ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | ARAH DESA

Belajar Keteladanan dari Tokoh-Tokoh Natal

18 Desember 2018
Belajar Keteladanan dari Tokoh-Tokoh Natal
Tokoh-tokoh Natal menurut Kitab Suci (foto: Tommy Martens)

NATAL senantiasa memberikan pesan tentang kesederhanaan sekaligus sukacita. Meski jaman berubah sesuai dengan eranya, tokoh-tokoh yang menjadi inspirasi perayaan Natal selalu ditampilkan. Entah dalam ibadat atau misa Natal maupun perayaan-perayaan bernuansa sosial atau seremoni.

Tidak hanya suasananya, momen Natal juga bisa digunakan untuk berkomunikasi dengan keluarga, khsususnya anak-anak, untuk mengingatkan kembali makna Natal sesuangguhnya. Yakni menebarkan damai dan sejahtera di dunia. Inilah teladan tokoh-tokoh dalam kitab suci yang terlibat seputar peristiwa kelahiran Yesus Kristus. Karakter yang mereka miliki ini bisa  dijadikan pedoman dalam kehidupan kita sehari-hari dan materi mengajarkan tentang kebaikan kepada anak-anak.

1.    Maria
Ia adalah seorang gadis muda yang masih perawan. Tuhan memilihnya untuk mengandung melalui kuasa Roh Kudus dan melahirkan Bayi Natal yakni Yesus Krsitus. Ketika Maria diberi kabar bahwa ia akan mengandung dan melahirkan seorang anak meski pada waktu itu ia belum bersuami, namun dengan penuh penyerahan pada Tuhan ia berkata: "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu."
Keteladanan yang perlu kita pelajari dari Maria adalah:
a.    Taat mengikuti panggilan Tuhan (Lukas 1:36).
b.    Dipenuhi Roh Kudus, salam yang diucapkannya pun menyebabkan anak di rahim Elizabet dipenuhi Roh Kudus (Lukas 1:39-41).
c.    Tunduk dan menghormati Yusuf, suaminya, (bandingkan dengan Efesus 5:22).
d.    Tahan menderita, misalnya ketika harus mengungsi ke Mesir (Matius 2:13-15).
e.    Seorang yang setia dan senantiasa mengucap syukur  (Lukas 1:46-55).

2.    Yusuf
Yusuf adalah seorang pria muda yang harus menerima kenyataan bahwa tunangannya Maria hamil sebelum mereka menikah. Tidak hanya itu, Yusuf pun diperhadapkan dengan kondisi dimana ia menjadi ayah dari Yesus yang bukan darah dagingnya. Yusuf sanggup menerima semuanya itu karena sifatnya yang penuh ketulusan.
Dengan ketaatannya itu, kita perlu meneladani ketulusan Yusuf yaitu:
a.    Hidup kudus (Matius 1:24-25).
b.    Melindungi istrinya di masa tekanan, yaitu ketika Herodes mengancam (Matius 2:13-23).

3.    Orang-Orang Majus
Konon orang-orang majus ini adalah para ilmuwan perbintangan. Ketika mereka melihat bintang Betlehem mereka mengartikannya bahwa sesuatu yang besar telah terjadi, yaitu kelahiran seorang tokoh terbesar sepanjang masa. Dengan berpedoman pada bintang itu, mereka mencari dan menemukan tempat kelahiran Yesus Kristus di kota Betlehem. Walaupun mereka harus mencari bayi selama itu namun mereka tidak putus asa. Dan ketika mereka menemukannya mereka menyembah dan mempersembahkan harata mereka kepada Sang Kristus.
Kisah ini mengajarkan keteladanan pula yakni:
a. Rendah hati meskipun mereka adalah orang kaya dan terpelajar, dan mau datang menyembah Yesus yang masih kanak-kanak (Matius 2:11a).
b. Hidup dalam pimpinan Tuhan (Matius 2:2, 9, 10, 12).
c. Memberi yang terbaik untuk Tuhan (Matius 2:11b).

4.    Para Gembala
Para gembala ini adalah golongan orang yang terpinggirkan dari tengah-tengah masyarakat umum. Walaupun demikian tetapi ternyata kepada kaum pinggiran inilah berita natal pertama diberitakan. Dan dengan sukacita mereka menyambut berita itu.
Kesederhanaan para gembala ini, mengajarkan beberapa hal yaitu :
a. Pengalaman rohani, bertemu para malaikat  dan pengalaman adikodrati (Lukas 2:9, 13-14).
b  Bertindak CEPAT: ("mereka 'cepat-cepat' berangkat menjumpai Maria" (Lukas 2:16)), tidak lamban, tidak menunda-nunda, iman yang responsif.
c. Tidak kuatir ketika harus meninggalkan harta mereka (ternak) karena mereka percaya bahwa Tuhan pasti memeliharanya.
d. Memuji dan memuliakan Tuhan (Lukas 2:20).



Editor: Maria L Martens
KOMENTAR