ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | ARAH DESA

Pendidikan Karakter untuk Bentengi Anak dari Pengaruh Negatif Digital

10 Maret 2019
Pendidikan Karakter untuk Bentengi Anak dari Pengaruh Negatif Digital
Pendidikan karakter antisipasi pengaruh digital (Net)

JAKARTA, SCHOLAE.CO - Perkembangan digital berbasis aplikasi kini mulai merambah dunia pendidikan melalui metode e-learning. Namun pengembangan digitalisasi pendidikan lagi-lagi terjatuh pada peningkatan kualitas IQ anak, bukan pada karakter anak. 

Metode e-learning ini bahkan cenderung menggerus karakter anak karena tiadanya pertemuan langsung. Dunia digital bukan mendidik anak menjadi individualis, tidak mandiri, tidak jujur dan tidak respek terhadap perbedaan.  Padahal di era digital ini pendidikan karakter juga sangat penting untuk memberikan dasar sikap dan mental anak dalam menggunakan teknologi digital.

Ketua Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo), Septiaji Eko Nugroho mengatakan bahwa dengan berkembangnya teknologi digital maka perlu adanya upaya untuk membentengi anak bangsa terhadap informasi yang dapat merusak karakter anak tersebut meski hal tersebut menurutnya tidaklah mudah. Namun hal tersebut harus dimulai dari lingkup keluarga terlebih dahulu, yang artinya peran dari orang tua harus dikembalikan lagi.

“Saat masuk ke era digital sekarang ini orang tua cenderung melepas anaknya di dunia digital. Mereka cenderung mengasih anaknya smartphone, Tablet atau mengoperasikan laptop komputer di rumah tanpa pengendalian dan pengawasan yang cukup dari orang tua. Ini sangat berbahaya sekali. Karena ada titik ketika nanti si anak merasa lebih percaya kepada informasi yang dia baca di internet daripada harus percaya dengan informasi dari guru atau orang tuanya,” ujar Septiaji Eko Nugroho di Jakarta, Sabtu (9/3/2019).

Menurutnya, ketika anak memulai menggunakan teknologi, maka orang tua itu harus punya pemahaman yang kuat terkait bagaimana mendidik anak menggunakan teknologi digital dengan baik yang biasa disebut Digital Parenting. “Ini agar jangan sampai anak terpapar hal-hal yang bisa membahayakan dia secara keamanan atau mengunyah konten konten negatif seperti  hate speech (ujaran kebencian) ataupun juga konten-konten yang terkait dengan radikalisme,” katanya.

Lalu setelah ini menurutnya akan naik ke tingkat yang lebih atas lagi, yakni lingkup masyarakat, yang tentunya juga membutuhkan gerakan masyarakat untuk membuat aktivitas offline. Ini supaya anak-anak kembali bertatap muka seperti zaman dulu, dimana  jangan sampai mereka waktunya habis hanya bertemu dengan gadged-gadged saja.

Untuk itu dirinya berharap ada peran dari pemerintah dalam mengelola ketika anak-anak itu di didik di lingkup sekolah dan di kampus dimana diperlukan materi terkait tentang literasi digital agar  seorang anak atau siswa itu memiliki keahlian, kemampuan untuk bisa menggunakan berbagai perangkat teknologi digital dengan baik. “Contoh seperti materi mengenai media sosial tentang bagaimana penggunaannya, apa bahayanya, apa yang seharusnya tidak dilakukan, termasuk sikap pengamanan supaya bagaimana informasi pribadi tidak diketahui orang lain, itu yang terkait dengan literasi digital,” ujarnya.

Selain itu perlu adanya materi tentang literadi media supaya anak dikenalkan mengenai bagaimana mengunyah informasi dari sumber-sumber yang ada, baik dari koran, majalah, media online ataupun dari media sosial. “Artinya mereka butuh diberikan skill untuk bisa melakukan teknik literasi media misalnya perbandingan informasi teks, berita, mencari cari tahu seandainya ketemu dengan sebuah gambar, gambar ini benar atau tidak, konteksnya tentang apa, tentunya itu harus ditanamkan sejak awal,” tuturnya.

Dikatakannya, sebenarnya yang cukup berbahaya adalah ketika anak-anak terlalu sering menggunakan perangkat digital itu, maka kemampuan literasinya menjadi menurun. “Artinya daya tahan mereka untuk membaca suatu tulisan itu menjadi menurun karena mereka lebih suka untuk melihat konten yang pendek ataupun dalam bentuk-bentuk video atau infografis. Padahal kalau mau menjadi generasi penerus yang berkualitas tentunya mereka tetap harus menguasai material dalam bentuk teks,” ujarnya

Selanjutnya anak-anak muda ini belum bisa membedakan informasi yang benar dan bohong (hoax). Generasi anak muda ini menurutnya bukanlah tipe generasi yang suka menyebarkan berita bohong, karena dalam catatannya sebenarya yang lebih banyak menyebarkan berita bohong itu adalah orang-orang yang lebih dewasa yang berusia 35 tahun ke atas.

Kemudian yang cukup berbahaya sekali sebenarnya adalah anak muda ini literasinya juga terbatas sehingga  mereka sangat rentan sekali terpapar oleh konten-konten radikalisme. “Jadi anak-anak muda ini lebih utamanya bukan masalah hoax, tetapi yang lebih bahayanya adalah keterkaitan isu radikalisme. Karena radikalisme juga sebagian juga menggunakan hoax yang berbungkus agama. Jadi itu dampak negatif yang perlu kita tangani,” ungkapnya.

Oleh karena itu ia berharap dibuatka kurikulum yang integratif oleh pemerintah. “Hal-hal seperti itu yang perlu kita tanamkan dan perlu kita masukkan dalam kurikulum, sehingga mereka kemudian tidak gagap atau dan bisa menangkal konten yang menyesatkan saat menggunakan tehnologi digital,” katanya.

 


Editor: Maria L. Martens
KOMENTAR