ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | SCHOLAE

Masih Ada Guru Honorer Diganjar Cuma Rp78.000 Sebulan

15 Oktober 2015
Masih Ada Guru Honorer Diganjar Cuma Rp78.000 Sebulan
Dokumentasi ribuan guru honorer yang tergabung dalam PGRI menggelar aksi mogok dan berdemonstrasi di depan Gedung Parlemen, Jakarta, Selasa (15/9). Para guru honorer dari berbagai daerah di Tanah Air itu meminta pemerintah mengangkat mereka menjadi PNS. (ANT. FOTO)
KUPANG, NTT - Sebanyak tujuh guru honor di SDN Amsila Desa Nuanu yang berjarak 25 kilometer dari Kabupaten Kupang mendapatkan penghasilan cuma Rp78.000 perbulan," kata Kepala Sekolah SDN Amsila, Alexander Faot, di Kupang, Minggu.

"Dari tujuh guru itu ada tiga yang sarjana yang juga mendapatkan gaji sebesar itu," katanya.

Ia menjelaskan ketujuh guru honor tersebut sudah mengabdi di sekolah tersebut sejak sekolah itu dibangun dari 2013. Gaji-gaji para guru itu diperoleh dari dana yang dimiliki komite sekolah tersebut.

Faot menyayangkan selama kurang lebih tiga tahun tersebut tidak pernah ada guru berstatus PNS yang mau mengabdi di sekolah tersebut, selain dia.

"Di sekolah ini PNS-nya hanya saya sendiri, sisanya pegawai honor yang rela mengabdi demi pendidikan di daerah ini," ujarnya.

Dia menambahkan, sekolah yang baru dibangun pada 2013 tersebut memiliki 68 siswa dan hanya memiliki lima kelas. Karena itu, dia cukup kebingungan jika ada penambahan kelas baru.

"Kalau ada penambahan kelas baru, kelas enam, syarat utamanya khan yang mengajar adalah guru PNS. Sedangkan sampai sekarang kami belum mendapatkan guru PNS yang baru," katanya.

Terkait pendidikan dari sejumlah guru honornya, dia mengatakan, tiga guru yang sudah berstatus sarjana terdiri atas sarjana agama, sarjana ilmu pendidikan, dan sarjana olahraga. Sisanya guru-guru berstatus mahasiswa tetapi peduli dengan pendidikan di sana.

Sementara itu, Delsry Sonbay, guru agama di sekolah itu mengharapkan suatu hari nanti ia dan teman-teman gurunya bisa mendapatkan penghasilan yang sesuai dengan pengorbanan mereka.

"Selama tiga tahun kami sudah mengabdi untuk anak-anak di sekolah ini tetapi kami yakin suatu saat nanti akan ada balasan yang diberikan Tuhan buat kami," ujarnya.

Sonbay mengatakan, setiap hari harus menempuh perjalanan sepanjang empat kilometer memakai ojek.

"Ya uang yang kami dapat hanya bisa kami habiskan dalam kurun waktu satu sampai dua minggu, karena setiap naik ojek kami harus mengeluarkan uang dengan nominal Rp15.000," ujarnya.

Sumber: antaranews.com


Editor: Patricia Aurelia
KOMENTAR