ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | SCHOLAE

Melatih Emosi Anak Lewat Permainan Menang-Kalah

09 Oktober 2015
Melatih Emosi Anak Lewat Permainan Menang-Kalah
Dokumentasi seorang anak mengeksplorasi wahana mainan pasar malam di Lapangan Astina, Gianyar, Bali, Sabtu (2/5) malam. Hiburan pasar malam dengan berbagai macam wahana mainan tradisonal dengan harga terjangkau menjadi salah satu alternatif hiburan yang diminati masyarakat. (ANTARA FOTO/Fikri Yusuf)
JAKARTA - Ada kalanya anak selalu ingin menang dan marah bila kalah dalam permainan kompetitif. Dokter spesialis anak, dr Markus Danusantoso, mengatakan, orangtua tidak membuat anak menjadi depresi karena kalah saat bermain.

"Mainan itu harus dibuat menyenangkan," kata dia dalam jumpa pers, di Jakarta, Rabu (7/10).

Justru, orangtua sebaiknya memanfaatkan permainan seperti itu untuk membimbing anak untuk memahami konsekuensi dari setiap perbuatan. "Misalnya catur, kita bimbing agar anak berpikir kalau jalan ke sini jadi kalah," ujar dia

Justru, anak diajarkan mengetahui ada dampak dari setiap pilihan langkah yang diambilnya, baik itu menang maupun kalah. Ajak anak berdiskusi agar dapat memutuskan pilihan yang tepat.

"Bimbing anak untuk memperbaiki kesalahan-kesalahannya," ujar dia. Permainan menang-kalah sebaiknya dipraktikkan saat anak sudah berusia di atas tiga tahun.

"Permainan 0-3 tahun sebaiknya tidak mengutamakan jadi pemenang, tapi mengajarkan anak untuk bisa mengetahui cara memainkan mainan," jelas dia.

Mendampingi anak saat bermain juga berguna agar dia dapat mengendalikan emosi saat mengalami kesulitan kala bermain. Orangtua dapat segera memberitahu solusi bila anak mengalami kendala.

"Kalau dia kesal atau bingung bagaimana cara mainnya, harusnya orangtua mendampingi dan bilang pelan-pelan bahwa anak tidak perlu emosi," papar dia.

Dengan demikian, anak dapat mengerti bahwa kesulitan dapat diatas bila dibantu tanpa perlu meledakkan kemarahan. Orangtua pun harus tanggap bila anak terlihat kebingungan saat bermain.

"Jangan tunggu sampai dia nangis kejer baru orangtua mendatangi," kata dia. Anak yang didampingi saat bermain lama kelamaan akan menjadi "master" permainan yang melatih mereka untuk menjadi mandiri.

Jenis Mainan
Orangtua perlu memilih mainan yang tepat untuk mengoptimalkan tumbuh kembang anak, kata spesialis anak dr. Markus Danusantoso.

"Memilih mainan harus ada nilai belajar untuk aspek tumbuh kembang," kata dokter yang berpraktik di RSU Bunda Menteng itu.

Selain itu, pilihlah mainan yang tidak berbahaya dan terbuat dari bahan bermutu. Sesuaikan juga mainan dengan usia anak. Sesuai dengan fungsinya, mainan juga harus menyenangkan bagi anak serta sederhana.

"Semakin besar, berikan anak mainan yang lebih kompleks," kata dia.

Pada bayi baru lahir, anak baru mulai belajar mengenali wajah, tersenyum, menyentuh dan menggenggam. Mainan yang tepat adalah yang bisa menstimulasi panca indera bayi, seperti mainan berwarna-warni yang dapat dapat digantung di atas ranjang bayi.

Ketika beranjak usia enam bulan, bayi sudah bisa memegang, memutar, melatih konsentrasi juga mengenal dan melatih memori warna serta urutan kecil hingga besar, begitu pula sebaliknya.

Bayi di tahap ini juga sudah bisa berbagi peran bermain bersama sehingga orangtua dapat ikut bergantian bermain untuk meningkatkan kemampuan interaksi sosial. Contoh mainan yang tepat adalah mainan cincin bersusun yang warna dan ukurannya bervariasi.

"Stacking dapat melatih pola pikir dan imajinasi. Anak diajak memikirkan bagaimana membuat bangunan yang kokoh," jelas dia.

Mainan dengan tekstur berbeda-beda juga dapat melatih anak mengenal jenis permukaan. Sedangkan mainan di mana anak harus memasukkan mainan sesuai bentuknya, misalnya kotak, lingkaran dan segitiga, dapat melatih koordinasi mata-tangan untuk

Memasuki usia 9 bulan, ujung jari anak mulai terlatih sehingga mainan yang menggunakan alat seperti stick cocok untuk mengembangkan kemampuannya.

Anak usia ini sudah mulai berjalan, mendorong, duduk dan jongkok. Mainan seperti "walker" yang didorong dapat melatihnya berjalan. Orangtua dapat mengecek apakah cara berjalan anak sudah benar, atau justru ada hal abnormal yang harus diperbaiki.

Usia di atas 12 bulan membutuhkan mainan yang dapat membuat anak melatih koordinasi mata-kaki saat berjalan, keseimbangan, belajar melompat dan melangkah. Anak juga mulai berlatih mengasah memori dan konsentrasi serta mengenal angka.

Mainan seperti mendandani boneka dengan pilihan baju dan aksesori seperti sepatu yang menuntut anak untuk membuka tutup kancing, resleting dan menyimpulkan tali cocok untuk usia di atas 18 bulan.

Mainan rumah-rumahan dengan berbagai perabotan dan hewan dapat melatih imajinasi sekaligus membuat anak mengenal benda-benda serta konsep ruang, mana bagian dalam, luar, atas bawah, pintu masuk dan pintu keluar.

Kendati demikian, Markus menegaskan bahwa keterlibatan orangtua dalam bermain sama pentingnya dengan variasi mainan yang diberikan.

Sumber: antaranews.com


Editor: Patricia Aurelia
KOMENTAR