ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | ARAH DESA

Tresia Kristiana, Dunia Kampus Tempat Berbagi Ilmu dengan Gembira

17 Maret 2019
Tresia Kristiana, Dunia Kampus Tempat Berbagi Ilmu dengan Gembira
Tresia Kristiana (Net)

SEJAK kecil Tresia Kristiana bercita-cita menjadi karyawan bank. Maka ketika lulus sekolah menengah pada 1993, wanita kelahiran Pontianak, 1 Juni 1969 ini pun memilih Universitas Tanjungpura Pontianak, Kalimantan Barat sebagai kampusnya menimba Ilmu Ekonomi Manajemen.

Selama menjadi anak kuliahan, Tresia juga menjalankan tugas seorang ibu bagi ketiga anaknya. Tugas mulia sembari menyelesaikan tugas-tugas kampus, dilakoninya dengan sepenuh hati, hingga bergelar Sarjana Ekonomi. Keseriusannya menyelesaikan studi ditengah peran gandanya itu, menghantarnya menjadi dosen ternuda di Universitas Kapuas Sintang. Sebuah prestasi membanggakan bagi seorang perempuan yang juga ibu rumah tangga.

Meski berlatar belakang pendidikan ekonomi dan manajemen, di awal kariernya, Tresia turut mengampu mata kuliah yang terkait keuangan negara dan perpajakan. Ketekunan dan kerja kerasnya di kampus, membuatnya didapuk menjadi Ketua Program Studi Administrasi Niaga, hanya beberapa tahun setelah bergabung.

“Menjadi Kaprodi (Ketua Program Studi) adalah anak tangga pertama saya,” ujarnya kepada www.hidupkatolik.com. Empat tahun menjadi Kaprodi, ia dipercaya menjadi Pembantu Dekan I Fakultas Ilmu Administrasi. Saat itu, ia telah memantapkan pilihannya untuk membaktikan diri di perguruan tinggi.

Serius di dunia kampus, Tresia pun melanjutkan pendidikannya ke jenjang pascasarjana. Dengan gelar masternya, perempuan Dayak Uud Danum ini lalu dipercaya menjadi Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik. Beberapa tahun berselang, ada kerja sama antara Untan dengan Universitas Padjajaran Bandung, Jawa Barat. Kerja sama ini memungkinkan mahasiswa Pascasarjana Untan melanjutkan program doktoral.

Tresia menangkap kesempatan itu. Ia pun melanjutkan kuliah doktoral ke Bandung. Hal ini berarti ia harus terpisah dari keluarganya. Saat melihat anak-anaknya telah beranjak dewasa, sedikit menghilangkan kekuatirannya harus jauh dari keluarga. “Yang cukup jadi persoalan waktu itu adalah dua anak saya saat itu juga sedang kuliah. Keluarga kami benar-benar harus mengatur keuangan seefisien mungkin,” kenangnya.

Setelah berhasil menyandang gelar doktor, Tresia meninggalkan Universitas Kapuas di tahun bakti yang ke-22. Ia hijrah ke Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Koordinasi Perguruan Tinggi Swasta menawarkannya bergabung dengan Universitas Kristen Palangka Raya (UNKRIP). Awalnya, ia melihat keputusan itu sangat berat, karena jarak yang cukup jauh. Namun, ia mencoba menjalani dengan ikhlas. Tresia pun harus terpisah lagi dari keluarga, memulai adaptasi sebagai orang baru di tempat baru, tinggal sendiri, adalah alasan-alasan yang dirasakannya amat berat. Meskipun di tempat baru dan tidak banyak orang yang dikenal, ia berusaha menikmati. “Lama-kelamaan saya mulai bisa berdamai dengan keadaan. Mungkin karena kita baik sama orang lain, Tuhan balas dengan kebaikan-kebaikan juga.”

Tresia merasa diterima dengan baik oleh lingkungan barunya. Di UNKRIP, ia menjadi satu-satunya dosen yang beragama Katolik. Meski tak banyak perbedaan, ia mengaku tetap ada beberapa hal yang harus ia sesuaikan. Memasuki tahun kedua di UNKRIP, ia mendapat kepercayaan menjadi Wakil Dekan II Bidang Keuangan.
Tresia juga menjadi dosen terbang untuk dua kampus lain di Palangka Raya, yaitu di Universitas Palangka Raya dan Universitas Terbuka. Hanya setahun setelahnya, ia terpilih menjadi Wakil Rektor I Bidang Akademik di UNKRIP.

Bagi Tresia, babak barunya di Palangka Raya menjadi mungkin karena terutama keluarga yang mendukung. Anak-anak dan sang suami rutin mengunjungi dan memberikan dukungan. Bisa survive di tempat di mana ia berada kini, menurutnya karena ia tahu tujuannya menjadi dosen. “Saya menjalankan hak dan kewajiban, memenuhi standar yang ditentukan pemerintah, misalnya jabatan fungsional, dan tetap melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi: pendidikan, penelitan, pengabdian,” ujar Ketua Dewan Pengurus Daerah Perkumpulan Ahli dan Dosen Republik Indonesia Kalimantan Tengah ini.

Beberapa tahun belakangan, Tresia aktif mengikuti berbagai konferensi internasional, baik yang diselenggarakan di dalam maupun luar negeri. Terakhir ia mengikuti konferensi di Tohoku University, Tokyo, Jepang pada Oktober 2018. Di sela kesibukannya, ia juga menulis buku.

Kini 26 tahun sudah Tresia membaktikan diri sebagai dosen. Tak pernah ada rasa bosan baginya. Ia menyebutkan, menjadi dosen adalah pekerjaan yang paling cocok bagi orang yang senang berbagi. Karena berbagi tak harus dengan uang, ilmu pengetahuan juga bisa dibagikan dengan rasa gembira. “Selalu bertemu dengan orang baru, mahasiswa baru, anak-anak muda, rasanya sangat menginspirasi,” akunya.

Tresia Kristiana
Wakil Rektor I Universitas Kristen Palangka Raya

Lahir : Pontianak, 1 Juni 1969
Suami : B. Suhartono
Anak :
Hartiana Paulin Pricillia,
Hartianto Paulus Edwardo,
Hartianti Friska Febriana,
Hartiani Flantika Uskavella


Editor: Maria L Martens
KOMENTAR