ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | ARAH DESA

Indonesia Masih Minim Research dan Penguasaan Tehnologi

30 Juli 2019
Indonesia Masih Minim Research dan Penguasaan Tehnologi
Penelitian mahasiswa (Net)

JAKARTA, SCHOLAE.CO - Dibanding negara tetangga, Indonesia masih tertinggal jauh dengan Singapura dalam hal kuantitas pendidikan. Indonesia memiliki lulusan S3 per satu juta penduduk sebanyak 87 orang sementara Singapura memiliki sekitar 7.000 lulusan S3 dari satu juta penduduknya. Penguasaan tehnologi juga musti didongkrak supaya tidak kalah dalam persaingan global.

Direktur Jenderal (Dirjen) Penguatan Inovasi Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) Jumain Appe mengatakan untuk meningkatkan indeks inovasi global Indonesia maka diperlukan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) dan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi serta inovasi.

"Untuk meningkatkan Indeks Inovasi Global kita, maka bagaimana kita membangun sumber daya manusia yang memiliki kemampuan untuk memajukan, mentransfer dan mempelajari teknologi ke depan," kata Jumain kepada wartawan di Gedung BPPT, Jakarta, kemarin.

Jumain mengatakan tingkat pendidikan manusia Indonesia juga harus ditingkatkan, sehingga lulusan sarjana semakin diperbanyak bukan lulusan sekolah dasar dan SMP atau SMA yang mendominasi.

Indonesia memiliki lulusan S3 per satu juta penduduk sebanyak 87 orang sementara Singapura memiliki sekitar 7.000 lulusan S3 dari satu juta penduduknya. Menurut Global Innovation Index (GII) 2019, Indonesia menempati peringkat 85 dengan skor 29,8 dari 129 negara di dunia. Di kawasan Asia Tenggara, peringkat inovasi Indonesia berada di posisi kedua terendah.

Selain peningkatan pendidikan dan pelatihan untuk pembangunan kapasitas SDM berkualitas, Jumain mengatakan strategi untuk meningkatkan indeks inovasi antara lain mendorong semakin banyak hasil penelitian dan pengembangan yang terindeks internasional, semakin banyak memiliki paten serta semakin banyak produk iptek serta inovasi yang diterapkan secara komersial, disukai pasar dan dikembangkan industri. "Karena kita tahu pembangunan suatu negara untuk menjadi negara maju mau tidak mau harus memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi dan inovasi," tuturnya.

Di luar negeri, anggaran penelitian dan pengembangan yang disokong pemerintah hanya 20 persen, sementara 80 persennya berasal dari dunia industri. Ini membuktikan bagaimana produk iptek dan inovasi bersinergi dengan dan menjawab kebutuhan industri dan pasar. Sementara, mayoritas anggaran penelitian dan pengembangan di Indonesia disokong pemerintah.

Pemerintah juga memfokuskan kembali pengerjaan penelitian yang menghasilkan keunggulan dan kualitas yang dibutuhkan. Fasilitas sarana prasarana pendidikan dan penelitian dan pengembangan yang dimiliki pemerintah, swasta dan industri juga harus dapat dimanfaatkan optimal lewat sinergi dan kolaborasi sehingga para peneliti dan perekayasa semakin difasilitasi dalam mengerjakan penelitiannya.

"Kita harus hasilkan penelitian berkualitas. Penelitian berkualitas datangnya dari penelitian yang baik yang berasal dari pengetahuan, didukung fasilitasnya, kemudian topik-topik penelitian yang sebenarnya menarik ya kita unggul," ujarnya.


Editor: Maria L Martens
KOMENTAR