ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | SCHOLAE

Pendidikan Hati

06 Oktober 2015
Pendidikan Hati
Doni Koesoema A (Foto:Ist)
Oleh: Doni Koesoema A

Pembentukan karakter dan budi pekerti menjadi prioritas kebijakan pendidikan yang ingin dikembangkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan. Namun, kebijakan ini hanya efektif apabila pengembangan budi pekerti – meminjam istilah Blaise Pascal – menyentuh rasionalitas hati.

Ujaran Pascal yang terkenal, ”Hati memiliki akalnya sendiri, di mana akal tidak mengenalnya”, masih relevan.

Hati memang memiliki akal yang mengatasi rasionalitas logika manusia yang mendasarkan diri pada hukum-hukum formal. Hidup manusia terlalu dangkal apabila hanya dinilai semata-mata dari dimensi formalnya. Pendidikan karakter yang abai terhadap dimensi rasionalitas hati bisa jatuh sekadar pada formalisme. Jika ini terjadi, pendidikan karakter tidak akan berhasil sebab setiap indoktrinasi bukan saja melemahkan akal, melainkan sekaligus mematikan nurani.

Fondasi kemanusiaan
Hati dan nurani adalah dua fondasi dasar kemanusiaan yang mampu melahirkan pemimpin besar. Pemimpin besar melihat dengan hati dan bertindak dengan nurani, baru kemudian dengan akal dan keterampilannya mendesain tatanan dunia baru yang lebih baik. Apabila pendidikan kita mau melahirkan para pemimpin bangsa yang besar, pendidikan hati dan nurani merupakan prioritas yang perlu diambil agar pendidikan mampu melahirkan para pembaru sejarah.

Telah lama, konon, katanya, pendidikan kita sangat timpang dan fokus pada pendidikan akal. Ironisnya, kajian-kajian internasional menunjukkan anak-anak Indonesia justru lemah dalam penggunaan akal. Anak-anak Indonesia ternyata kuat hanya dalam hal menghafal. Jika diminta menjawab pertanyaan dari bahan bacaan, anak Indonesia akan terlihat sangat pintar. Namun, begitu diminta menerapkan isi bacaan dalam persoalan nyata di kehidupan, anak-anak Indonesia mulai terlihat agak lambat. Kualitas penggunaan akal anak-anak Indonesia termasuk dalam pola berpikir tingkat rendah.

Pola berpikir tingkat rendah, seperti menghafal, memang harus dilalui siapa pun yang mau belajar. Bahkan, kekuatan menghafal ini, apabila diterapkan secara baik, bisa jadi sumber kekuatan pribadi yang luar biasa. Ia bisa menjadikan seorang jadi ahli bahasa. Kemampuan berbahasa sering kali terbantu apabila seseorang punya kekuatan menghafal yang luar biasa.

Ketika kemampuan berbahasa ini meningkat, otomatis konstruksi pemikiran logis dalam diri anak juga akan terbentuk. Jadi, kelirulah kita mengatakan bahwa pendidikan kita yang masih pada level menghafal ini adalah buruk.

Menghafal adalah salah satu tahapan dalam proses pendidikan. Namun, masih ada banyak tahapan lain, tantangan lain, yaitu cara berpikir tingkat tinggi yang perlu dikembangkan oleh siswa agar ia memiliki kemampuan berpikir kritis, analitis, sehingga mampu membangun sebuah sintesis dalam mengonstruksi realitas.

Cara berpikir tingkat tinggi yang sering digembar-gemborkan sebagai proses pendidikan yang unggul pun sebenarnya hanya salah satu dimensi proses pendidikan. Pascal jauh-jauh hari sudah mengingatkan bahwa hati memiliki akalnya sendiri yang tak dikenal oleh akal manusia. Ungkapan Pascal zaman itu merupakan tanggapan dari pola pendidikan sarat beban akal yang berpuncak pada ungkapan Descartes: Cogito ergo sum (Aku berpikir maka aku ada). Descartes contoh paling gamblang di mana eksistensi manusia hanya diredusir pada otaknya semata. Akibatnya, kehancuran demi kehancuran yang kemudian muncul. Puncak kehancuran dari rasionalitas manusia tampil nyata dalam peristiwa Perang Dunia II yang meluluhlantakkan kemanusiaan.

Perang Dunia II membawa manusia bertanya tentang arti kemajuan dan apa fungsi akal mereka. Sebab, pasti ada yang kurang apabila akal ternyata justru menyingkirkan nilai-nilai kemanusiaan itu sendiri. Tersingkirnya nilai-nilai kemanusiaan akibat pendidikan yang berat ke akal mengajak kita kembali melihat hati sebagai bagian penting dalam proses pendidikan.

Keterbatasan akal
Bagi kita adalah sangat menarik mencermati bagaimana publik dahulu mengidolakan pasangan Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama sebagai sosok pemimpin yang genial, memiliki keunikan dan kekhasan yang memberikan harapan. Mereka adalah sosok pemimpin yang mau memimpin dengan hati. Lahirnya dua sosok pemimpin ini membuat harapan kita tumbuh, bahwa akhirnya kita memiliki sosok pemimpin yang tegas dan berani, yang kata-katanya keras, dan kebijakannya tegas dalam membela hak-hak rakyat.

Mengapa harapan ini memudar belakangan ini? Karisma Joko Widodo, sosok harapan rakyat, ternyata harus berhadapan dengan kultur politik yang membelenggu, yang membuatnya tidak lagi bebas mengekspresikan mata hatinya kepada rakyat. Bahkan, Basuki Tjahaja Purnama pun, meskipun tetap tegas dan keras, sekarang lebih suka berlindung di balik alasan legal formal, terutama dalam kasus penggusuran warga Kampung Pulo, ketimbang memandang wajah-wajah warga kotanya dengan mata hati dan nurani.

Harus segera ada proses pendidikan yang melengkapi kekurangan ini. Penumbuhan budi pekerti yang menyentuh hati dan merawat nurani perlu didukung. Sebab, persis inilah saat ini yang defisit dalam pendidikan kita. Anak-anak kita perlu belajar tentang persoalan sosial di ruang-ruang yang steril dari bau keringat dan peluh orang-orang yang bergulat dan berjuang demi mempertahankan sepetak tanah dan mendapatkan sesuap nasi.

Pendidikan hati dan nurani perlu jadi salah satu alternatif eksposur, selain model formal yang sudah diinisiasi, seperti kewajiban upacara bendera dan menyanyikan ”Indonesia Raya”. Anak-anak Indonesia yang sedang belajar tidak akan mengenal siapa sesama mereka, sesama warga bangsa yang memiliki pengalaman berbeda jika mereka selama hidupnya tak pernah bertemu-berjumpa dengan sisi-sisi kemanusiaan yang lain, yang wajah-wajahnya hilang dalam banjir imaji dan citra media.

Pendidikan rasionalitas hati hanya bisa tumbuh sejak dini apabila anak-anak memiliki pengalaman berjumpa dengan wajah-wajah manusia lain yang terpinggirkan dan termarjinalkan yang hidup di pinggiran kali ataupun di tumpukan sampah.

Benar kata Pascal, hati memang memiliki akalnya sendiri yang tidak dikenal oleh akal manusia. Hanya melalui pengalaman perjumpaan mendalam terhadap kemanusiaan seperti ini, pendidikan kita mampu melahirkan pemimpin besar yang bisa memimpin bukan hanya dengan kekuatan akal, dan keberanian untuk bertindak, melainkan juga dengan hati. Karena wajah mereka yang tertindas, terpinggirkan, dan diperlakukan tidak adil adalah wajah mereka juga, wajah kemanusiaan Indonesia yang sedang meneriakkan keadilan.

Doni Koesoema A adalah  Pemerhati Pendidikan dan  Pengajar di Universitas Multimedia Nusantara

Tulisan ini pernah diterbitkan di harian Kompas.

Tags :

KOMENTAR