ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | SCHOLAE

Eropa, Tujuan Utama Siswa Unggulan

02 Oktober 2015
Eropa, Tujuan Utama Siswa Unggulan
Duta Besar Uni Eropa untuk RI Olof Skoog (kiri) dan staf Ahli Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi John Iskandar Pariwono (kanan) berbincang dengan perwakilan dari panitia dalam Pameran Pendidikan Tinggi Eropa 2014 lalu di Jakata (8/11) lalu. (Foto-Foto: Dok. EHEF)
Pendidikan adalah salah satu cara paling efektif untuk saling mendekatkan warga negara kita. Pendidikan juga dapat meningkatkan saling pengertian antar warga. Uni Eropa terus mendukung pendidikan berkualitas.
    

Hal tersebut disampaikan Duta Besar Uni Eropa Olof Skoog, pada temu pers di Jakarta beberapa waktu yang lalu. “Uni Eropa terus mendukung pendidikan berkualitas. Kami ingin memberi kesempatan kepada generasi muda Indonesia untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya agar dapat aktif berpartisipasi sebagai anggota masyarakat yang terus berkembang,”kata Skoog.
   
Lebih lanjut Skoog menambahkan, Eropa merupakan tujuan utama bagi siswa unggulan. Uni Eropa terus meningkatkan kualitas institusi pendidikan tinggi. Eropa menanamkan investasi yang besar untuk bidang penelitian dan pendidikan. Lebih dari 4000 instituasi pendidikan tinggi termasuk dalam deretan universitas terkemuka di dunia, menawarkan fasilitasi mutakhir serta banyak kesempatan penelitian.
   
Bahasa, lanjut Skoog tidak lagi menjadi kendala, karena semakin banyak universitas di Eropa yang menggunakan bahasa Inggris sebaagi bahasa pengantar. Dia berharap agar semua siswa, termasuk siswa internasional dari Indonesia akan memperoleh manfaat dari investasi tersebut.
   
“Di Eropa, biaya kuliah tidak mahal, atau dalam kasus-kasus tertentu bahkan mungkin tidak dikenakan biaya. Untuk membantu siswa menutupi biaya studi di Eropa, Uni Eropa, negara-negara anggotanya serta universitas di sana menawarkan berbagai beasiswa. Setiap tahun Uni Eropa dan negara-negara anggotanya menyediakan lebih dari 1.800 beasiswa kepada mahasiswa Indonesia untuk belajar di Eropa,”tambah Skoog.
   
Pada 2013, dari data yang diterima Uni Eropa, jumlah mahasiswa Indonesia yang belajar di Eropa naik 20 persen dari tahun sebelumnya. Tahun ini ada 4000 mahasiswa Indonesia ke Eropa menempuh pendidikan. Bahkan tahun 2014, secara total terdapat 7.000 orang yang belajar di berbagai strata pendidikan mulai dari sarjana hingga pascasarjana.
   
Pameran Pendidikan Tinggi Eropa (European Higher Education Fair—EHEF) 2014 merupakan pameran keenam kalinya diselenggarakan dan diadakan sebagai tanggapan atas kesuksesan lima EHEF sebelumnya pada tahun 2008, 2010,2011,2012, dan 2013 yang dikunjungi lebih dari 10 ribu pengunjung setiap tahunnya dengan menampilkan 150 institusi pendidikan tinggi dari 14 negara-negara Eropa.
   
EHEF yang diselenggarakan pada 8-9 November 2014 di Balai Kartini Jakarta ini dilanjutkan dengan pameran EHEF di Surabaya pada 11 November 2014 dan di Makassar pada 13 November 2014.
   
Pameran EHEF di Jakarta juga diisi dengan acara diskusi terbuka dengan judul Apakah integrasi yang lebih kuat, mirip dengan Uni Eropa, akan menjaga masa depan ASEAN? Debat ini menyajikan dua tim pembicara yang  menyampaikan pendapatnya dalam mendukung atau menentang topik tersebut.
   
Para panelis sepakat tentang perlunya ASEAN mengupayakan adanya integrasi. Tetapi perbedaan muncul tentang pro dan kontra dengan mengikuti model Uni Eropa, sebagai contoh integrasi regional yang paling berkembang dan sukses.
   
Sebelumnya pada awal Oktober 2014 lalu juga digelar pameran pendidikan berskala internasional, World Education Expo Indonesia (WEEI) 2014. Untuk tahun ini, WEEI menghadirkan 120 perguruan tinggi (PT) dari total 25 negara di dunia.
   
Head of Committee WEEI, Stephanie Riady seperti dikutip media mengatakan WEEI 2014 adalah penyelenggaraan yang ketiga. Jika pada WEEI 2013 hanya terdapat 70 peserta, namun kali ini mencapai sekitar 150 peserta. Stephanie memperkirakan jumlah siswa atau pengunjung yang hadir juga meningkat dua kali lipat dari 10.000 pada tahun 2013 menjadi 20.000 pada tahun ini.

Minat Besar
WEEI 2014 dibuka di Balai Kartini, Jakarta pada 3-4 Oktober 2014, kemudian pameran dilanjutkan di empat kota besar lainnya yaitu Surabaya, Medan, Makassar, dan Denpasar, serta ditambah satu kota luar negeri yaitu Manila, Filipina. Dalam pembukaan WEEI 2014 di Jakarta digelar pula pemilihan WEEI Ambassador yang diikuti oleh 10 finalis.
   
Stephanie mengatakan minat PT asing cukup besar untuk menjangkau siswa Indonesia. Terbukti, PT dalam WEEI semakin banyak dan beragam.
   
Perguruan Tinggi yang berpartisipasi dalam WEEI 2014 antara lain National University of Singapore (NUS), Nanyang Academy of Fine Arts (NAFA), Lasalle College of The Arts, European University Bussiness School, Stenden University, Teeside University, Central Queensland University, James Cook University Brisbane, Hanyang University, Seoul National University of Science and Technology, Berkeley College, Calvin College, dan Dallas Baptist University.
   
Menurut Stephanie, jumlah lulusan SMA yang ingin masuk PT di luar negeri semakin meningkat, sehingga persaingan semakin ketat. Oleh karena itu, siswa SMA harus meningkatkan kemampuan diri, tidak hanya secara akademik tetapi juga aktif dalam berbagai kegiatan ekstrakurikuler dan khususnya menguasai bahasa Inggris.
   
Sementara itu, Operation Director WEEI, Anastasya Sri mengatakan banyak orang beranggapan bahwa pendidikan internasional akan mengeluarkan biaya sangat mahal. Padahal, menurutnya, sejumlah universitas di luar negeri justru menawarkan banyak beasiswa atau setidaknya informasi untuk magang atau kerja paruh waktu.
   
Sumber: Harian sore Sinar Harapan
 

Tags :

KOMENTAR