ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | ARAH DESA

Di Masa Depan, Pekerja Bersaing dengan Mesin

04 Januari 2019
Di Masa Depan, Pekerja Bersaing dengan Mesin
Tren industri masa depan (Net)

MENTERI Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir mengatakan pengelolaan perguruan tinggi harus dimodifikasi untuk menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Pemerintah pun menginginkan agar Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi menjadi lebih terbuka, fleksibel dan bermutu. Untuk itu, perlu membuat ekosistem riset, teknologi dan pendidikan tinggi yang mampu memenuhi kebutuhan pasar, yaitu masyarakat dan industri.

Pernyataan Menristekdikti bukan hanya sekedar retorika. Banyak lapangan kerja yang ada saat ini yang tidak ada 10 tahun lalu. Dan sepuluh tahun dari sekarang, serbuan teknologi kemungkinan akan menggantikan banyak lapangan kerja yang ada hari ini.

Ke depan, era teknologi dan mesin bakal menggantikan tenaga manusia. Meskipun pada kenyataanya, lapangan kerja yang membutuhkan pemikiran kritis akan sulit digantikan oleh robot.

Soft skills seperti ketrampilan berkomunikasi, manajemen waktu, dan bekerja dalam tim akan membantu para pekerja untuk tetap mendapatkan lapangan kerja di masa yang akan datang. Kemampuan ini sudah barang tentu tidak dimiliki oleh mesin maupun kecanggihan teknologi.

Tidak cuma di Indonesia, yang perlu mempersiapkan tenaga-tenaga terampilnya bersaing dengan mesin atau teknologi. Laporan yang dimuat dalam Voice Of America (VOA) yang dirilis kemarin menyebutkan bahwa banyak SMA dan universitas di AS yang tidak mengikuti perkembangan teknologi dan mempersiapkan siswa-siswanya. “Mereka mengajarkan hal-hal yang sudah ketinggalan zaman karena hal-hal itu yang diajarkan oleh para profesor,” ujar Jane Oates, ketua umum Working Nation, sebuah kampanye untuk membantu pekerja Amerika mempersiapkan lapangan kerja di masa yang akan datang.

Ia menyarankan agar sekolah-sekolah mempekerjakan staf pengajar dengan latar belakang industri dan mengembangkan program magang bersama para profesional di bidang industri. “Di abad ke-21, anda tidak akan pernah berhenti belajar dan beradaptasi serta membayangkan bagaimana anda dapat menjadi bagian dari paradigma baru,” ujar Oates.

Di Indonesia, perguruan tinggi yang mengembangkan teknologi adalah Universitas Bunda Mulia. Kampus ini menjadi pelopor dan universitas pertama yang memiliki program studi Bisnis Digital dengan gelar Sarjana Bisnis Digital (S.BD). Program studi ini  diharapkan mampu menghasilkan para lulusannya dapat menghadapi tantangan dan perubahan di Indonesia untuk mampu bekerja dan siap menciptakan bisnis di dunia digital.

Tercatat pada 2020 nanti transaksi e-commerce di Indonesia diharapkan mampu  melampaui 130 milliar dollar atau setara dengan  1.755 triliun. Hal ini merupakan peluang yang besar untuk memasuki Bisnis Digital.  Maka program studi bisnis digital tersebut sebagai bentuk apresiasi dan dukungan terhadap kegiatan pemerintah yaitu Revolusi Industri 4.0 “Making Indonesia 4.0”.Program memiliki kekuatan pada pembelajaran bisnis digital dan teknologi digital, dengan pengembangan pada penguasaan bismis start up digital, market place, big data, hingga artificial intelligence.


Editor: Maria L Martens
KOMENTAR