ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | ARAH DESA

Dianggap Berdampak Negatif, E-Sport Disarankan Tidak Masuk Kurikulum

06 Maret 2019
Dianggap Berdampak Negatif, E-Sport Disarankan Tidak Masuk Kurikulum
Doni Koesoema (Net)
JAKARTA, SCHOLAE.CO - Pemerhati pendidikan Doni Koesoema menganggap e-sport punya dampak kurang baik bagi kesehatan, terutama kesehatan mata. Ia pun menilai  menilai gagasan Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi memasukkan e-sport, olahraga elektronik, ke kurikulum juga tidak realistis.

"Kurikulum itu kalau mau ditambahkan materi pembelajaran, itu ada aturannya, jadi artinya kita tidak bisa setiap kali ada kebutuhan, kepentingan, lalu kemudian semua akan dimasukkan dalam kurikulum," katanya saat ditemui di gedung Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta.

Kalau tetap ingin memasukkan e-sport dalam pendidikan di sekolah, pendiri Pendidikan Karakter Education Consulting itu menyarankan pemerintah memasukkannya dalam program ekstrakurikuler.

"Anak-anak kita juga perlu memiliki pengalaman bermain melalui permainan yang sifatnya digital, namun saya pribadi melihat ini seharusnya menjadi semacam pilihan saja, karena tidak setiap orang itu bisa atau menyukai permainan elektronik seperti ini," ujar dia.

Selain itu, Doni mengemukakan permainan elektronik seperti e-sport punya dampak kurang baik bagi kesehatan, terutama kesehatan mata. Dia menilai permainan yang kini dilabeli sebagai bagian dari olahraga itu kurang mengeksplorasi gerak tubuh.

"Biarkan anak-anak itu memilih sebagai kegiatan ekstrakurikuler, tidak perlu dipaksakan. Yang terpenting itu adalah olahraga yang sifatnya fisik, seperti sepak bola, bulu tangkis, atau lari. Kalau kita main dengan mesin, dia tidak memiliki ikatan emosional itu," tambah dia.

Sebelumnya Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi melontarkan gagasan memasukkan e-sport ke dalam kurikulum sekolah, menyebut aktivitas itu dapat melatih fisik maupun mental pemain karena membutuhkan konsentrasi tinggi dan durasinya bisa berjam-jam.

"Di sekolah menengah, di kalangan pelajar, saya kira ini harus dibuka kurikulum atau pengetahuan terkait e-sport secara formal,” kata Imam di kantor Kementerian Sekretariat Negara, di Jakarta.

Imam menambahkan untuk mewujudkan gagasan itu kementeriannya akan berkolaborasi dengan kementerian terkait, termasuk Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan


Editor: Maria L. Martens
KOMENTAR