ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | ARAH DESA

Pendidikan Siaga Bencana Disesuaikan Karakteristik Lokal

02 Januari 2019
Pendidikan Siaga Bencana Disesuaikan Karakteristik Lokal
Simulasi menghadapi bencana (Net)

JAKARTA, SCHOLAE.CO - Sejak jaman dahulu, masyarakat Indonesia telah mengalami rangkaian bencana alam. Hal ini lantaran kondisi geografis Indonesia yang rentan dengan kebencanaan. Sehingga masyarakat setempat memanfaatkan tradisi lokal dalam mengantisipasi dan menghadapi bencana.

Berdasarkan pada fakta sejarah, peneliti Pusat Penelitian Kependudukan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Deni Hidayati mengatakan pendidikan siaga bencana harus disesuaikan dengan karakteristik lokal. "Pendidikan siaga bencana perlu disesuaikan dengan karakteristik lokal, yang tentu saja diperbaharui dengan kondisi kekinian," ujar Deni dalam diskusi di Jakarta, Rabu (2/1) dilansir Antara.

Masyarakat lokal mempunyai potensi pengetahuan karena memiliki kedekatan dengan alam yang dituangkan dalam bentuk syair maupun dongeng. Contohnya dongeng Smong di Simeulue, Aceh. Pada 1907, terjadi tsunami yang disebut warga setempat sebagai Smong. Kejadian itu membekas di benak masyarakat, sebagai pengingat ada syair yang bercerita tentang kejadian ini yang dituturkan dari satu generasi ke generasi. Isi syairnya menjelaskan jika terjadi gempa segera lari ke atas bukit tanpa perlu melihat laut surut.

Di Palu sejak lama dikenal adanya Nalodo atau yang dikenal dengan likuifaksi yakni fenomena pergeseran tanah. Pengetahuan lokal itu diperbaharui sesuai dengan kejadian bencana terbaru dan latihan terus menerus sehingga akan mudah diingat.

Dini juga mengingatkan pentingnya pendidikan siaga bencana baik formal dan nonformal. Pendidikan siaga bencana itu hendaknya dilakukan sesaat saja, namun berkelanjutan. "Simulasi perlu dilakukan berkala, juga ada perlunya lumbung desa untuk mengantisipasi kondisi bencana," cetus dia.

Peneliti bidang instrumentasi kebencanaan Pusat Penelitian Fisika LIPI, Bambang Widiyatmoko mengatakan adanya alternatif sistem peringatan dini selain buoy, yakni dengan menggunakan laser tsunami sensor. "Prinsip kerjanya mengirim cahaya dari darat yang ditembakkan ke dasar laut, lalu ada sensor di dasar laut yang kembali menembakkan cahaya itu ke pos pantau," kata Bambang.

Sensor itu ditempatkan dalam kabel fiber optik yang berada di dasar laut. Kabel itu terhubung dengan pos pemantau yang akan memancarkan cahaya laser dari ujung kabel ke ujung kabel lainnnya melalui sensor deteksi.

"Ketika terjadi pergerakan air laut yang tidak biasa atau ada tekanan berubah, sensor deteksi akan membelokkan cahaya yang akan menjadi tanda peringatan bahaya tsunami ke pos pemantau," tambah Bambang.

Terkait bencana longsor, LIPI mengembangkan sistem pemantauan gerakan tanah berbasis jejaring sensor nirkabel yang bernama LIPI "Wireless Sensor Network for Landslide Monitoring (WISELAND).

"Teknologi ini dapat digunakan untuk memantau bahaya gerakan tanah dalam maupun dangkal, baik pada lereng alami, potongan atau timbunan," kata Peneliti Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI, Adrin Tohari.


Editor: Maria L Martens
KOMENTAR