ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | ARAH DESA

Strategi Peningkatan Mutu PTAK

20 Juni 2019
Strategi Peningkatan Mutu PTAK
Dr Aloma Sarumaha, MA, M.Si (Foto: Istimewa)

A. PENDAHULUAN

1. Semacam latar belakang

Negara dan Gereja Katolik berdiri, unsur riset bekerja dengan lembut.

a. Lintasan sejarah, Boedi Oetomo 1908, Sumpah Pemuda 1928 atau persatuan-persatuan yang dimulai berdasarkan kedaerahan, perlawanan rakyat terhadap penjajah, bahkan perpecahan-perpecahan dalam masyarakat, dan memuncak pada proklamasi kemerdekaan RI, mengindikasikan urgensi dan relevansi riset.

b. Demikian halnya Gereja Katolik, ketika Yesus mengemukakan atau malah memerintahkan Petrus bahwa “Ia akan mendirikan Gereja-NYA....” juga dapat dianggap sebagai sebuah putusan penting setelah melakukan riset panjang. Dalam Matius 16: 18 disebutkan “Aku pun berkata kepadamu, engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku, dan alam maut tidak akan menguasainya”.

Hanya jangan ditanya, siapa yang melakukan riset hingga semua peristiwa tersebut terorganisir dengan baik dan mencapai hasil yang bagus bahkan dapat disebut sebagai sebuah mukjizat. Gagasan-gagasan atau teori-teori yang dikemukakan di dalamnya, sampai hari ini belum terbantahkan.

Tentu riset di masa lalu itu normanya tidak seajeq - “serumit” atau sekompleks riset dewasa ini, yang sampai-sampai Kemenristekdikti mendorongnya dalam sebuah Peraturan, dikenal dengan SNPT. Serentak dorongan itu menjadi kriteria dalam pelaksanaan kerja BAN-PT yang terorganisir dalam nomenklatur Tridharma Perguruan Tinggi.

2. Masalah

Kalau mengingat penjelasan Dr. Tony Rudyansjah, MA, saat merespons pertanyaan soal masalah penelitian pada Pertemuan Pembinaan Metodologi Penelitian di Jakarta, kita diingatkan bahwa pemahaman awam dengan pemahaman ilmuwan tentang sesuatu hal tidak dapat disamakan saja. Maka ada ungkapan, “latar belakang kita menuntun kita untuk melihat sesuatu dengan cara tertentu. Pemahaman dan pengetahuan mengenai sesuatu hal, menentukan bagaimana memperlakukannya”.

Masalah tidak turun dari langit, atau tidak datang karena bisikan roh. Masalah merupakan konstruksi hasil baca dan/atau hasil kritisi atas fenomena sosial setara dengan hasil riset atau publikasi. Umum dipahami, masalah adalah gap antara kenyataan dan ideal. Gap itulah yang dinarasikan dalam bentuk serangkaian kalimat negatif. Sementara dalam perspektif riset, masalah tersebut umum dikonstruksi dalam bentuk kalimat tanya.

Dengan demikian masalah yang hendak saya kemukakan dalam konteks ini adalah “bagaimana meningkatkan motivasi Lembaga – PTKK, agar para dosen semakin giat melakukan riset lapangan, baik mandiri maupun dengan bantuan sponsor?”

3. Tujuan

a. Mencapai pemahaman bersama yang tinggi antara Pemerintah c.q. Ditjen Bimas Katolik dan Perguruan Tinggi Keagamaan Katolik (PTAK) bahwa penelitian merupakan salah satu indikator kuat kemajuan penyelenggaraan pendidikan tinggi keagamaan katolik. Pemahaman ini (akan) ditindaklanjuti dengan tumbuh-kembangnya motivasi yang semarak pada PTAK untuk melaksanakan riset sosial keagamaan; mencantumkan dalam rencana kerja bahkan RENSTRA PTAK. Sementara itu, Pemerintah c.q. Ditjen Bimas Katolik melalui Direktorat Pendidikan Katolik mengalokasikan anggaran dan aktivitas terpusat untuk memfasilitasi terselenggaranya riset dengan baik dan benar.

b. Menjadi bahan diskusi moderat bagaimana meningkatkan mutu PTAK yang terangkum dalam tridharma perguruan tinggi. Tuntutan revolusi industri 4.0 dapat menjadi conditio sine qua non bagi PTAK untuk melakukan review terhadap berbagai kebijakan penyeleng-garaan pendidikan tinggi keagamaan katolik, termasuk di dalamnya melakukan review atas kurikulum yang merujuk KKNI dan pembukaan program studi baru yang adaptif terhadap perubahan sosial dan dinamika kebutuhan sosial keagamaan. Diskusi ini berorientasi pada penentuan (proyeksi) kualitas lulusan yang menurut KKNI ada di level 6 (S1) dan 8 (S2). Riset menemukan relevansinya yang kuat dalam menyediakan jawaban atas perwujudan visi dan misi PTAK.

c. Bahan ingatan atas kriteria yang diminta untuk dilaksanakan oleh perguruan tinggi termasuk PTAK, yaitu SNPT, yang teridri dari 1) Standar Kompetensi Lulusan; 2) Standar Isi Pembelajaran; 3) Standar Proses Pembelajaran; 4) Standar Penilaian Pembelajaran; 5) Standar Dosen dan Tenaga Kependidikan; 6) Standar Sarana dan Prasarana Pembelajaran; 7) Standar Pengelolaan Pembelajaran; 8) Standar Pembiayaan Pembelajaran; 9) Standar Nasional Penelitian; 10) Standar Nasional Pengabdian kepada Masyarakat.

4 Sebentuk jalan keluar?

Bukan bertujuan untuk menuntaskan keresahan panitia, khususnya sebagai kandungan dari topik yang diajukan kepada saya, yaitu strategi peningkatan mutu PTAK: riset, tetapi saya ingin mengemukakan bahwa pertemuan ini menjadi salah satu cara atau wadah bagaimana menjembatani gap pemahaman (baca: perlakuan) Perguruan Tinggi Keagamaan Katolik mengenai riset sebagai bagian integral dari pelaksanaan tridharma perguruan tinggi dan bukan sekadar meneliti dengan gaya bebas.

B. WIBAWA PERGURUAN TINGGI: RISET

1. Riset?

Penelitian adalah kegiatan yang dilakukan menurut kaidah dan metode ilmiah secara sistematis untuk memperoleh informasi, data, dan keterangan yang berkaitan dengan pemahaman dan/atau pengujian suatu cabang pengetahuan dan teknologi.

Konsep tersebut dikemukakan kembali dalam Permenristekdikti Nomor 20 Tahun 2018 tentang Penelitian. Dikemukakan, Penelitian adalah kegiatan yang dilakukan menurut kaidah dan metode ilmiah secara sistematis untuk memperoleh informasi, data, dan keterangan yang berkaitan pemahaman dan pembuktian kebenaran atau ketidakbenaran suatu asumsi dan/atau hipotesis di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi serta menarik kesimpulan ilmiah bagi keperluan kemajuan ilmu pengetahuan dan/atau teknologi (Pasal 1 angka 1). Kriteria itulah yang menggambarkan riset sebagai sebuah seni untuk menemukan sesuatu hal demi perkembangan peradaban umat manusia. Dengan demikian dapat dikemukakan, tujuan riset adalah memproduksi ilmu pengetahuan baru sebagai “solusi” atas sesuatu hal.

Merujuk pada Perpres Nomor 8 Tahun 2012 tentang KKNI, lulusan Sarjana ada di level 6 dan lulusan Magister ada di level 8.

a. Kompetensi lulusan Sarjana.

1) Mampu mengaplikasikan bidang keahliannya dan memanfaat-kan ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau seni pada bidangnya dalam penyelesaian masalah serta mampu beradaptasi terhadap situasi yang dihadapi.
2) Menguasai konsep teoritis bidang pengetahuan tertentu secara umum dan konsep teoritis bagian khusus dalam bidang pengetahuan tersebut secara mendalam, serta mampu memfor-mulasikan penyelesaian masalah prosedural.
3) Mampu mengambil keputusan yang tepat berdasarkan analisis informasi dan data, dan mampu memberikan petunjuk dalam memilih berbagai alternatif solusi secara mandiri dan kelompok.
4) Bertanggung jawab pada pekerjaan sendiri dan dapat diberi tanggung jawab atas pencapaian hasil kerja organisasi.

b. Kompetensi lulusan Magister

1) Mampu mengembangkan pengetahuan, teknologi, dan/ atau seni di dalam bidang keilmuannya atau praktek profesionalnya melalui riset, hingga menghasilkan karya inovatif dan teruji.
2) Mampu memecahkan permasalahan ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau seni di dalam bidang keilmuannya melalui pendekatan inter atau multidisipliner.
3) Mampu mengelola riset dan pengembangan yang bermanfaat bagi masyarakat dan keilmuan, serta mampu mendapat pengakuan nasional dan internasional.

2. Konteks STP – PTKK

a. Pada pertemuan Pembinaan Metodologi Penelitian lalu, saya coba membangun pemahaman yaitu riset PTKK orientasi pada penelitian sosial keagamaan. Dengan narasi tersebut, dimensi fleksibilitas tercakup di dalamnya. Sekedar merujuk pada UU Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, dalam Pasal 10 ayat (2), PTKK masuk rumpun ilmu agama, yang dalam penjelasan Pasal 10 ini dijelaskan bahwa rumpun ilmu agama merupakan rumpun Ilmu Pengetahuan yang mengkaji keyakinan tentang ketuhanan atau ketauhidan serta teks-teks suci agama antara lain ilmu ushuluddin, ilmu syariah, ilmu adab, ilmu dakwah, ilmu tarbiyah, filsafat dan pemikiran Islam, ekonomi Islam, ilmu pendidikan agama Hindu, ilmu penerangan agama Hindu, filsafat agama Hindu, ilmu pendidikan agama Budha, ilmu penerangan agama Budha, filsafat agama Budha, ilmu pendidikan agama Kristen, ilmu pendidikan agama Katholik, teologi, misiologi, konseling pastoral, dan ilmu pendidikan agama Khong Hu Cu.

b. Saya memberanikan menyebut riset sosial keagamaan karena basis riset perguruan tinggi keagamaan katolik adalah fakta sosial. Fakta sosial menjadi alat untuk menjelaskan hal-hal berkait dengan agama. Bicara agama yang orientasinya “di atas” diwarnai oleh seperangkat aktivitas “di bawah” untuk mewakili aspek atau dimensi sosial. Dengan perkataan lain, aktivitas sosial sehari-hari dapat menjadi petunjuk untuk menjelaskan atau menggambarkan sesuatu hal yang tersembunyi-di sana-jauh-sakral; selain menjadi petunjuk, juga dapat digunakan untuk memproyeksikan sesuatu hal. Tampaknya dalam konteks inilah Geertz membangun konsep agama-nya sebagai sistem simbol; Agama adalah (1) a system of symbols which acts to (2) establish powerful, pervasive, and long-lasting moods and motivations in men by (3) formulating conceptions of a general order of existence and (4) clothing this conceptions wiuth such an aura of factuality that (5) the moods and motivations seen uniquely realistic [(1) sebuah sistem simbol-simbol yang (2) menetapkan suasana hati dan motivasi-motivasi yang kuat, yang meresapi, dan yang tahan lama dalam diri manusia dengan (3) merumuskan konsep-konsep mengenai suatu tatanan umum eksistensi dan (4) membungkus konsep-konsep ini dengan semacam pencaharian faktualitas, sehingga (5) suasana hati dan motivasi-motivasi itu tampak khas realistis].

Dengan pemberlakuan konsep penelitian sosial keagamaan tidak lalu dikontraskan dengan opini bahwa “kami kan prodi teologi”, “kami kan prodi kateketik”, atau “kami prodi pelayanan”; bukan prodi ilmu sosial. Demikian halnya permintaan agar seluruh PTKK orientasi riset adalah field research bukan penelitian pustaka. Mengacu pada Creswell, filosofi riset lapangan juga mensyaratkan pemikiran/logika atau filsafat.

3. Apa yang sebaiknya dibuat?

Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2014 tentang Kerja Sama Perguruan Tinggi, antara lain dijelaskan bahwa kerja sama perguruan tinggi adalah kesepakatan antara perguruan tinggi di Indonesia dengan perguruan tinggi, dunia usaha, atau pihak lain, baik di dalam maupun di luar negeri. Kerja sama perguruan tinggi bertujuan meningkatkan efektivitas, efisiensi, produktivitas, kreativitas, inovasi, mutu, dan relevansi pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi untuk meningkatkan daya saing bangsa.

a. Sejauh ini kuat keyakinan saya bahwa PTKK sudah melakukan riset sosial keagamaan ini. Hanya tampaknya seperti terkungkung (comfort zone) dengan nomenklaturnya (Sekolah Tinggi Pastoral/Teologi/ Kateketik). Sehingga model risetnya terkesan itu-itu saja. Tidak mudah untuk membuat inovasi. Pengalaman memasuki tahun ke-tiga ini belum ada proposal riset yang mengkhususkan diri pada salah satu aspek kehidupan menggereja.

b. Apa yang dilakukan oleh Ditjen Bimas Katolik dengan pemberian bantuan riset melalui penilaian proposal merupakan terobosan untuk menambah motivasi PTKK terhadap riset (sekali pun ada yang mengatakan bahwa dananya kecil).

c. Dari STP Keuskupan Agung Kupang, Dr. Anton Bele, M.Si menulis buku Metodologi Penelitian Pastoral. Ketika buku itu diserahkan kepada saya, saat itu saya usulkan agar dilakukan seminar untuk dibedah agar memperoleh masukan penyempurnaan. Tetapi hingga saat ini (2019) belum ada respons. Apakah STP lainnya juga melakukan hal yang relatif sama?

d. Saya sarankan untuk melakukan review atau rekonstruksi (struktur) kurikulum mengacu pada KKNI. Bagaimana selama ini perlakuan terhadap mata kuliah metodologi riset:

1) Siapa pengampu, dosen tetap ber-NIDN atau dosen tidak tetap.
2) Apakah dosen pengampu mempunyai minat yang dominan terhadap bidang riset? (evidences misalnya rajin menulis   di media, di jurnal, tergabung dalam asosiasi).
3) Berapa bobot SKS formal 2 atau 4.
4) Apakah pembelajaran riset terkoneksi dengan proses pembuatan skripsi dan/atau tesis?
5) Aktif mengikuti event sejenis baik lokal, regional, nasional atau internasional.
6) Koleksi buku-buku dan jurnal (dalam dan luar negeri yang terindeks) yang terkait dengan riset.

C. HARAPAN

1. Efektifkan masa week end dan KKN atau PKL.
2. Sinkronkan mata kuliah metodologi Pekerjaan Pastoral dengan mata kuliah metodologi riset.
3. Efektifkan gerakan baca dan menulis di lembaga masing-masing; malah bagusnya wajibkan mahasiswa tahun ke-3 dan dosen untuk menulis dan/ atau membuat resensi buku dan dikirim (tiap satu bulan) ke Koran Harian Lokal atau Nasional.
4. Terlibat pada event-event terkait (misalnya menjadi pemakalah).
5. Sosialisasikan hasil-hasil pertemuan atau hasil baca.
6. Galang pertemuan nasional bidang riset.
7. Mereview hasil-hasil penelitian dan sosialisasi resensi buku.

D. PENUTUP

1. PTKK, sebagai mitra kerja; hasil kerja PTKK dapat menjadi input bagi Pemerintah c.q. Ditjen Bimas Katolik untuk merancang kebijakan penyelenggaraan Program Bimbingan Masyarakat Katolik. Misalnya strategi resolusi konflik yang acapkali menjadi mewarnai dinamika kehidupan sosial.  Ditjen Bimas Katolik akan berusaha sekuat tenaga menjadi mitra kerja PTAK dalam mewujudkan visi menjadikan PTAKS sebagai think thank Gereja Katolik dan Pemerintah dalam merancang model-model pelayanan kepada Masyarakat Katolik yang semakin variatif dan kompleks. Diantaranya dengan adanya tenaga ahli dalam berbagai bidang layanan, sebut misalnya ahli dalam bidang konseling pastoral, ahli dalam bidang sosiologi agama, ahli dalam bidang antropologi agama, ahli dalam bidang psikososial agama; ahli kateketik (ini sejajar dengan ahli dalam bidang pendidikan – agama), ahli dalam bidang teologi dan filsafat sudah banyak. Dan keahlian ini harus eksis dengan penerbitan hasil-hasil riset, baik dalam bentuk jurnal maupun dalam bentuk buku teks.

2. Kerja sama internal dan eksternal menjadi conditio sine qua non. Dikenal kerja sama antar Perguruan Tinggi. Bangunlah relasi dengan Perguruan Tinggi yang sudah mapan dalam hal riset (baik kualitatif, kuantitatif maupun campuran). Bila perlu membuat MoU untuk jangka waktu tertentu, semisal satu semester. Di perguruan tinggi yang sudah mapan, hal ini bukan sesuatu yang baru. Demi untuk menjadikan perguruan tinggi sebagai pusat peradaban, maka berbagai hal ditempuh, termasuk soal mendatangkan dan/atau mengirim (datasering) dosen yang ahli dalam bidangnya untuk menjadi mentor.

3. Dalam konteks memperkuat PTAK dengan modus riset, saya kembali mengusulkan agar orientasi KKN atau PKL tidak lagi hanya tertuju pada wilayah administratif gerejani. Tetapi bukalah ke ruang publik. Di beberapa wilayah administratif pemerintahan, hal ini sangat mungkin. Ini sebagai bagian dari “membangun dari pinggir ke tengah”. Lagi-lagi ketika memikirkan orientasi KKN atau PKL ke ranah publik, maka rekonstruksi atau review kurikulum menjadi urgen. Artinya sejalan dengan sumbangan pemikiran revolusi industri 4.0, Program Studi, belajar merehab diri sesuai dengan dinamika perubahan sosial.

Dr. ALOMA SARUMAHA. MA.,M.Si
** Sekretaris pada Sekretariat Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Katolik Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Katolik Kementerian Agama


Editor: Dr Aloma Sarumaha, M
KOMENTAR