ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | ARAH DESA

Yuk, Cermati Kesempatan Kuliah Gratis di Negara Maju

12 Agustus 2019
Yuk, Cermati Kesempatan Kuliah Gratis di  Negara Maju
Kesempatan kuliah di AS (Net)

JAKARTA, SCHOLAE.CO - Beasiswa ini merupakan bentuk kerjasama eksklusif dari negara maju dengan negara berkembang dalam bidang pendidikan dan kesejahteraan sosial. Selain untuk memfasilitasi pelajar untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik, beasiswa ini juga bertujuan untuk memperbanyak pusat-pusat penelitian di negara berkembang. Contoh beasiswa dari negara maju atau donor antara lain Beasiswa Chevening dari pemerintah Inggris, Beasiswa Fulbright dari pemerintah AS, Beasiswa Nuffic Neso (NEC) dari pemerintah Belanda, dan sebagainya.

Salah satu program yang rutin berjalan adalah Youth Exchange and Study (YES). Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat (AS) mengadakan program beasiswa Kennedy Lugar Youth Exchange and Study (YES) untuk pelajar di puluhan negara di dunia sejak tahun 2003. Beasiswa itu diberikan kepada para pelajar sekolah menengah atas ( SMA) atau sederajat yang berasal dari negara dengan populasi mayoritas Muslim, salah satunya yaitu Indonesia.

Sekitar 80 pelajar Indonesia dikirim ke AS untuk mengikuti program pertukaran pelajar itu setiap tahun. Mereka tinggal bersama keluarga asli AS selama 10 bulan dan menjalani kegiatan belajar-mengajar di tingkat SMA seperti biasa, sama halnya dengan pelajar AS pada umumnya. Pengelolaan program beasiswa YES di Indonesia ditangani oleh Yayasan Bina Antarbudaya. Setiap tahun, yayasan ini mengirim siswa-siswi dari Tanah Air yang memenuhi syarat tanpa memandang latar belakang suku, agama, dan ras.

Syarat peserta

Berikut ini sejumlah persyaratan umum yang harus dipenuhi bagi pelajar yang berminat mengikuti program beasiswa YES:

1. Berusia antara usia 16-17,5 tahun.
2. Pada saat aplikasi mendaftar sedang berada di kelas 10 di sekolah menengah (SMA/SMK/MA/pesantren).
3. Tidak sedang berada di kelas akselerasi.
4. Memiliki rapor dengan nilai rata-rata B atau lebih dari itu.
5. Memenuhi persyaratan untuk mendapatkan visa J-1 dari Amerika Serikat.
6. Bukan lahir di Amerika Serikat atau memiliki orang tua yang merupakan warga negara Amerika Serikat.
7. Merupakan warga negara Indonesia.

Program ini juga terbuka bagi siswa penyandang disabilitas dan mereka didorong untuk ikut berpartisipasi.

Program kepemimpinan

Kementerian Luar Negeri AS dan pengelola program YES bekerja sama dengan Mobility International (MI) USA memberikan lokakarya pengembangan kepemimpinan mengenai disabilitas, serta informasi dan dukungan yang diperlukan untuk meningkatkan partisipasi mereka setiap tahun.

Sending Coordinator Yayasan Bina Antarbudaya Sari Tjakrawiralaksana mengatakan, penempatan siswa penyandang disabilitas dari Indonesia di AS akan menyesuaikan dengan keluarga yang siap mengakomodasi kebutuhan khusus mereka. Di samping itu, para peserta YES yang penyandang disabilitas dari semua negara lain akan menjalani orientasi khusus, selain orientasi umum yang diikuti semua peserta di Washington DC.

Dalam orientasi khusus itu, mereka akan diajarkan keterampilan dasar dan perkenalan mengenai kehidupan di AS, termasuk diberi ilmu tentang cara hidup secara mandiri. Sebagai contoh, kebanyakan dari mereka belum pernah merasakan naik sepeda, naik kuda, dan hiking, atau melakukan hal-hal yang sebelumnya tidak terbayang untuk dilakukan karena keterbatasan fisiknya. Hal-hal itu akan diberikan dalam orientasi tersebut sebagai bekal kemampuan.

Menurut Sari, dengan program YES ini mereka jadi pribadi yang lebih mandiri, punya fokus dan tujuan. Keterbatasan fisiknya pun, sama sekali bukan jadi penghalang buat mereka.


Editor: Maria L Martens
KOMENTAR