ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | ARAH DESA

Peluang dan Tantangan Teknologi bagi Dunia Pendidikan

29 Juli 2019
Peluang dan Tantangan Teknologi bagi Dunia Pendidikan
Puri Wahyuni (Dok. Pribadi)

Oleh: Puri Wahyuni

PERKEMBANGAN sains dan teknologi menciptakan peluang dan tantangan baru bagi kehidupan manusia. Peluang dari sains dan teknologi adalah mempermudah akses, mempercepat suatu pekerjaan, dan optimalisasi program. Akan tetapi, peluang yang ada ini juga dibarengi dengan tantangan dan krisis; salah satu murid Husserl bernama Jan Pato?ka (1907-1977) menunjukkan bahwa sains dan teknologi telah mengubah hidup manusia. bila peradaban Eropa semula dibentuk oleh ide filosofis perawatan jiwa, maka sains dan teknologi menawarkan sesuatu yang sama sekali lain. Lewat teknologi, manusia diberi ilusi bisa mengembangkan dirinya secara cepat dan tak terbatas secara kuantitatif. Pertumbuhan atas dasar logika sains dan teknologi hanya mengenal istilah cepat atau lebih cepat lagi, menghilangkan sesuatu yang wajar dan normal dalam hidup manusia, yaitu keseimbangan individual dan komunal (A. Setyo Wibowo, 2017:20).

Teknologi adalah produk akal budi manusia. Inti dari budaya teknologi adalah penciptaan individu-individu yang merdeka, berdaulat dan kreatif. Budaya teknologi yang minus kreativitas, minus independensi orang merdeka, akan berpuncak pada masyarakat yang gampang copy paste yang gampang menyebarkan hoaks (A. Setyo Wibowo, 2017:24-25). Teknologi menjadi sebuah peluang sekaligus tantangan bagi dunia pendidikan. Tujuan pendidikan dalam arti sesungguhnya menurut Gravissium Educationis adalah mencapai pembinaan pribadi manusia dalam perspektif tujuan terakhirnya demi kesejahteraan kelompok-kelompok masyarakat, mengingat bahwa manusia termasuk anggotanya, dan bila sudah dewasa ikut berperan menunaikan tugas kewajibannya. Untuk mewujudkan tujuan dari pendidikan yaitu pembinaan pribadi untuk kesejahteraan bersama tentu diperlukan sarana teknologi yang menunjang para individu secara meredeka, berdaulat dan kreatif.

Salah satu hasil dari teknologi adalah mesin pencari yaitu Google. Melalui sarana ini setiap orang dengan mudah mengakses segala macam jenis informasi melalui smartphone mereka. Bahkan guru dan peserta didik lebih mudah untuk mencari bahan-bahan dan informasi terkait pelajaran atau tugas yang diberikan. Satu kali ‘klik’ maka bahan-bahan atau informasi yang dibutuhkan akan tersaji dengan begitu cepat. Melihat peluang yang ada, maka kiranya bisa dipertimbangkan menggunakan Google sebagai salah satu fasilitas untuk media pembelajaran.

Sebagai media pembelajaran, Google dapat mencari berbagai informasi bahkan yang tidak mampu diingat oleh manusia. Informasi yang dapat dijawab oleh Google berada pada dimensi proses kognitif mengingat (hafalan). Oleh sebab itu, dalam kesempatan pertemuan tatap muka guru perlu mengolah kembali informasi tersebut bersama peserta didik agar proses kognitif peserta didik lebih meningkat ke proses koginitif yang lebih tinggi seperti mengaplikasi, menganalisis, mengevaluasi dan mencipta, sehingga dalam pembelajaran terjadi cara berpikir yang lebih tinggi (Higher Order Thinking Skills).

Penggunaan teknologi dalam dunia pendidikan (misalnya Google) harus dibarengi dengan kematangan dari peserta didik. Sejauh teknologi tersebut tidak menghilangkan aspek-aspek penting dari manusia untuk merdeka, berdaulat, kreatif maka bisa digunakan. Jangan sampai teknologi yang ada kemudian tidak membentuk manusia menjadi manusia, malah semakin mendehumanisasi, menciptakan manusia-manusia yang copy paste, menumpulkan daya kritis, dan gemar menyebarkan hoaks. Pada prinsipnya pendidikan dan sarana yang ada membentuk manusia untuk mewartakan, kasih, suka cita dan perdamaian dalam kehidupan mereka.


Editor: Puri Wahyuni
KOMENTAR