ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | ARAH DESA

Mencari Strategi Penyusunan Konten Zaman Now

22 Desember 2018
Mencari Strategi Penyusunan Konten Zaman Now
Konten di era digital (Net)

JAKARTA, SCHOLAE.CO - Pemerintah saat ini harus memikirkan secara serius permasalahan pendidikan di era disrupsi. Hal tersebut terkait  kurikulum, pendidikan guru, hingga standar kompetensi kerja. Saat ini, mau tidak mau bidang Artificial Intelligence (AI) sudah harus dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah-sekolah menengah. Karena arus digital ini memang sudah tidak mungkin dibendung lagi. Pembiasaan paparan teknologi, perlu diajarkan sejak dini, sebelum memasuki dunia kampus.

Meskipun dalam pendidikan, ada berbagai aspek yang tidak bisa tergantikan oleh teknologi dan harus dilaksanakan secara tatap maka.

Maka, dalam sebuah pembahasan tentang pendidikan di era disrupsi, di Jakarta, beberapa waktu lalu,  dikemukakan bahwa pencarian titik tengah keseimbangan di era ini harus terus berjalan. Perguruan Tinggi beserta lembaga pendidikan lain perlu memikirkan ulang strategi penyusunan konten dan pengemasannya kepada masyarakat agar relevan dengan perkembangan zaman.

"Perubahan menjadi 100 persen digital untuk sektor pendidikan sukar dilakukan. Sebab, dalam pendidikan, ada berbagai aspek yang tidak bisa tergantikan oleh teknologi dan harus dan harus dilaksanakan secara tatap muka," kata Rektor Universitas Katolik  Atma Jaya Agustinus Prasetyantoko.

Prasetyantoko menjelaskan, era disrupsi muncul sejak krisis ekonomi pada 2008 yang mengakibatkan masyarakat tidak lagi sepenuhnya percaya kepada lembaga-lembaga konvensional, termasuk lembaga pendidikan seperti perguruan tinggi. Terlebih, dengan menjamurnya media sosial, informasi dan ilmu kini bisa didapat di berbagai lini, tidak hanya dari dosen dan buku teks.

Namun, masyarakat juga tidak bisa sepenuhnya percaya pada layanan berbasis daring. Hal itu disebabkan beberapa aspek yang manusiawi, seperti penanaman ideologi, pemahaman, mengembangkan kemampuan bekerja sama, empati, dan berpikir kritis masih memerlukan pertemuan langsung agar transfer nilai dan norma bisa berlangsung.

"Solusinya adalah blended learning, yaitu metode campuran. Materi yang bisa dibaca mahasiswa secara mandiri diberikan melalui daring berupa modul. Dosen dalam kuliah tatap muka bertindak sebagai fasilitator yang mengarahkan diskusi. Materi kuliah juga tidak lagi berdiri sendiri, tetapi lintas program studi dan disipli ilmu," kata Prasetyantoko.

Sejauh ini, perguruan tinggi dinilai tetap menjadi sumber ilmu yang relevan di era disrupsi. Alasannya, meski informasi beredar di berbagai kanal media sosial, perguruan tinggi akan terus memiliki pakar yang bisa dipertanggungjawabkan keahliannya. Segala informasi yang disampaikan di perguruan tinggi bisa ditelusuri rujukan ilmiahnya dan telah dibuktikan melalui riset.

"Perbedaan hanya pada pengemasan materi dan cara penyampaian yang lebih memanfaatkan medium daring. Dengan demikian, penyampaian materi tidak terpengaruh oleh jarak dan waktu," ujarnya.


Editor: Maria L Martens
KOMENTAR