ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | ARAH DESA

Pengukuhan Tiga Guru Besar UI Ilmu Kesehatan

25 Maret 2019
Pengukuhan Tiga Guru Besar UI Ilmu Kesehatan
Pengukuhan Profesor UI (Ist)
DEPOK, SCHOLAE.CO - Universitas Indonesia (UI) kembali mengukuhkan Guru Besar dari Rumpun Ilmu Kesehatan, mereka adalah Prof. dr. Asri C. Adisasmita, MPH., M.Phil., Ph.D yang merupakan Guru Besar Bidang Ilmu Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat UI (FKM UI) ; Prof. Dr. R. Budi Haryanto, SKM., M.Kes, M.Sc. – Guru Besar Tetap Bidang Ilmu Kesehatan Lingkungan FKM UI dan Prof. Dr. Abdul Mun’im, M.Si, Apt – Guru Besar Tetap dalam Bidang Ilmu Bahan Alam Fakultas Farmasi UI (FFUI). Upacara pengukuhan dipimpin oleh Rektor UI Prof. Dr. Ir. Muhammad Anis, M.Met. pada Sabtu (23/03) di Balai Sidang UI kampus Depok.

 Prof. dr. Asri menyampaikan Pidato Pengukuhan berjudul “Implementation Science: Pendekatan Inovatif bagi Epidemiologi dalam Mentransformasikan Evidence to Action.” Dalam pidatonya, Prof.dr.Asri mendorong para epidemiolog untuk dapat berinovasi mewujudkan implementation science, salah satunya melalui pemanfaatan teknologi pada era 4.0 ini.

Adapun implementation science adalah berupa menetapkan hasil temuan penelitian menjadi suatu intervensi nyata yang berdampak bagi kesehatan masyarakat. Salah satu contoh pelaksanaan Implementation Science di Indonesia adalah program MDSR (Maternal Death Surveillance and Response) yang saat ini sedang dikembangkan oleh Kementerian Kesehatan. Pada akhirnya, sistem ini diharapkan dapat berkontribusi dalam mencegah terjadinya kematian ibu.

 Selanjutnya, Prof. Budi memaparkan Pidato Pengukuhan bertajuk “Perubahan Iklim dan Polusi Udara di Indonesia: Dampak Kesehatan dan Strategi Pengendaliannya.” Prof.Budi menuturkan, “Perubahan iklim di Indonesia telah mempengaruhi ekonomi, kemiskinan, kesehatan manusia, dan lingkungan termasuk meningkatnya emisi polusi udara, dimana sektor transportasi berkontribusi paling banyak (hingga 80%) diikuti oleh emisi dari industri, kebakaran hutan, dan kegiatan rumah tangga. Ditengarai, 50% dari angka kesakitan di Indonesia saat ini terkait dengan polusi udara.” Untuk itu, Prof.Budi menambahkan pencegahan dan pengendalian polusi udara pada sumber pencemarannya paling tidak dapat dilakukan dengan cara perbaikan kualitas bahan bakar, peningkatan teknologi mesin kendaraan bermotor, prasarana infrastruktur, dan manajemen transportasi. Semakin cepat penerapan kebijakan penggunaan bahan bakar kualitas Euro 4 semakin cepat pula terjadinya penurunan konsentrasi polusi udara.

 Lebih lanjut, Prof. Abdul menyampaikan Pidatonya berjudul “Pemanfaatan Teknologi Hijau pada Pengembangan Bahan baku dan Obat Herbal.” Dalam rangka pengembangan obat herbal diperlukan sentuhan teknologi agar kualitas meningkat dan keamanan produk terjamin. Untuk memperoleh obat-obatan herbal, harus melewati sebuah proses yang menjadi perhatian dan menentukan kualitas, diantaranya yaitu ekstraksi.

Proses Ekstraksi ini memiliki tantangan tersendiri karena harus memilih pelarut yang bisa mengekstraksi senyawa aktif secara maksimal,  aman, ekonomis, tidak mudah terbakar dan dapat didaur ulang. Dalam pidatonya, Prof.Abdul menyebutkan sebuah pelarut pengekstrasi bernama DES (Deep eutectic solvent) sebagai alternatif pelarut yang lebih aman. Penggunaan emulgator atau eksipien lainnya sebagai DES dapat mengurangi tahapan proses produksi, seperti pada pembuatan sediaan kosmetik, obat herbal dan pangan. Tantangan penggunaan DES adalah permasalahan stabilitas, karena produk ekstrak berupa cairan, dan beberapa pelarut sangat higroskopis sangat menyulitkan dalam pembuatan sediaan padat.  

Editor: Maria L. Martens
KOMENTAR