ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | ARAH DESA

Science Club BPK PENABUR, untuk Mencetak Talenta Brilian

11 Maret 2019
Science Club  BPK PENABUR, untuk Mencetak Talenta Brilian
Salah satu kegiatan science club sekolah BPK PENABUR (Net)

JAKARTA, SCHOLAE.CO - Kompetisi keilmuan, sejatinya memacu semangat dan minat ilmiah dikalangan siswa dan pelajar. Wadah yang biasa menampung kreativitas dan kemampuan intelektual pelajar, biasanya study club yang diadakan pihak sekolah.  Sejumlah sekolah di DKI Jakarta memiliki study club atau klub belajar yang menjadi wadah bagi siswanya mempersiapkan diri untuk ikut olimpiade sains. Baik yang bertaraf provinsi, nasional, maupun internasional.

Sejumlah sekolah mengerahkan banyak usaha dan biaya untuk mencetak talenta brilian. Sekolah BPK PENABUR, misalnya. SMAK BPK Penabur 1 Jakarta yang mencetak banyak juara olimpiade membentuk Science Club khusus untuk anak-anak sangat cerdas.

Mekanisme yang dikembangkan oleh lembaga ini adalah, menawarkan para siswa yang tertarik dan berminat mengikuti program persiapan olimpiade. Namun pihak sekolah pun menentukan passing grade untuk setiap matapelajarannya.

Science Club terdiri atas sembilan kelas, yakni matematika, fisika, kimia, biologi, kebumian, astronomi, komputer, geografi, dan ekonomi. Kesempatan untuk bergabung ke dalam Science Club terbuka bagi siswa kelas X pada setiap awal tahun ajaran baru. Dari sinilah para calon juara olimpiade diperoleh.

SMAK BPK Penabur Gading Serpong, Tangerang, Banten, berupaya mencetak juara olimpiade lewat Brilliant Class yang dimulai sejak 2008. Ini adalah kelas unggulan untuk siswa yang memiliki bakat dan minat besar di bidang matematika dan sains. Materi pelajaran kelas itu setara untuk mahasiswa S-1 dan S-2. Karena itu, siswa yang bisa masuk ke kelas itu diseleksi dengan ketat.

Sejumlah sekolah mengerahkan banyak usaha dan biaya untuk mencetak talenta brilian. Namun, usaha itu menjadi kurang bermakna karena talenta-talenta itu tidak dikelola dengan baik oleh negara. Upaya mencetak talenta brilian sebenarnya telah dilakukan sejak lama. Pada 1970-an, BJ Habibie yang saat itu menjabat Menteri Negara Riset dan Teknologi merekrut siswa-siswa cerdas di tingkat SMA untuk disekolahkan ke Eropa dan Amerika hingga tingkat master dan doktor. Selesai sekolah, sebagian dari mereka bekerja di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN)—sekarang PT Dirgantara Indonesia. Ketika krisis melanda, sebagian hengkang ke banyak negara.

Amich Alhumami, Direktur Dikti, Iptek, dan Kebudayaan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, mengatakan, Indonesia terbukti mampu melahirkan orang-orang pintar. Namun, orang-orang pintar itu memilih bekerja di luar negeri karena di Indonesia tidak tersedia tempat yang selayaknya. ”Indonesia mengalami brain drain yang luar biasa,” ujar Amich beberapa waktu lalu. 


Editor: Maria L. Martens
KOMENTAR