ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | ARAH DESA

Bersahaja dengan Multikulturalisme di Negeri Orang

09 Maret 2019
Bersahaja dengan Multikulturalisme di Negeri Orang
Mahasiswa Indonesia (Net)

JAKARTA, SCHOLAE.CO - Salah satu tantangan belajar di luar negeri adalah kemampuan berbaur dengan masyarakat setempat. Hal ini untuk mendukung kelancaran proses perkuliahan dan menambah wawasan tentang budaya mancanegara.

Darul Mahdi, salah satu penerima beasiswa Australian Awards pada 2017 telah tinggal selama satu setengah tahun di Brisbane, Queensland, Australia, untuk meraih gelar master di Universitas Queensland, menuturkan hal yang paling penting dalam bertahan di negeri asing adalah mudah berbaur dengan mereka, tidak menutup diri dan berpikir terbuka.

"Kalau cari kawan selama ini sih gampang banget. Kita harus bisa beradaptasi, misalnya enggak harus makan makanan orang Indonesia, coba aja makan makanan di sini," tutur pria kelahiran 20 Januari 1988 itu.

Saat ini, Darul sedang mengenyam pendidikan untuk dua gelar master (S2) di dua jurusan, yakni International Law di Fakultas Business, Economic and Law dan International Relations di Fakultas Political Science and International Studies. Dia memulai kuliah pada Juli 2017.

Menurut dia, salah satu cara untuk mendapatkan lebih banyak teman adalah bergabung dengan komunitas di mana memiliki hobi positif yang sama seperti berkelana atau bepergian ke berbagai daerah. Di komunitas itulah, Darul bertemu dengan banyak orang yang tidak hanya orang Australia tapi juga dari negara-negara lain sehingga membuatnya memiliki jaringan pertemanan yang lebih luas. Dalam kehidupannya di Australia, Darul yang berasal dari Aceh kerap berbagi rumah dengan orang-orang non Indonesia di rumah yang disewa. "Saya berbagi tempat tinggal dengan satu orang Australia, satu Brasil dan satu Italia," ujarnya.

Dia mengaku tidak ada kesulitan saat berbaur dengan mereka, yang penting tetap menjaga tanggung jawab, yakni segala sesuatu dibersihkan setelah digunakan seperti setelah selesai masak, peralatan masak langsung dicuci. "Yang paling penting menurut saya kepribadian, seperti beberapa orang benar-benar supel, aku orangnya memang agak suka ceplas ceplos, supel dan suka melakukan perjalanan dan bertualang," kata Darul.

Dia mengatakan dalam kelas kuliahnya, dia bertemu dengan banyak orang dari beragam etnis dan negara. Itu membuka kesempatan luas untuk mengenal banyak orang dan memperluas jaringan yang akan berguna bagi masa depan. "Kayak di kelas saya, hukum, itu hampir dari lima benua semua ada di situ jadi saya kayak bisa belajar Australia, enggak cuma ketemu orang Australia tapi ketemu orang dari seluruh dunia, jadi kayak jejaringan, jadi lebih luas," tuturnya.

Menurut dia, beasiswa Australian Awards merupakan salah satu beasiswa paling dermawan karena sepenuhnya ditanggung termasuk biaya kuliah, kehidupan dan akomodasi selama kuliah di Australia. Selain itu, beasiswa Australian Awards juga menyiapkan dana untuk menyewa tutor dalam rangka membantu mahasiswa yang kesulitan memahami suatu mata kuliah. Dia mengatakan biaya kuliah bagi mahasiswa internasional hampir 20 ribu dolar Australia tiap satu semester. Kalau dia tidak mendapatkan beasiswa, tentu dia akan kesulitan memenuhi biaya itu. "Ada juga beasiswa-beasiswa ke negara lain cuma kadang beasiswanya itu enggak sepenuhnya dibiayai gitu. Ada hal-hal yang enggak ditanggung, sementara Australian Awards bayar semuanya," ujarnya.

Berpikir kritis
Menurut Darul, manfaat dari pendidikan di luar negeri yang dirasakan adalah memiliki kemampuan berpikir kritis dengan analisis mendalam. "Kita belajar harus berpikir lebih kritis dan kedua Australia kan multikultural banget kalau enggak salah dia negara ketiga paling banyak 'international students' (mahasiswa internasional) setelah Amerika dan Inggris," tuturnya.

Dia mengatakan tugas untuk satu mata kuliah dengan membuat esai yang terdiri dari lima ribu kata. "Apa yang kita tulis lima ribu kalau kita enggak baca makanya kita harus tahu satu isu tertentu cuma harus analisisnya harus benaran dalam dan berpikir kritis," tuturnya.

Dia mengatakan pendidikan di luar negeri juga bersifat kasual, artinya tidak ada "jarak" antara dosen dan mahasiswa sehingga mahasiswa lebih leluasa dan tidak enggan menyampaikan pendapat atau pemikiran dan mahasiswa bebas bertanya apa saja serta menyanggah dengan cara yang sopan. "Kita boleh mengutarakan pendapat kita yang benar-benar berbeda dari apa yang dia kasih. Sering kali ada perdebatan di kelas. Saya merasa lebih tahu banyak," ujarnya.

Kesempatan emas
Anita Rachmat Persada Jeujanan, yang juga merupakan penerima beasiswa Australian Awards, menuturkan kesempatan belajar sekaligus membuka jaringan komunikasi dengan teman-teman dari berbagai negara di dunia menjadi kesempatan emas yang tidak terbeli dengan uang maupun dengan waktu. "Apalagi seperti saya yang datang dari Kabupaten, wilayah paling timur Indonesia di Papua, tentu ini menjadi kesempatan terbesar seumur hidup karena bisa melihat dan membuat perbandingan budaya yang cukup mencolok antara kehidupan di Indonesia, kehidupan di Timika, Papua dan di Australia," ujar perempuan kelahiran 13 Oktober 1982 di Maluku.

Anita kini melanjutkan pendidikan di Universitas Griffith untuk meraih gelar Master of Global Development. Dia mulai kuliah di universitas itu pada Februari 2019 dan akan berakhir pada November 2020. Menurut perempuan yang bekerja sebagai pegawai negeri sipil di Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Mimika Provinsi Papua itu, belajar budaya baru merupakan suatu hal yang menyenangkan dan menambah pengetahuan. "Di sinilah kesempatan saya untuk membentuk komunitas baru, belajar budaya baru, membaur dengan orang baru serta menjalin komunikasi dengan orang lain baik mahasiswa ataupun orang-orang yang tinggal di Australia," tuturnya.

Dia mengaku untuk sistem pendidikan yang berbeda dengan yang dia rasakan di Indonesia, tentu butuh waktu untuk beradaptasi, namun dia tidak kesulitan untuk melakukannya. Setelah lulus dari kuliah di bawah program Australian Awrds, sekembalinya ke Indonesia, Anita ingin memotivasi anak-anak muda di Indonesia untuk memiliki wawasan dan pengetahuan serta berani mengejar mimpi bahkan ke negeri asing sekalipun. "Mimpi dan angan saya yang lain adalah dapat berkontribusi positif dalam pendidikan anak-anak muda di Papua khususnya di Timika dengan cara memotivasi mereka untuk belajar ke tingkat yang lebih tinggi," ujarnya.

Menurutnya, pendidikan adalah kunci utama untuk mencerdaskan kehidupan dan meraih kesejahteraan hidup, sejalan dengan pernyataan dari mendiang mantan Presiden Afrika Selatan Nelson Mandela, "Pendidikan adalah senjata paling ampuh untuk mengubah dunia,". "Bagi saya pendidikan tidak saja melalui jalur sekolah reguler dan formal, melainkan juga non formal. Bagi mereka yang rindu belajar ke luar negeri melalui jalur beasiswa saya hanya berpesan bahwa "the money and the ticket is in your head," ujarnya.*


Editor: Maria L. Martens
KOMENTAR