ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | ARAH DESA

Indonesia Kekurangan Doktor

22 April 2015
Indonesia Kekurangan Doktor
Panglima TNI Jenderal TNI Moeldoko meraih gelar Doktor dengan predikat sangat memuaskan di bidang Ilmu Administrasi karena telah berhasil mempertahankan disertasinya berjudul “Kebijakan dan Scenario Planning Pengelolaan Kawasan Perbatasan di Indonesia” (Studi Kasus perbatasan darat di Kalimantan),
Jumlah doktor di Indonesia baru mencapai 75.000 orang. Sementara di China memiliki 500.000-an doktor. Indonesia menargetkan  akan menghasilkan sekitar 4.000 orang meraih gelar doktor. Sehingga pada tahun 2025, Indonesia bisa mempunyai 52.000 orang bergelar doktor.
    

Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Wamendikbud) Musliar Kasim menilai, Indonesia masih jauh ketinggalan untuk memiliki sumber daya manusia (SDM) bertitel doktor atau lulusan strata tiga (S3) sehingga pemerintah menargetkan ada 4.000 orang lulus doktor setiap tahunnya.
   
"Untuk mencapai target SDM dengan titel doktor itu, pemerintah melakukan berbagai upaya, seperti memberi beasiswa," ujarnya di Medan, Sabtu (1/3).
   
Dia mengemukakan hal itu saat menghadiri wisuda sarjana, pascasarjana S2 dan S3 di Universitas Islam Sumatera Utara lulusan 2013-2014.
   
Menurut dia, hingga saat ini jumlah doktor di Indonesia baru sebanyak 75.000 orang, sementara di China memiliki 500.000an doktor.
   
"Jika hitungan jumlah penduduk Indonesia seperlima China, maka untuk menyamainya, setidaknya jumlah lulusan S3 kita sudah ada 100.000 orang dari 75.000 orang dewasa ini," katanya.
   
Untuk itu, menurut dia, para lulusan S1 dan S2 perrlu memperkuat semangat untuk mencapai gelar doktor.
   
Selain harus melanjutkan pendidikan, kata Musliar, lulusan S1 juga tidak terlalu terfokus pada penerimaan calon pegawai negeri sipil (CPNS).
   
"Selain penerimaan CPNS semakin terbatas, lapangan pekerjaan lain termasuk untuk menjadi wirausahawan semakin cukup luas," katanya.
   
Dia menyebutkan, skala ekonomi Indonesia masuk 15 besar dunia. "Dengan kondisi itu, bisnis apa saja di Indonesia berpeluang berkembang besar. Tentunya harus ada kemauan dan kerja keras," katanya menambahkan seperti dikutip www.antaranews.com.
   
Dalam kesempatan lain, saat menghadiri peresmian sebuah sekolah swasta internasional beberapa waktu lalu, Musliar mengatakan Indonesia menargetkan akan mencetak masyarakat Indonesia yang meraih gelar doktor sebanyak 4.000 per tahun. Hal ini untuk mendukung Masterplan Percepatan Pembangunan dan Perluasan Indonesia (MP3I) yang dicanangkan Pemerintah Pusat.
   
Untuk itu kata dia  Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan akan bekerja keras memberikan beasiswa kepada seluruh masyarakat Indonesia, tidak hanya Pegawai Negeri Sipil (PNS) saja untuk memenuhi target tersebut. Sehingga pada 2025 mendatang, Indonesia dapat memiliki 52.000 doktor dalam berbagai bidang ilmu dan pengetahuan.
   
Kemendikbud RI bersama berupaya membuat road map perkembangan sumber daya manusia (SDM) di bidang pendidikan dalam rangka mewujudkan MP3I di Indonesia.
   
Kemendikbud juga menargetkan akan menghasilkan sekitar 4.000 orang meraih gelar Doktor dalam satu tahun. Sehingga pada tahun 2025, Indonesia bisa mempunyai 52.000 orang bergelar doktor yang akan turut membangun percepatan ekonomi Indonesia.
   
“Target ini kami lakukan karena belajar dari China. Hingga saat ini, China bisa menghasilkan 500.000 orang bergelar doktor. Melihat itu, untuk sementara ini kami baru menargetkan 4.000 orang bergelar doktor per tahunnya. Tetapi angka tersebut masih kurang. Seharusnya targetnya ditingkatkan menjadi 100.000 orang dapat meraih gelar Doktor melalui beasiswa,” ujarnya.
   
Kalau selama ini, lanjutnya, beasiswa doktoral hanya diberikan kepada PNS, kini Kemendikbud merencanakan beasiswa doktoral dapat diakses juga oleh masyarakat umum. Sebab, masyarakat Indonesia juga harus turut berpartisipasi dalam pembangunan Indonesia dan percepatan pertumbuhan ekonomi.
   
“Mudah-mudahan dengan langkah ini kami dapat meningkatkan kualitas pengembangan SDM di Indonesia melalui jalur pendidikan,” ujarnya.

Berlomba Mencetak Doktor
Guna mengisi kebutuhan dosen bergelar Doktor, kini berbagai perguruan tinggi berlomba menyekolahkan dosennya untuk melanjutkan studi S3 baik di dalam negeri maupun di luar negeri.
   
Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) misalnya  hingga 2015 mendatang menargetkan telah memiliki sebanyak 212 dosen berkualifikasi Doktor (S3).
   
“Saat ini ada sekitar 160 dosen UMS yang menempuh studi S3 di dalam dan luar negeri,” jelas  Rektor UMS, Prof Dr. Bambang Setiaji beberapa waktu lalu.
   
Bila seluruhnya lulus dalam dua tahun mendatang maka, menurut Bambang, UMS akan memiliki 40 persen atau sekitar 212 dosen bergelar doktor. Banyaknya dosen yang menempuh studi di luar negeri ini tak lepas dari upaya UMS untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia  dan memperluas wawasan tenaga pendidik.
   
Beberapa negara yang menjadi tujuan dosen UMS menempuh studi S3 di antaranya Inggris, Australia, Amerika, Jepang, Belanda, dan Malaysia. Studi S3 di luar negeri atas beasiswa yang diperoleh dari pemerintah, Islamic Development Bank (IDB), dan AusAID.
   
“Adapun beasiswa dari yayasan Muhammdiyah lebih banyak menyasar untuk studi lanjut di perguruan tinggi di kawasan ASEAN,” ungkapnya.
   
Universitas Hasanuddin, Makassar pada awal Oktober 2013 lalu menyambut      141 dosen yang baru saja menyeleseikan studi doktoralnya baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Penyambutan dilakukan  Rektor Universitas Hasanuddin Prof. Dr dr Idrus A.
   
Dari 141 dosen tersebut, 32 dosen di antaranya berhasil menyeleseikan studinya di luar negeri, yakni Jepang, Australia, Malaysia, dan Korea, dan selebihnya menyeleseikan studinya di dalam negeri. Acara penyambutan tersebut berlangsung di Gedung Rektorat Unhas, Lantai I, Rabu (2/10).

Idrus Paturusi mengungkapkan bahwa ini merupakan sebuah kebanggaan yang luar biasa, karena menurutnya, universitas lain sulit untuk menerima 10 saja dosen bergelar doktor, namun Unhas justru menerima sebanyak 141 doktor baru sekaligus.
   
“Saat ini kita telah memiliki doktor lebih dari 700 dan ini merupakan modal dasar yang kuat agar Unhas bisa lebih maju ke depannya,” ujarnya seperti dikutip dari situs www.unhas.ac.id.
   
Selain itu berkaitan dengan kebijakan pemerintah, Idrus juga menyampaikan bahwa tahun ini Unhas menerima Bantuan Operasional Perguruan Tinggi Negeri (BOPTN) sejumlah 63 milyar lebih. Sedangkan untuk tahun depan BOPTN tersebut akan naik dan banyak alokasi untuk kegiatan penelitian.
   
Hingga tahun 2015 mendatang, Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta menargetkan separo dari staf pengajarnya berkualifikasi doktor dan profesor. Karena itu, PTN terbesar di Kota Solo tersebut mendorong agar dalam dua tahun ke depan, setidaknya terdapat 1.600 dosen yang doktor atau profesor.
   
"Target kami separuh lebih dan sekarang total ada 1.600 dosen (di UNS), bisa mendapatkan gelar doktor dan sebagian lainnya menjadi guru besar. Kami terus menerus mendorong teman-teman untuk menjabat anugerah jabatan tertinggi tersebut," kata Rektor UNS Ravik Karsidi kepada pers belum lama ini.
   
Lulusan bergelar akademik doktor  kata dia  merupakan syarat untuk mencetak guru besar. Dikemukakannya bahwa kini ada 247 dosen UNS yang bergelar doktor dan saat ini pihaknya tengah mendorong mereka untuk segera mendapatkan jabatan tertinggi menjadi guru besar. Apalagi dalam waktu yang bersamaan, UNS juga tengah menyekolahkan sejumlah 326 orang untuk jenjang Strata Tiga (S-3) dan meraih gelar doktor.
   
Universitas Surya seperti disampaikan Yohanes Surya kepada pers saat ini telah memiliki 200 dosen bergelar doktor. Dalam lima tahun ke depan, jumlahnya bertambah menjadi seribu doktor. 
   
Dengan dosen bergelar doktor sebanyak itu, sambung Yohanes, Universitas Surya sudah bisa menyamai universitas-universitas top di dunia.

Sumber: Harian sore Sinar Harapan


 

Editor: Farida Denura
KOMENTAR