Muhamad Fadhol Tamimy (Foto: Ist)

Mendobrak Gaya Baru Perjuangan Mahasiswa di Era MEA

Oleh: Muhamad Fadhol Tamimy

Pemuda adalah salah satu penduduk terbanyak di Indonesia dengan presentasi setengah dari populasi penduduk bangsa Indonesia. Dan sebagian dari populasi pemuda yang ada adalah mereka yang menyandang status sebagai mahasiswa. Tentu ini adalah kabar gembira untuk kita semua, tidak cuma kulit manggis yang ada ekstraknya, tetapi pemuda ternyat juga mahasiswa. Mengapa ini menjadi kabar “gembira”?. Ditilik dari statusnya saja, “mahasiswa” menyandang status “maha”, sebuah kata dari simbolisasi kebesaran yang di sandang di dunia ini. Status maha tersebut mempunyai hubungan dengan pengharapan akan sebuah kontribusi dalam kemajuan dan perubahan bangsa indonesia.

Sejarah paling fenomenal di negeri ini pernah ditorehkan mereka yang menyandang status sebagai mahasiswa. Rezim yang bercokol selama 32 tahun pun tumbang tak berdaya melalui mekanisme gerakan dramatis yang bernamakan Reformasi. Itu semua tak bisa kita lepaskan dari kontribusi “mereka” yang berstatus sebagai Mahasiswa.

Tahun 2015 Indonesia di hadapkan dengan era baru bernama Asean Economy Community, dimana kita bangsa Indonesia di tuntut untuk dapat bersaing dengan berbagai negara-negara di kawasan asia tenggara. Sejarah AEC dimulai pada tahun 1997 tepatnya dalam Asean Summit yang diadakan di Kuala Lumpur, para kepala negara Asean menyepakati Asean Vision 2020 yaitu mewujudkan kawasan yang stabil dan berdaya saing tinggi dengan pertumbuhan ekonomi yang merata.

Dari sinilah muncul ide pembentukan komunitas Asean yang memiliki tiga pilar utama yaitu: (1) Asean Security Community, (2) Asean Economic Community, (3) Asean Socio Cultural Community. Komunitas ini pada awalnya akan diterapkan secara penuh pada tahun 2020, namun dipercepat menjadi tahun 2015 sesuai dengan kesepakatan dari pemimpin negara-negara anggota Asean. Hal ini pun juga disesuaikan dengan perkembangan globalisasi internasional yang menuntut Asean untuk lebih kompetitif lagi.

Sebagai bagian dari salah satu pilar komunitas ini, AEC sendiri merupakan pondasi yang diharapkan dapat memperkuat dan memaksimalkan taraf hidup masyarakat kawasan Asean di berbagai bidang terutama bidang ekonomi. Dalam hal ini, yang perlu dilakukan oleh bangsa Indonesia adalah bagaimana bangsa ini bisa memaksimalkan dan memanfaatkan sebuah momentum ke arah yang lebih baik lagi kedepannya.

Perlu peran aktif dari semua pihak, untuk menghadapi era Asean Economic Community. Pemerintah, masyarakat, tokoh masyarakat, pemuda, hingga mahasiswa harus bersatu untuk melakukan kesadaran dan melakukan berbagai upaya bersama untuk membangun bangsa, agar siap bersaing dalam AEC kedepannya. Meningkatkan daya saing ini dapat di lakukan dengan berbagai cara, mulai dari pendidikan, pelatihan keterampilan, dan lain sebagainya.

Teruntuk mahasiswa sudah waktunya untuk turut berperan aktif dan kreatif membanggakan bangsa Indonesia di dunia internasional. Sudah saatnyalah mahasiswa meninggalkan cara-cara perjuangan yang tradisional macam aksi jalanan. Bergerak tidaklah melulu berbicara mengenai demonstrasi, dan aksi jalanan yang terkadang berujung anarkis destruktif. Mahasiswa sesuai harapan masyarakat sebagai seorang intelektual muda sudah semestinya bergerak di salah satu sektor gerakan sosial secara kreatif. Praktek-praktek menggelorakan perubahan dengan cara-cara romantika mahasiswa 98 agaknya perlu untuk di transformasikan mengikuti perubahan zaman. Berkarya, dan berkontribusi melalui pengabdian kepada masyarakat adalah salah satu cara dalam mentransformasikan perjuangan mahasiswa era modern.

Salah satu sektor gerakan sosial yang bisa dilakukan oleh mahasiswa, yaitu bidang pendidikan maupun pelatihan keterampilan kepada masyarakat sekitar. Ada sebuah kebanggaan dan ketakjuban, manakala penulis menghadiri sebuah acara yang di gagas oleh salah satu mahasiswa universitas negeri terbesar di Kalimantan timur ini. Acara yang bertajuk “Tumbuh dan Bergerak Bangun Kepedulian” seolah-olah menjadi sinyal bangkitnya perjuangan mahasiswa di era moderen ini. Kegiatan tersebut adalah kegiatan pelatihan daur ulang sampah menjadi barang dengan nilai ekonomis tinggi

Dengan konsep berbaur antara mahasiswa dan masyarakat sekitar kampus, Umi Riyana mahasiswa Manajemen angkatan 2013 (Penggagas Tumbuh dan Bergerak Bangun Kepedulian), dan Teguh Bin Sabar (Ketua BEM  Fekon) merupakan sosok pemuda yang tak terekspos dan luput dari hingar bingar pencitraan yang mulai gencar di tebar di gerbang pilwalkot kota samarinda ini. Setelah gerakan pendidikan yang menyasar pinggiran kota samarinda melalui gerakan unmul mengajar, tentu gagasan ini semakin menambah berwarna peran aktif mahasiswa dalam kontribusinya melalui sebuah gagasan dan karya.

Mungkin banyak sosok mahasiswa seperti umi riyana dan teguh di negeri ini yang tak terekspos di tengah ramainya pemberitaan para calon kepala daerah yang tengah melakukan pencitraan di tengah hiruk pikuk gemerlapnya pilkada hari ini. Akan menjadi hal yang bermanfaat manakala dana ratusan juta bahkan milyaran rupiah ini dapat di gelontorkan kepada hal-hal bermanfaat seperti kegiatan pengembangan maupun pelatihan ketrampilan bagi generasi muda.

Romantika perjuangan mahasiswa di era moderen “Asean economi community” adalah sebuah cita-cita yang harus segera kita realisasikan bersama sebagai mahasiswa. Jangan ada lagi pelecehan yang dilakukan negara tetangga macam Malysia, Singapura, maupun Australia yang diakibatkan karena, rendahnya mutu kemampuan sumber daya manusia negeri kita Indonesia ini. Perjuangan dengan cara-cara menebar manfaat melalui pelatihan, pendidikan, maupun pengabdian kepada masyarakat perlu digalakkan. Bangun dan bergerak untuk tidak apatis terhadap permasalahan bangsa Indonesia melalui sebuah karya, prestasi, dan pendidikan.

Karena hakikat pendidikan itu, tidak cukup mengajarkan kita untuk harus menghormati perbedaan, tanpa benar-benar tau mengapa kita harus menjunjung tinggi, dan mengkolaborasikan keindahan di dalam perbedaan yang ada. Pendidikan tidak mengajarkan manusia untuk menjadi seorang robot, namun menjadi manusia yang tau akan mimpi-mimpinya dan mau untuk memperjuangkannya. Pendidikan bukanlan sumber ketakutan dan tekanan hingga mematikan imajinasi anak, namun dia adalah perantara dan simbol kebangkitan suatu peradaban.

Teruntuk mahasiswa hari ini “Jangan cuma berteriak untuk pro sebuah kemajuan” tapi tak mau tangan kotor dengan proses perubahan. Perubahan tak didapat dengan pengharapan mencela sebuah proses tapi perubahan akan di nikmati ketika kita berada dan berkontribusi dalam perubahan itu sendiri.

Sumber: http://www.kompasiana.com/www.fadrieltamimy.blogspot.com/mendobrak-gaya-baru-perjuangan-mahasiswa-di-era-milenium-asean-economy-community_5535b7e26ea8345629da42d5

Muhamad Fadhol Tamimy, Wakil Ketua Himpunan Mahasiswa Psikologi Universitas Mulawarman dan seorang mahasiswa psikologi yang bercita-cita menjadi seorang Profesor psikolog.