ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | ARAH DESA

Hadapi Revolusi Industri 4.0, Pemerintah Gulirkan Digital Talent Scholarship

12 Maret 2019
Hadapi Revolusi Industri 4.0, Pemerintah Gulirkan Digital Talent Scholarship
Digital Talent Scholarship dari Kominfo (Net)

JAKARTA, SCHOLAE.CO - Pemerintah menggulirkan Digital Talent Scholarship, dengan menyediakan sebanyak 25.000 beasiswa untuk generasi muda atau yang biasa disebut sebagai kaum milenials. Tujuannya adalah agar Indonesia dapat bersaing dengan negara-negara lainya di era Revolusi Industri 4.0.

Hal ini ditegaskan Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara pada Diskusi Media (Dismed) Forum Merdeka Barat (FMB) 9 bertajuk "Membangun Sumber Daya Manusia Menyongsong Era Industri 4.0: Memastikan Infrastruktur TIK, Industri Manufaktur, SDM Riset, dan Skema Dukungan Anggaran," di Jakarta, Selasa (12/3/2019).

Beasiswa-beasiswa tersebut dikatakan Menteri antara lain, artificial intelligence, big data analitycs, cyber security, machine learning, digital policy & cloud computing, internet of things, programming & coding, graphic design & animation.

Menkominfo mengungkapkan jika Indonesia pada tahun 2030 akan mengalami bonus demografi. Ekonomi Indonesia akan menguat karena diprediksi ekonomi seluruh negara di Asean jika disatukan akan sama dengan kekuatan ekonomi di Indonesia.  “Yang kita butuhkan, tahun 2015-2020 adalah digital talent masuk ke ekonomi Indonesia. Dari mana kita dapat? Perguruan tingi menghasilkan gelar sarjana. Saat ini pemerintah fokus pada skill atau vokasional. Setiap tahun kita butuh 600.000 digital talent,” ungkap Rudiantara.

Menurut Menkominfo, di perguruan tinggi yang lebih ditekankan pada knowledge atau gelar sarjana. Maka yang harus dikejar untuk menjawab kebutuhan tersebut adalah membuat “sekolah” digital talent.  “Untuk itu, Kemkominfo membuat akademi digital talent ini. Pesertanya lulusan SMK, D3 atau S1. Yang penting usianya tidak lebih dari 29 tahun. Tahun ini disiapkan 20.000 peserta. Memang terhitung masih sedikit jika dibandingkan kebutuhannya yang mencapai 600.000 digital talent,” jelas Rudiantara.

Yang terpenting, lanjut Menkominfo, saat ini Indonesia telah memiliki tamplate. Pilot projectnya telah dilakukan tahun 2018. Kemkominfo sendiri telah merekrut 1.000 peserta, dengan jumlah pendaftar mencapai 64.000 orang.  “Kita menghasilkan digital talent yang berdasarkan kemampuan. Mereka masuk kelas yang kerjanya latihan komputer saja. Kami kerjasama dengan 40 lebih perguruan tinggi. Yang kita butuhkan ketrampilan-ketrampilan hingga bisa langsung cepat kerja. Mulai dari Aceh hingga Papua. Kita ingin semua generasi muda Indonesia bisa mengikuti ini,” jelas Rudiantara.

Semua ekosistemnya, lanjut Menkominfo, telah disiapkan dengan platform karir. Platform ini kerjasama dengan perusahaan-perusahaan yang memang membutuhkan digital talent. Sehingga, tidak hanya melatih peserta, tapi juga menyalurkan lulusan digital talent ini ke perusahaan-perusahaan yang membutuhkan. “Pemerintah membangun infrastruktur dengan menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang sudah siap untuk bertarung di kancah global. Dengan program ini, Indonesia akan menjadi negara yang kuat,” ujar Menteri.

Selain itu, pemerintah dikatakan Menkominfo juga sedang fokus membangun infrastruktur telekomunikasi bukan hanya untuk kebutuhan jangka pendek, tapi untuk jangka panjang. “Infrastruktur yang dibangun tidak hanya seperti tol, bandara, pelabuhan laut, dan lainnya, juga berkaitan dengan tol informasi atau seperti yang dikatakan KH. Ma’ruf Amin, tol langit. Yakni percampuran infrastruktur digital dengan perangkat keras, seperti palapa ring yang menghubungkan wilayah Barat dan Timur,” ulas Chief RA, sapaan akrab Rudiantara.

Ke depan, paling cepat di tahun 2022 Indonesia dikatakan Menteri juga akan membangun satelit sendiri sebagai upaya mewujudkan cita-cita menjadi bangsa yang kuat dan diperhitungkan di kancah internasional.  “Sehingga, ke depan tidak ada lagi pendidikan yang tertinggal karena tidak terhubung dengan internet. Tidak ada lagi Puskesmas yang tidak terhubung dengan internet agar kecepatan pelayanan kesehatan bisa maksimal,” katanya.

Menkominfo mencontohkan jika saat ini pesantren dan madrasah yang jumlahnya sekitar 2.000 lebih juga telah terhubung dengan internet. “Bahkan, kantor desa juga sudah terhubung dengan internet. Semua harus terhubung, seperti kantor koramil dan kantor polsek. Ini sesuai arah APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) kita,” ujarnya.

Selain Menkominfo Rudiantara, turut hadir sebagai narasumber dalam Dismed FMB’9 kali ini adalah Wakil Menteri Keuangan Mardiasmo dan Sekretaris Jenderal Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Ainun Na'im.


Editor: Maria L. Martens
KOMENTAR