ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | ARAH DESA

Bertambah, Dua Guru Besar di Universitas Brawijaya

25 Juli 2019
Bertambah, Dua Guru Besar di Universitas Brawijaya
Bertambah, dua Guru Besar di Universitas Brawijaya. (Terasnews.id)
MALANG, SCHOLAE.CO - Universitas Brawijaya (UB) Malang menambah dua guru besar lagi, masing-masing sebagai Guru Besar Bidang Imunologi dan Kesehatan Ikan pada Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) dan Bidang Ilmu Keperawatan pada Fakultas Kedokteran (FK).

Kedua guru besar yang dikukuhkan di Gedung Widyaloka UB Malang, Rabu, tersebut adalah Prof Dr Maftuch sebagai guru besar ke-17 di FPIK dan ke-241 di UB serta Prof Dr Titin Andri Wihastuti sebagai guru besar ke-31 di FK dan ke-242 di UB.

Dalam pidato pengukuhannya, Prof Maftuch mengatakan peran imunologi dalam pengembangan kesehatan hewan akuakultur dibangun dan dikembangkan untuk meningkatkan produksi perikanan, memenuhi kebutuhan pangan manusia, dan menurunkan produksi perikanan tangkap agar tidak terjadi penangkapan ikan berlebihan.

"Namun demikian, banyak kendala yang dihadapi akuakultur. Tidak sedikit ditemukan kegagalan panen akibat serangan penyakit, virus, bakteri, parasit dan jamur," katanya dalam pidato ilmiah pengukuhannya.

Penyakit infeksi di perairan, kata dia, muncul dengan mudah akibat interaksi tiga kompoinen, yaitu lingkungan, kondisi hewan, dan patogen, yakni penyebab terjadinya suatu penyakit dalam hewan perairan.

Ia mengemukakan akuakultur dilakukan dengan menebarkan benih, kemudian diberikan masukan berupa bahan pangan dan nutrisi untuk ketercukupan kebutuhan kehidupan ikan atau udang dalam proses akuakultur.

Hal itu, katanya, akan menyebabkan akumulasi limbah.

"Semakin meningkatnya jumlah limbah di perairan akan menyebabkan kualitas atau standar baku mutu air menurun dan meningkatkan jumlah patogen yang akan berinteraksi sehingga menghasilkan ikan dalam keadaan sakit," katanya.

Ia menerangkan dalam konsep imunologi, tubuh hewan akuakultur dapat mengenali setiap yang dianggap milik tubuhnya (self) dan sesuatu yang dianggap asing (non-self). Sistem itu dapat digunakan sebagai basis pendekatan diagnostik dan terapi untuk meningkatkan kesehatan hewan akuakultur.

Pendekatan diagnostik berbasis imunologi, kata dia, sudah banyak dikembangkan, di mana hewan akuakultur akan menanggapi benda asing atau bukan asing secara imunologis dengan ekspresi beberapa molekul dan sel yang bisa dideteksi dengan satu peralatan imunologi yang sudah baku.

"Namun, hal tersebut belum cukup. Oleh karena itu, saya mengusulkan beberapa alat/instrumentasi untuk mendeteksi dini lingkungan akuakultur," ucapnya.

Alat tersebut adalah pertama, perangkat hematologi yang sudah didesain dan sudah mendapat hak paten pada 2017. Kedua, adanya Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), dan ketiga, desain suatu alat menggunakan sensor baku yang dapat mendekteksi kualitas air secara "real time" selama aktivitas akuakultur dalam masa akuakultur selama 3-4 bulan.

Dia mengharapkan alat tersebut dapat dipakai sebagai "early warning system" dan "desicion support system".

Ia juga mengatakan pendekatan terapi untuk meningkatkan kesehatan hewan akuakultur berbasis imunologi dengan cara pemberian imunostimulan dan vaksin.

"Tujuannya untuk meningkatkan respons cepat tanggap kebal terhadap penyakit (innate) dan membangun respons imunitas adaptif," ujarnya.

Pidato ilmiah Prof Dr Titin Andri Wihastuti dalam kesempatan itu, mengambil judul "Perspektif Ilmu Biomedik untuk Pengembangan dan Inovasi Keperawatan di Masa Depan".

Ia mengatakan perkembangan ilmu dan teknologi, termasuk ilmu biomedik yang pesat, memberikan dampak positif terhadap bidang ilmu kesehatan, termasuk keperawatan.

Perawat sebagai bagian integral dari tim kesehatan dapat memanfaatkan berbagai perkembangan keilmuan untuk meningkatkan kontribusinya dalam memberikan tindakan keperawatan, baik berupa upaya promotif, preventif, kuratif, maupun rehabilitatif kepada klien.

Menurut Titin, salah satu tantangan terbesar dalam keperawatan saat ini adalah bagaimana mengelaborasikan berbagai disiplin ilmu dasar, seperti biologi, fisiologi, kimia, kebijakan kesehatan, ekonomi, teknik, pendidikan, komunikasi, dan ilmu sosial ke dalam penelitian, teori, dan praktik klinis keperawatan.

"Pengembangan penelitian biomedik dalam keperawatan merupakan salah satu langkah untuk menjawab tantangan akan kesetaraan dalam berkolaborasi dengan disiplin ilmu kesehatan lain. Penelitian biomedik juga sangat dibutuhkan untuk menjelaskan berbagai perubahan biofisiologis pada kondisi sehat maupun sakit dari perspektif keperawatan," tuturnya.

Ia mengatakan teknik perawatan kesehatan dapat dikembangkan melalui penelitian biomedik sehingga didapatkan hasil suatu instrumen, prosedur dan teknik perawatan baru yang lebih efektif dan efisien.

"Elaborasi ilmu biomedik dan keperawatan telah menggerakkan saya untuk melakukan beberapa penelitian biomedik dalam keperawatan. Penelitian multidisiplin ilmu yang telah saya lakukan berfokus pada keperawatan kardiovaskuler dalam kajian patofisiologi/patomekanisme dan terapi keperawatan, khususnya kulit manggis," kata dia sebagaimana diberitakan Antara.

Ia menyampaikan kulit manggis sudah banyak dikenal masyarakat, namun dukungan penelitian masih kurang, sehingga butuh perawat sebagai tenaga kesehatan yang bisa memberikan suatu edukasi atau pendidikan kesehatan kepada masyarakat supaya aman dalam menggunakan obat-obatan herbal.

"Selama ini pendapat masyarakat bahwa konsumsi herbal itu aman dan tanpa efek samping, namun sebenarnya belum tentu aman atau bukan berarti tidak ada efek samping, karena penggunaan bahan herbal ini memang belum banyak dilakukan penelitian, sehingga tidak diketahui secara pasti keamanannya," ucapnya.

Berbeda dengan obat, katanya, sebelum dirilis ke pasar sudah melalui uji-uji yang detail, toksisitasnya, kadar keamanannya, dosis, serta efek sampingnya.

Melalui penelitian itu, Prof Titin membuktikan peranan ekstrak kulit manggis, khususnya pada penyakit jantung koroner. Efek yang ada dalam ekstrak kulit manggis itu bisa dimanfaatkan untuk menurunkan risiko penyakit jantung koroner.

Ia menerangkan dari hasil penelitiannya, ekstrak kulit manggis memang mempunyai kadar alfa mangostin dan santon yang tinggi, dan sudah banyak dibuktikan dua bahan aktif itu berperan sebagai antioksidan dan anti-inflamasi.

Pada orang sakit jantung, proses inflamasi dalam pembuluh darah, proses stres oksidatifnya juga tinggi sehingga butuh pertahanan antioksidan.

Penelitian itu juga membuktikan banyak penurunan penanda-penanda inflamasi dan stres oksidatif serta menurunnya radikal bebas dari konsumsi kulit manggis itu.

Selain itu, kata Titin, efek kulit manggis berperan sebagai anti-angiogenesis, yaitu suatu proses pembuluh darah yang ada di dalam pembuluh darah baru, di mana pembuluh darah baru awalnya terbentuk karena suatu mekanisme adaptasi.

Namun, katanya, ternyata karena paparan faktor risiko seperti pola hidup yang tidak sehat, justru mempunyai efek negatif yang menyebabkan pecahnya sumbatan dalam pembuluh darah itu.

"Dengan pemberian kulit manggis, ada efek terhadap angiongenesis. Dari uji toksisitas pada kulit manggis, didapatkan dosis yang relatif aman untuk dikonsumsi, yaitu 200-800 mg per kg berat badan, dan kurang aman untuk dikonsumsi dalam dosis yang tinggi untuk pemakaian oral dosis tunggal," katanya.
 

Editor: Farida Denura
KOMENTAR