ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | ARAH DESA

Perlu Terobosan Pendidikan Atasi 'Mismatch'

16 Februari 2019
Perlu Terobosan Pendidikan Atasi 'Mismatch'
Ananto Kusuma Seta (Net)

JAKARTA, SCHOLAE.CO - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan akui profesi pekerjaan yang diampu lulusan perguruan tinggi, banyak yang tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan. Kondisi ini disebut "Mismatch" atau ketidaksesuaian pekerjaan dengan latar belakang pendidikan.

Kondisi ini masih menggantung sejak 2017 lalu. Data BPS per bulan Agustus 2018 menyebutkan jumlah pengangguran di pendidikan tinggi cenderung meningkat jika dibandingkan 2017 pada bulan yang sama.

Diakui Ahli Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bidang Inovasi dan Daya Saing Ananto Kusuma Seta, dari seluruh tenaga kerja yang ada di Indonesia, lebih dari 40 persennya mismatch.

Ia menyebutkan dalam hal ini terjadi "horisontal mismatch" dan "vertikal mismatch". "Untuk "horisontal mismatch" ini yaitu seorang lulusan Fakultas A yang seharusnya bekerja jenis A tetapi harus bekerja jenis B yang tidak dipelajari dalam kurikulum. Sebetulnya tidak apa-apa, tetapi jadinya mubazir," ungkapnya pada Seminar Nasional dengan tema "Teknologi, Industri, dan Pendidikan" di Surakarta, Sabtu (16/02).

Selain itu, lanjutnya ada juga "vertikal mismatch", yaitu lulusan Strata 1 (S1) harus mengambil pekerjaan yang seharusnya untuk anak lulusan SMA. "Jumlahnya ini lebih dari 50 persen. Vertikal ini bisa 'overqualified' dan bisa 'underqualified. Ini menjadi persoalan bagi kita. Oleh karena itu, kita merefleksi sendiri ke mana arah pendidikan Indonesia ke depan," terangnya. Ia mengakui hingga saat ini belum ada terobosan di dunia pendidikan yang mampu menyelesaikan permasalahan tersebut.

Ia juga mengungkapkan,  pekerjaan rumah lain di sektor pendidikan yang perlu dibenahi yaitu bagaimana meminimalisasi angka pengangguran khususnya dari lulusan perguruan tinggi. "Data BPS per bulan Agustus 2018 menyebutkan jumlah pengangguran di pendidikan tinggi cenderung meningkat jika dibandingkan 2017 pada bulan yang sama.

"Ini jadi PR kita bersama, bagaimana menghasilkan lulusan yang tidak bersaing dengan robot dan menghasilkan lulusan yang bisa awet untuk memasuki dunia pekerjaan di masa depan," jelasnya. Oleh karena itu, sebutnya yang perlu dilakukan ke depan adalah melakukan perubahan paradigma. "Salah satu yang dilakukan adalah memastikan apa yang kita bekalkan, yaitu 'top ten skill', seperti kepemimpinan dan kemampuan dalam berkomunikasi," katanya.


Editor: Maria L Martens
KOMENTAR