ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | ARAH DESA

LSPR dan Universitas China Promosikan Budaya Indonesia

18 Juni 2019
LSPR dan Universitas China Promosikan Budaya Indonesia
Kolaborasi LSPR dan Universitas China (Net)
JAKARTA, SCHOLAE.CO - Tiga universitas China berkolaborasi dengan London School of Public Relations (LSPR) Jakarta mempromosikan budaya China di ADEAN dalam kuliah umum yang diselenggarakan di kampus LSPR pada Senin (17/06).

Tiga universitas China yang datang ke LSPR Jakarta adalah Renmin University, Minnan Normal University, Quemoy University, demikian pernyataan yang diterima Antara di Jakarta, Selasa.

Kuliah umum tersebut, antara lain dihadiri oleh Jiang Qin, Minister Counsellor Misi China untuk ASEAN yang menyampaikan folk culture (budaya rakyat) sebagai aset penting dari identitas budaya suatu negara, karena dapat menjadi jendela untuk mengamati evolusi sejarah dan peradaban suatu bangsa.

Menurut Jian Qin, kuliah umum tersebut penting untuk mempromosikan dan melestarikan budaya dan khususnya meningkatkan kesadaran generasi muda akan budaya.

"LSPR Jakarta telah menjadi peserta yang aktif dalam program people to people exchange antara Cina dan ASEAN. LSPR juga telah mengintegrasikan pembelajaran bahasa Mandarin dan studi mengenai budaya China dalam kurikulumnya, sehingga kami berharap LSPR Jakarta dapat menjadi media bagi generasi muda," kata Jian Qin.

Kuliah umum tersebut juga menghadirkan Direktur Biro Thesis pada Program Pascasarjana LSPR Jakarta Rudi Sukandar, Associate Professor di School of Philology Renmin University Cao Nanlai, Akademisi Schwarzman dari Tsinghua University Yang Yajun, Associate Professor dan Wakil Dekan Minnan Culture Research Institute dari Minnan Normal University Liu Yun, serta Dekan Humanities and Social Sciences School of Quemoy University Chen Yiyuan.

Pada kesempatan yang dihadiri oleh ratusan mahasiswa tersebut, Rudi Sukandar secara khusus menceritakan tentang jejak pengaruh China di Indonesia, seperti kuliner dan fesyen.

Rudi juga memberi contoh “Luo Fangbo” yaitu orang China pertama yang mendirikan negara pertama di dalam sebuah negara yang letaknya ada di Kalimantan.

"Negara tersebut dibangun di bawah pengawasan pemerintahan kerajaan Sambas dahulu kala," kata dia.

Sementara itu, Cao Nanlai, Associate Professor, School of Philosophy, Renmin University of China dalam diskusi panel menyampaikan perihal bagaimana warisan budaya bisa menjadi koneksi untuk membangun rasa saling pengertian antara China dengan negara lain.

Selain itu, dia juga menyebutkan tentang program pemerintah perihal upaya mempromosikan Budaya Rakyat China melalui berbagai acara seperti upacara minum teh dan merangkai bunga.

Yang Yajun, Schwarzman Scholar of Tsinghua University memberikan sedikit penjelasan mengenai Chinese Folk Culture, dimana China bukan hanya memiliki keunikan etnis, tapi juga memiliki kesamaan universal.

Dalam rangka mempromosikan warisan budaya, pemerintah China menggunakan media yang berbeda, seperti melalui catatan, komunikasi, pendidikan yang dikolaborasikan dengan media digital dan ini merupakan program pemerintah yang sudah dimulai semenjak tahun ini hingga 2 tahun ke depan (2019-2021).

Sementara itu, Kepala Pusat Kajian Hubungan Kemasyarakatan ASEAN Yuliana R. Prasetyawati menyampaikan bahwa China merupakan salah satu mitra dialog ASEAN yang paling aktif dan kuat.

Kegiatan kuliah umum yang dilaksanakan di LSPR ini merupakan salah satu bentuk konkrit kerjasama budaya guna mempromosikan budaya antar dua negara Indonesia dan China, katanya.

Pada kesempatan tersebut mahasiswa LSPR menampilkan pencak silat guna mempromosikan budaya Indonesia kepada delegasi dari China.

Kegiatan ini merupakan kerjasama LSPR Jakarta melalui Pusat Studi ASEAN (Center for ASEAN Public Relations Studies) dengan Misi China Mission untuk ASEAN.

LSPR Jakarta dipercaya menjadi kampus yang menerima kedatangan delegasi China yang berjumlah 30 orang dalam rangka kunjungan ke ASEAN.

Pada kesempatan tersebut juga ditampilkan budaya rakyat China, seperti taichi, upacara minum teh, seni merangkai bunga, dan permainan instrumen musik tradisional China oleh Beijing Folk Museum.

Editor: Maria L Martens
KOMENTAR