. Pada tahun 2006 berdasarkan studi lima tahunan bertajuk Progress in International Reading Literacy Study (PIRLS) yang melibatkan siswa sekolah dasar (SD), Indonesia  menempati posisi 36 dari 40 negara.
   
Pada tahun 2006 berdasarkan data Badan Pusat Statistik menunjukan, masyarakat Indonesia belum menjadikan kegiatan membaca sebagai sumber utama mendapatkan informasi. Masyarakat lebih memilih menonton televisi (85,9%), mendengarkan radio (40,3%) daripada membaca koran (23,5%). Pada tahun 2009 berdasarkan data yang dilansir Organisasi Pengembangan Kerja sama Ekonomi (OECD), budaya baca masyarakat Indonesia menempati posisi terendah dari 52 negara di kawasan Asia Timur.
   
Pada tahun 2012 Indonesia berada di posisi 124 dari 187 Negara dunia dalam penilaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM), khususnya terpenuhinya kebutuhan dasar penduduk, termasuk kebutuhan pendidikan, kesehatan dan ‘melek huruf’. Indonesia sebagai Negara berpenduduk 165,7 juta jiwa lebih, hanya memiliki jumlah terbitan buku sebanyak 50 juta per tahun. Itu artinya, rata-rata satu buku di Indonesia dibaca oleh lima orang.
   
Pakar pendidikan yang juga pemerhati anak, Arief Rachman beberapa waktu yang lalu pernah mengatakan di tingkat masyarakat kelas menengah dan bawah, minat baca pada anak memang relatif kurang. Hal ini, kata Arief tak lepas dari peran orang tua serta guru sebagai pendidik.
   
"Jadi harus lebih kreatif untuk merangsang minat baca, misalnya guru memperbanyak tugas untuk anak atau orang tua membiasakan anak berinteraksi dengan buku," ujarnya.
   
Tak heran, kata Arief, minat baca pada anak di tempatnya mengajar cenderung tinggi, karena para pendidik selalu memberikan anak tugas, sehingga anak terangsang untuk baca. Dirinya menyebut membaca mempunyai banyak hal positif pada anak.
   
Untuk mewujudkan bangsa berbudaya baca, kata dia, maka pembinaan minat baca anak perlu dilakukan sejak dini. Pasalnya masa anak-anak merupakan masa tepat untuk menanamkan sebuah kebiasaan.
   
Setelah anak-anak mampu membaca, anak-anak perlu diberikan bahan bacaan yang menarik sehingga mampu menggugah minat membaca buku. "Minat baca anak perlu dipupuk dengan menyediakan buku-buku yang menarik dan representatif  bagi perkembangan anak," ujarnya.
   
Apabila kebiasaan membaca telah tertanam pada diri anak, lanjut Arief, maka setelah dewasa anak tersebut akan merasa kehilangan apabila sehari saja tidak membaca.
   
Pembinaan minat baca anak, kata Arief, merupakan modal dasar untuk memperbaiki kondisi minat baca masyarakat saat ini. Dirinya menyebut untuk mengatasi masalah ketersedian sarana baca anak dapat dilakukan dengan memanfaatkan eksistensi perpustakaan sekolah. "Perpustakaan sekolah dapat difungsikan sebagai institusi penyedia sarana baca cuma-cuma bagi anak-anak," katanya.
   
Perpustakaan sekolah ialah sarana penunjang pendidikan yang bertindak di satu pihak sebagai pelestari ilmu pengetahuan dan di lain pihak juga sebagai sumber bahan pendidikan yang akan diwariskan kepada generasi yang lebih muda.

Tidak Bisa Ditawar
Dalam buku “Parents Who Love Reading Kids Who Don't” karya Mary Leondhardt dijelaskan bahwa setidaknya ada lima alasan utama, mengapa anak harus gemar membaca alias kutu buku?
   
Pertama, hanya kutu bukulah pembaca yang hebat. Pembaca yang baik adalah mereka yang setiap saat membaca. Jenis bacaan bukanlah sesuatu yang penting dalam hal ini. Kedua, hanya kutu bukulah penulis andal. Mereka yang bisa menulis dengan baik hampir dipastikan gemar membaca. Ketiga, orang yang kutu buku lebih berkonsentrasi pada informasi-informasi tambahan.
   
Keempat, gemar membaca meningkatkan kemampuan mengatasi masalah pribadi. Kelima, kutu buka punya kesempatan lebih baik untuk meraih kehidupan yang sukses. Seperti diketahui bahwa hampir semua orang sukses di dunia ini adalah orang yang gemar membaca buku. Dengan begitu pentingnya membaca buku seperti penjelasan tersebut, keharusan anak gemar membaca tidak bisa ditawar lagi.
   
Selain itu, lingkungan sekitar anak juga punya pengaruh besar terhadap minat baca mereka. Oleh sebab itu, penting sekali membuat anak merasa 'senang' terlebih dahulu terhadap membaca daripada memfokuskan supaya mereka 'bisa' membaca saja karena tujuan utama dalam hal ini adalah menanamkan gaya hidup membaca.
   
Salah satu cara paling mudah supaya anak gemar membaca menurut  Mary Leondhardt adalah dengan memberikan bahan bacaan yang mudah dan menyenangkan untuk mereka seperti komik. Dengan komik anak bisa melihat gambar namun juga bisa tetap membaca. Cara lain adalah dengan mengurangi aktivitas mereka terutama menonton televisi
   
Masih menurut  Mary Leondhardt, untuk mempermudah menumbuhkan minat baca anak, orangtua sebaiknya mengetahui tahapan-tahapan dalam membaca. Tahap pertama adalah membolak-balik buku dan majalah. Dalam tahap ini anak memang belum membaca. Tahap kedua adalah membaca komik, majalah, dan koran. Tahap ketiga adalah membaca buku pertama. Dalam tahap ini anak sudah mulai membaca secara keseluruhan satu buku. Sebaiknya buku yang dibaca adalah serial karena akan bisa menimbulkan rasa ketagihan membaca seri berikutnya. Tahap keempat adalah menyukai bacaan tertentu dan tahap kelima adalah pengembangan. Dalam tahap ini meskipun anak suka membaca, mereka masih perlu dibantu untuk menyulut semangat mereka. Tahap keenam adalah membaca bacaan yang lebih luas, tahap ketujuh mencari buku sendiri dan tahap ketujuh adalah kutu buku abadi. Tanda-tanda anak mencapai tahapan terakhir ini adalah saat mereka harus mencari buku dari pengarang-pengarang baru dan rak buku mereka selalu penuh.
   
Selain itu guru atau pendidik memegang peranan yang sangat penting dalam memberikan motivasi atau semangat pada siswa atau anak didik untuk membaca. Guru diharapkan bisa merancang sebuah proses kegiatan pembelajaran yang mendorong siswa untuk datang ke perpustakaan, karena perpustakaan merupakan sarana yang tepat untuk meningkatkan pengalaman membaca bagi siswa.

Sumber: Harian Sore Sinar Harapan
 

Tags :

KOMENTAR