ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | ARAH DESA

Mahasiswa Serukan, Hoaks Bukan Karakter Bangsa

12 Maret 2019
Mahasiswa Serukan, Hoaks Bukan Karakter Bangsa
Perguruan Tinggi anti hoaks (Net)
JAKARTA, SCHOLAE.CO - Sejumlah mahasiswa dan akademisi di Universitas Prof Dr Moestopo (Beragama) melakukan deklarasi anti hoaks atau anti kabar bohong di Jakarta, Senin (11/03). "Hoaks bersifat mengaburkan dan memanipulasi fakta dengan tujuan tertentu," ujar Wakil Rektor III Universitas Moestopo (Beragama) Dr Bambang Winarso MSc. Dia menjelaskan perguruan tinggi harus membangun cara berpikir mahasiswa antihoaks sebagai karakter anak bangsa.

Direktur Komunikasi Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Dr Wiryanta MA mengemukakan, menjelang Pemilihan Umum 2019 muncul berbagai berita bohong dan ujaran kebencian. Penyebarannya semakin cepat dan masif dengan menggunakan teknologi informasi dan jauh lebih masif dari pada Pemilu 2014. "Hoaks dan fitnah menjadi sumber konflik, perpecahan, kegaduhan, dan ketidaktentraman," kata Wiryanta.

Berita hoaks merupakan racun masyarakat dan berpotensi menciptakan disintegrasi dan memecah belah bangsa. Selama tiga bulan terakhir menunjukkan konten hoaks di Indonesia paling banyak menyerang pemerintah, kedua pasangan calon presiden dan wakil presiden dalam Pemilu 2019, serta para menteri. Dia mengungkapkan sebanyak 63 informasi hoaks terkait dengan politik dan Pemilu 2019 disebarkan melalui media sosial dan pesan singkat berantai yang terenkripsi.

Penyebaran hoaks berlangsung cepat, maka Kominfo melakukan kerjas ama antara lain dengan 98 komunitas siber dan beberapa kementerian serta lembaga terkait. Kominfo juga telah berupaya menekan penyebaran hoaks yang banyak beredar melalui media sosial yang banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia dengan cara terus melakukan verifikasi, ujarnya. "Kami juga sering menegur platform-platform yang memiliki akun dengan konten informasi berita bohong, radikal, dan menyesatkan," jelas Wiryanta.

Direktur Eksekutif Komunikonten atau Institut Media Sosial dan Diplomasi, Hariqo S Wibawa, menjelaskan hoaks awalnya lahir di dunia produk yang kemudian bermigrasi ke kejadian kriminal, dan kemudian masuk dunia politik.

"Dosen dan mahasiswa harus dimobilisasi menjadi pengelola konten, bekerja sama memproduksi dan mendistribusikan informasi media sosial untuk mengapresiasi peristiwa-peristiwa positif, sekaligus tidak membiarkan video-video hoaks hadir. Ide membangun creativepreneurship medsos adalah tepat," jelas Hariqo.

Media sosial yang paling banyak menyebarkan hoaks adalah Facebook dan WhatsApp. Berita hoaks tentang politik diterima hampir setiap hari dengan tujuan mempengaruhi pandangan politik.

Editor: Maria L. Martens
KOMENTAR