ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | ARAH DESA

Memahami Pembelajaran Kreatif yang Aplikatif

10 Januari 2019
Memahami Pembelajaran Kreatif yang Aplikatif
Audiensi diseminasi buku Belajar Itu Proses Kreatif karya Prudensius Maring (Istimewa)

JAKARTA, SCHOLAE.CO - Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI menggelar audiensi diseminasi buku pada Selasa (08/01) di Jakarta. Buku yang dibahas berjudul “Belajar Itu Proses Kreatif” karya Dr. Prudensius Maring. Audiensi ini berlangsung atas koordinasi Kementerian Sekretariat Negara RI dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI sebagai jawaban atas permohonan Institut Antropologi Kekuasaan (Institute for Anthropology of Power).

Menurut Dr. Hurip Danu Ismadi, M.Pd selaku Kepala Pusat Pembinaan pada Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, diskusi diseminasi buku merupakan agenda terinstitusi yang sering dilakukan. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa sebagai bagian dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyambut baik prakarsa penerbitan buku bertema pembelajaran. Buku ini memperkaya bahan bacaan berupa cerita rakyat untuk anak-anak yang diterbitkan dalam 179 judul buku dan sekitar 280 judul dalam bentuk CD (compact-disc) oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.

Hasil audiensi diharapkan jadi titik awal koordinasi dengan direktorat dan badan lain di lingkup Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan terkait pembinaan keluarga, pendidikan dasar-menengah, penelitian dan pengembangan, Balai Bahasa di tingkat provinsi, dan gerakan literasi nasional.

Hal senada dikemukakan Dr. Nilam Suri selaku Kepala Bagian  Kerjasama dan Hubungan Masyarakat agar ke depan perlu ditautkan dengan Gerakan Literasi Nasional, IKAPI, dan Dinas Pendidikan. Hal serupa disampaikan Dr. Tengku Syarfina, M.Hum selaku Kepala Bidang Pembelajaran yang melihat bahwa gagasan buku ini bisa berkontribusi dalam kegiatan bimbingan teknis yang dijalankan secara terprogram dan dijaringkan dengan mitra lain dalam bidang pembelajaran.

Halfday audiensi diseminasi buku Belajar Itu Proses Kreatif dihadiri 20 orang peserta terdiri dari pimpinan dan staf di lingkungan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa dan Institut Antropologi Kekuasaan. Kegiatan ini secara khusus dipersiapkan oleh Bidang Pembelajaran.

Belajar Itu Proses Kreatif

Di awal diskusi, penulis menyampaikan bahwa buku dengan judul lengkap “Belajar Itu Proses Kreatif: Pengalaman Bermakna Bersama Anak Sejak Prasekolah Hingga Perguruan Tinggi” lahir dari motivasi sederhana. Niatnya agar pengalaman 22 tahun mendampingi anak menjadi lebih bermakna dan tidak mudah dilupakan. Dalam proses itu terkuak kesadaran bahwa buku ini pun bisa berkontribusi untuk mengurai benang kusut pembelajaran dan pendidikan kita.

Banyak orang berteriak meminta fasilitas pendidikan berkarakter. Padahal kebiasaan “berteriak keluar” itu bertentangan dengan sifat dasar pendidikan karakter yang butuh kekuatan motivasi dari dalam diri kita. Urusan pendidikan kerap lebih disorot soal pemenuhan infrastruktur fisik-sosial penyelengga­raan tapi tidak diikuti spirit belajar yang kuat. Hal itu tidak mencitrakan sifat hakiki dari belajar sebagai sebuah proses mental-psikis yang proak­tif, bersifat kreatif, dan bersumber dari dalam diri insani. 

Gambaran di atas terlihat dalam Prolog buku dan 23 testimoni pakar dan praktisi pendidikan, juga terlihat dalam kata pengantar dari Dr. Francisia S. S. Ery Seda  dan catatan Editor Dr. Endang Moerdopo. Isi buku menguraikan 3 fase penting pendidikan anak. Pertama: Fase pendasaran nilai dan makna belajar. Ini adalah fase bermakna pada masa prase­kolah, sekolah dasar, hingga sekolah menengah pertama. Orangtua berjuang menemukan nilai-nilai yang menjadi landasan pendidikan agar mampu mendinamisasi proses pendidikan anak secara kreatif, tidak sekadar beban rutinitas.

Kedua: Fase kreasi belajar dan pilihan minat anak secara persuasif. Ini adalah fase bermakna pada jenjang pendi­dikan menengah atas. Anak-anak menentukan pilihan bidang ilmu yang diminati. Pendampingan orangtua dan guru penting pada tahap ini agar pilihan berbasis pada minat anak.  Ketiga: Fase penguatan nilai tambah, kapasitas, dan kemandirian anak. Ini adalah fase bermakna pada jenjang perguruan tinggi. Anak-anak tidak hanya berkutat dengan proses pembelajaran terstruktur. Secara dinamis anak-anak mengkreasi nilai tambah untuk bekal kehidupannya.

Belajar kreatif bertujuan mencari tahu apa yang kita tidak tahu dan menambah apa yang kita belum tahu. Dalam Epilog ditegaskan bahwa proses belajar kreatif hanya bisa terjadi jika digerakkan sejumlah simpul belajar. Simpul-simpul itu meliputi sikap membuka diri dan mau belajar, merawat sikap kreatif, kreatif belajar dari pengalaman, menerap­kan metode sederhana, menjaga ketuntasan belajar, dan berorientasi pada hasil jamak yaitu memperkaya pengetahuan, ketrampilan, dan sikap-perilaku.

Menjadi Lebih Aplikatif

Berbagai masukan dan apresiasi atas buku ini bermuara pada kontribusi pemikiran tentang cara mentransformasi isi buku ini kepada masyarakat luas. Bagaimana cara agar buku ini dikenal secara luas? Pikiran alternatif yang mengemuka adalah perlu dijaringkan dengan mitra kerja yang memiliki kepedulian dan bidang tangggung jawab yang serupa. Mitra kerja terkait bisa dalam ruang lingkup instansi pemerintah maupun lembaga infomal dan jaringan komunitas.

Strategi diseminasi dan promosi gagasan tentang belajar kreatif harus dilakukan melalui media cetak, media on-line, dan media sosial. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa melalui unit kerja yang ada bisa memfasilitasi dan membantu upaya membangun jaringan dan strategi promosi gagasan belajar kreatif agar bisa diakses masyarakat. Pokok pikiran lain dari diskusi adalah pentingnya kemasan substansi dan metode penyampaian kepada masyarakat.

Secara substansi, pesan utama buku ini harus fokus pada kekuatan “proses belajar kreatif”. Apa yang beda, apa yang baru, apa yang unik, dan apa yang istimewa dari “belajar kreatif”. Simpul-simpul belajar kreatif yang dikemukakan pada bagian Epilog harus dikemas secara aplikatif untuk pembaca dan masyarakat. Upaya ini penting jadi perhatian semua pegiat literasi dan pembelajaran agar minat baca dan literasi masyarakat makin kuat.

(Kontributor: Prudensius Maring)


Editor: Maria L Martens
KOMENTAR