ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | ARAH DESA

Metode 'Creative Reading' dalam Pengajaran

17 April 2019
Metode 'Creative Reading' dalam Pengajaran
Pengajaran yang menyenangkan (Istimewa)

JAKARTA, SCHOLAE.CO - Ketua Yayasan Suar Asa Khatulistiwa (SAKA), Andy Yentriani, alumnus Lemhannas PPSA XXI, mengatakan,  minat baca di Indonesia menjadi salah satu keprihatinan Yayasan SAKA. Berada di papan bawah, Indonesia menduduki peringkat ke 106 dari 197 negara yang disurvei  World Atlas mengenai tingkat literasi. Sebelumnya, pada tahun 2016, Indonesia dikabarkan hanya 1 (satu) tingkat di atas Bostwana dalam survei tentang “Most Literated Nations in the World”.

“Data itu memperihatikan sekali. Oleh karena itu, menyikapi tantangan minat baca tersebut, kami mengembangkan metode creative reading dalam pengajaran. Selain membangun minat baca, creative reading juga mengembangkan  daya nalar kritis dan kreativitas anak," tandas Andy.

Sehingga terciptalah Tokoh Hepi, seekoar ikan Paus,  yang tersaji secara fun dan menyenangkan dalam sebuah buku cerita yang khusus diperuntukan bagi anak-anak.  Hepi adalah paus lucu dan manis yang dijadikan tokoh dalam buku creative and reading yang berjudul HEPI – Si Paus Menyanyi (The Singing Whale). Buku ini dimaksudkan untuk menciptakan dan meningkatkan minat baca bagi anak kecil di Indonesia dan menumbuhkan kreativitas  dan sekaligus mengembangkan daya nalar kritis anak.

Pemilihan Paus sebagai tokoh yang dipilih berlatarbelakang dari  hasil perbincangan antara murid dan guru tentang ikan. Munculah nama ikan paus, karena pada saat itu viral pemberitaan tentang paus yang terdampar. Pada kesempatan itu, PG&TK Cerlang berkesempatan untuk mengajak para murid untuk mencari sosok paus itu yang ternyata bukan ikan tetapi mamalia. Diskusi itu berkembang keistimewaan paus yang ternyata dapat bernyanyi. 

 “Dari pertanyaan mengapa Hepi punya rambut, kita bisa mengenalkan ilmu alam tentang mamalia. Membayangkan ukuran paus, anak-anak dapat belajar tentang matematika. Kisah Hepi juga menjadi sarana pendidikan karakter anak, misalnya tentang mengelola emosi dan cara bersikap dalam menghadapi kondisi yang tidak menyenangkan,” jelas Sri Wartati, pengagas cerita sekaligus Kepala Sekolah PG&TK Cerlang. 

Buku ini mendapat desain dari Ana Hadrian yang juga guru di PG&TK Cerlang. Meski tampak sekilas untuk anak usia dini, buku Hepi ini bisa menjadi pemantik belajar bagi anak di usia sekolah lebih lanjut. Hal ini ia sampaikan dalam simulasi bersama guru tingkat TK, SD dan SMP dan di forum anak di Halmahera Barat pada Sabtu (13/4/2019).  

Kunci dari creative reading adalah ketrampilan pendamping anak belajar. Para pendamping  perlu memiliki ketrampilan bertanya yang menggairahkan rasa ingin tahu anak. Selain itu, pendamping juga perlu mampu mengarahkan rasa ingin tahu anak menjadi langkah-langkah belajar yang lebih luas.  Hepi hanyalah salah satu contoh buku, karena creative reading dapat diaplikasi dalam beragam teks. 
    
Sebagai upaya bersama membangun minat baca, SAKA sangat bersyukur bahwa ide creative reading mendapatkan dukungan dari banyak pihak. Selain ke Halbar, dukungan ini memungkinkan Hepi dibagikan ke sejumlah desa di terdampak bencana di Palu, Sulawesi Tengah.  Juga ke taman bacaan di desa-desa terpencil di Kalimantan Barat. Rencananya, juga ada sejumlah buku yang akan disebarkan ke Lombok dan berbagai daerah lainnya.  
    
“Metode creative reading bisa membuka percakapan pada banyak subjek. Karenanya, Hepi Si Paus Penyanyi bahkan bisa menjadi sarana mengenalkan wawasan nusantara. Dari Hepi anak-anak bisa belajar peta laut di Indonesia, suku-suku nusantara yang memiliki berbagai nama dan hubungan dengan paus, serta keanekaragaman hayati di laut dan masalahnya,” pungkas Andy.




Editor: Maria L Martens
KOMENTAR