ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | ARAH DESA

Akses Perpustakaan Indonesia Timur Masih Minim

07 Januari 2019
Akses Perpustakaan Indonesia Timur Masih Minim
Literasi Indonesia timur masih rendah (Net)

JAKARTA, SCHOLAE.CO - Penggalian pengetahuan bagi siswa, khususnya ditingkat dasar, tidak hanya dengan pembelajaran melalui buku-buku sekolah. Referensi lain yang menunjang pengetahuan melalui literasi bacaan, juga sangat dibutuhkan.

Karena literasi yang baik menjadi modal penting untuk mencapai pembelajaran berkualitas. Sayangnya, kesempatan mendapatkan literasi yang baik tersebut, belum didapatkan secara maksimal oleh para siswa yang bermukim di Indonesia timur. Bahkan bisa dikatakan tertinggal, dibanding dengan siswa provinsi lain.

Akses pada buku bacaan yang terbatas membuat kemampuan membaca siswa, secara khusus di kawasan Indonesia timur, tertinggal. Padahal, kemampuan membaca yang baik dibutuhkan untuk mendorong prestasi belajar siswa di sekolah.

Berdasarkan data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, jenjang SD di lima provinsi di Indonesia timur, yakni Maluku, Maluku Utara, Nusa Tenggara Timur, Papua, dan Papua Barat, terdata 11.746 SD. Namun, sekolah yang punya perpustakaan hanya 6.410 SD atau sekitar 54 persen. Terendah keberadan perpustakaan sekolah di SD ada di Papua (29,9 persen) dan Papua Barat (39,4 persen).

Ketertinggalan siswa di Indonesia timur dalam mengakses buku bacaan yang terdampak pada kemampuan membaca terungkap dari pemaparan yang disampaikan Nila Tanzil, selaku pendiri Taman Bacaan (TB) Pelangi Jakarta.

Nila mengatakan, kemampuan membaca merupakan modal dasar anak dalam mewujudkan potensi diri. Untuk mengembangkan kemampuan tersebut, anak perlu memiliki akses ke buku berkualitas.

Menurut Nila, dirinya mendirikan TB Pelangi sejak 2009 untuk fokus meningkatkan minat baca anak-anak di kawasan Indonesia timur.  Dia merasa terpanggil membantu menyediakan buku-buku bacaan menarik bagi siswa agar dapat meningkatkan kemampuan membaca. Nila menambahkan, TB Pelangi punya 104 perpustakaan sekolah ramah anak yang tersebar di 17 pulau di Indonesia timur. Mayoritas berada di daerah tertinggal.

Nila mengutip perbandingan hasil asesmen membaca kelas awal (EGRA) siswa SD di Indonesia. Para siswa di Jawa/Bali mampu mencapai 59 kata per menit, sedangkan di Indonesia timur hingga 29 kata per menit. Padahal, siswa dikatakan lancar membaca jika mencapai 50 kata per menit. Pemahaman siswa terhadap bacaan sekitar 49 persen. Hasil ini terendah dari daerah lain yang mampu mencapai di atas 60 persen.

"Kami fokus mengembangkan perpustakaan sekolah ramah anak. Sebab, dengan perpustakan yang desainnya menarik dan beragam buku bacaan yang sesuai kemampuan membaca anak, para siswa jadi berminat membaca," kata Nila.

Penguatan perpustakaan sekolah dinilai lebih berkelanjutan karena semua guru dan orangtua diajak terlibat. Kemudian, ada keharusan menambahkan matapelajaran kunjungan perpustakaa selama satu jam pelajaran per minggu.

Menanggapi hal itu, Staf Ahli Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bidang Hubungan Pusat dan Daerah James Modouw, mengakui perpustakaan menjadi hal yang terlupakan dalam pembangunan sekolah. Padahal, keberadaan perpustakaan adalah hal strategis. Upaya untuk meningkatkan minat baca didorong lewat gerakan literasi sekolah. Kemendikbud, tambah James, menyediakan buku bacaan digital yang bisa diunduh dan dicetak di daerah.

James mengatakan, akses siswa pada beragam buku bacaan berkualitas dapat menumbuhkan karakter dan membangun kecakapan literasi dasar. Menurut dia, membaca tidak hanya cukup dengan lancar, tetapi perlu ada pemahaman dan kemampuan menjelaskan kembali. Selain itu, membaca juga merangsang logika dasar anak.

Ia juga mengapresiasi komitmen TB Pelangi yang membantu pemerintah. Adanya semangat kesukarelawanan masyarakat dapat membantu pemerintah mengatasi kesenjangan pendidikan, terutama di Indonesia timur.

TB Pelangi berhasil membuat perpustakaan kembali diminati. Keberhasilan itu diantaranya terlihat di sejumlah sekolah di Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur, yang mendapatkan program perpustakaan sekolah dari TB Pelangi.


Editor: Maria L Martens
KOMENTAR