ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | ARAH DESA

Belajar Matematika dengan Cara Menyenangkan, Begini Metodenya!

03 Januari 2019
Belajar Matematika dengan Cara Menyenangkan, Begini Metodenya!
Matematikan metode Sakamoto (Net)

PERMULAAN sekolah tengah menjelang. Saatnya para siswa, khusus sekolah dasar dan menengah, memasuki semester baru dan menekuni berbagai matapelajaran. Salah satu matapelajaran yang umumnya dihindari anak-anak adalah matematika. Bagi sebagian anak bahkan pelajaran yang satu ini menjadi bidang yang tidak disukai. Apalagi bila harus berkutat dengan rangkaian rumus-rumus. Sudah sulit memahami, ditambah lagi harus menghapal rumus matematika tersebut.

Padahal bila diketahui triknya, matapelajaran berhitung ini terbilang mengasikan. Tidak seseram yang diduga anak-anak. Untuk mengatasinya, orangtua tentu perlu mendampingi dan membantu anak memahami pelajaran matematika sehingga terasa lebih menyenangkan. Beruntung saat ini banyak sekali tempat kursus matematika yang bisa dipilih. Berikut beberapa pilihan tempat kursus matematika dengan metode yang berbeda:

Math Monkey

Ciri utama metode ini adalah 'permainan'. Karena memang dalam memelajari metematika, Math Monkey menerapkan kurikulum berbasis games. Di mana tempat kursus matematika ini sudah bisa diikuti oleh anak-anak berusia 3 tahun sampai 12 tahun.

Salah satu metode yang diterapkan tempat kursus yang berasal dari Amerika Serikat ini adalah Vedic Math yang diklaim sebagai salah satu metode tercepat di dunia.
Ada beberapa kelebihan metode vedic math. Di antaranya adalah anak bisa memilih cara berhitung paling sesuai dengan kemampuan mereka, meningkatkan kemampuan konsentrasi, kreativitas, meningkatkan daya ingat anak, bahkan mengembangkan kemampuan otak anak. Dengan menerapkan metode berbasis games dan vedic math, diharapkan dapat membantu anak belajar matematika lebih cepat dan menyenangkan.

MPM (Multi Process Model)

MPM merupakan sistem matematika yang dirancang menggunakan konsep Multi-Process dan Multi-Concept mathematics. MPM ini telah ada sejak tahun 1989 dan memiliki lebih dari 100.000 siswa di seluruh dunia, salah satunya di Indonesia.

Program matematika MPM ini diperuntukan anak usia 4 hingga 12 tahun. Motodenya tidak berbeda jauh dari Kumon, sistem yang dipersonalisasi untuk setiap siswa yang fokus untuk melatih anak belajar mandiri dengan minimal intervensi dari instruktur.

MPM ini juga mengklaim kalau sistem yang diterapkannya akan membantu anak mengembangkan keterampilan mereka dalam pemecahan masalah dan berpikir logis mandiri melalui Personalised System of Learning (PSL). Yaitu, anak dilatih untuk memecahkan masalah dalam Aljabar, Geometri, Koordinat Pesawat, dan berbagai bidang matematika. Semuanya dikemas dengan sistem belajar yang menyenangkan sehingga anak bisa memahami konsep-konsep matematika tanpa tekanan.

Kursus matematika di Kumon

Metode Kumon didirikan oleh Toru Kumon di Osaka, Jepang pada 1954. Toru mengembangkan metode ini saat menjadi guru matematika SMA.
Dikutip dari laman Kumon Global, metode kumon merupakan metode belajar perseorangan. Artinya, untuk masuk di awal, akan ditentukan secara perseorangan. Sehingga level yang diikuti tidak tergantung pada usia ataupun pada sekolah anak.

Lembar kerjanya telah didesain sedemikian rupa sehingga siswa dapat memahami sendiri bagaimana menyelesaikan soalnya. Jika siswa terus belajar dengan kemampuannya sendiri, ia akan mengejar bahan pelajaran yang setara dengan tingkatan kelasnya dan bahkan maju melampauinya. Tujuan utama belajar matematika di Kumon untuk membentuk dasar matematika yang kuat pada anak. Oleh karena itulah belajar matematika di Kumon tidak bisa dilakukan secara instan.

Sakamoto

Metode Sakamoto ini pertama kali diperkenalkan di Jepang oleh Dr Hideo Sakamoto yaitu sejak 1980, dan telah berkembang di beberapa negara, salah satunya adalah Indonesia.

Ciri utama metode sakamoto adalah berfokus pada soal cerita yang memiliki bobot nilai tinggi dalam pelajaran matematika di sekolah dan telah disesuaikan dengan kurikulum. Metode Sakamoto ini menekankan menggunakan pemikiran yang logis dan analitis. Metode Sakamoto dianggap efektif membantu anak sekolah mulai dari tingkat sekolah dasar dalam menguasai metematika dengan cepat dan mudah. Karena dengan metode ini, siswa diajarkan tentang problem solving, logical thinking, dan creative thinking melalui pelajaran matematika.

Perbedaan Kumon dan Sakamoto

Umumnya yang beredar di masyarakat, Metode Kumon lebih populer dibanding pembelajarang sejenis, termasuk cara belajar Sakamoto.  Lantas, apa perbedaan Kumon dan Sakamoto?  Meskipun kedua metode ini berasal dari Jepang, namun keduanya memiliki berbedaan dalam sistem belajar.

Tujuan utama belajar matematika di Kumon untuk membentuk dasar matematika yang kuat pada anak. Oleh karena itulah belajar matematika di Kumon tidak bisa dilakukan secara instan. Selain itu juga untuk membantu para orangtua membentuk anak menjadi individu yang mandiri. Andal dan cakap menentukan jalan hidupnya sendiri.

Perlu diketahui bahwa belajar matematika menggunakan metode Kumon ini bisa diterapkan pada anak usia pra-sekolah. Sebab pada pelajaran Matematika Kumon, materi dimulai dari konsep pengenalan bilangan, yang dapat diberikan kepada anak yang belum bisa memegang pensil sekalipun. Sedangkan ciri utama metode sakamoto adalah berfokus pada soal cerita yang memiliki bobot nilai tinggi dalam pelajaran matematika di sekolah dan telah disesuaikan dengan kurikulum. Metode Sakamoto ini menekankan menggunakan pemikiran yang logis dan analitis.

Adapun target dari metode ini adalah, siswa dapat memahami soal, kemudian berpikir secara logika atau menganalisis soal tersebut, serta mengembangkan kreativitasnya untuk memecahkan soal tersebut.

Nah, sebagai orangtua dan guru, tentu bisa memutuskan metode apa yang tepat bagi anak untuk membantu mereka mempelajari matematika, tentunya dengan cara yang fun dan menyenangkan. Sehingga dengan demikian, mudah memahaminya bahkan tertarik mendalami matapelajaran ini.


Editor: Maria L Martens
KOMENTAR