ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | ARAH DESA

Memahami Minat dan Bakat Anak

21 September 2019
Memahami Minat dan Bakat Anak
Minat dan bakat anak (Net)

JAKARTA, SCHOLAE.CO - Tidak semua orangtua peka dan memahami minat serta bakat buah hati. Seorang Psikolog, Hertha Christabelle Hambalie, M.Psi., memberikan tips untuk para ortu untuk mengetahui dan memaksimalkan minat dan bakat si kecil.

Menurutnya, minat lebih mengarah pada apa yang disukai anak, sedangkan bakat adalah sesuatu yang mampu atau mahir dilakukan anak. Misalnya ia suka dengan olahraga (minat), tapi belum tentu mampu atau mahir, begitupun sebaliknya.  Sedangkan bakat, sifatnya lebih ke kemampuan anak dan biasanya bawaan. Bakat adalah suatu hal di mana anak mampu melakukan suatu hal lebih baik daripada kemampuan lainnya. 

Ciri-ciri anak berbakat pada suatu hal biasanya ia lebih mudah menangkap instruksi dan cepat mengerti saat diajari suatu hal yang berkaitan dengan bakatnya tersebut. Misalnya apabila si anak berbakat di bidang musik, ia cepat menangkap hal yang diajarkan, menghafal lagu atau peka terhadap nada.

Orangtua harus menggali minat dan bakat si kecil. Caranya, dengan mengikutsertakan ia dalam berbagai kegiatan di luar sekolah.  Misalnya saja, kegiatan berhitung, menggambar, musik, olahraga, menari, dan kegiatan lainnya.  Nah, dari kegiatan tersebut, orangtua mesti memperhatikan apakah si kecil senang dan nyaman mengikutinya. Jika si kecil terlihat tertarik dengan kegiatan tersebut, mungkin ia memiliki minat dan bakat dalam bidang tersebut. 

Orang tua bisa mencari tahu dan mengembangkan bakat si anak sedari dini. Misalnya mulai eksplorasi kegiatan-kegiatan untuk anak.   Mulai dari seni seperti  seni musik, gambar, tari, atau literasi. Anda juga bisa mencari tahu bakat anak lewat olahraga, berhitung, atau masak. Hal ini bisa disesuaikan dengan usia perkembangan anak.

Nah, jika sudah tahu minat dan bakat anak, orangtua boleh mendaftarkan anak ke kegiatan khusus.  Orangtua juga dapat mengajak dan menggali sendiri dengan kegiatan di rumah. Hal ini tergantung dengan pilihan orangtua dan kondisi masing-masing anak. Sebaiknya bila sudah menemukan bakat anak, tunggu beberapa minggu sebelum Anda memasukan si kecil ke kursus atau les. Pasalnya, anak kecil biasanya cenderung mencoba-coba terlebih dahulu kegiatan yang diberikan oleh orangtuanya. 

Lalu apa yang bisa dilakukan orangtua untuk mengasah bakat dan minat si kecil? "Selain mengikutsertakan ia ke kursus atau les tertentu, ortu juga bisa melakukan kegiatan beragam di rumah. Misalnya mulai dari mengajak anak menari, menyanyi, menggambar, berolahraga, dan lain hal yang anak senangi. Orang tua bisa mencari inspirasi-inspirasi kegiatan di majalah ataupun dari internet. Misalnya untuk minat dan bakat menari anak bisa mulai diasah dengan mengajak anak melihat video menari di rumah. Sedangkan untuk contoh apabila anak suka sepakbola, orang tua bisa mengajarkan anak bermain sepak bola yang tepat di lapangan atau halaman rumah," papar Hertha.

Ia pun memberikan tips bagaimana memaksimalkan minat dan bakat anak. Pertama, biarkan anak mencoba berbagai kegiatan, jangan dibatasi. Kedua, orang tua bisa memberikan pujian dan arahan yang tepat saat anak mencoba sesuatu yang baru. 

Ketiga hindari kata-kata negatif. Misalnya saat ia menunjukkan gambarnya, lalu Anda bereaksi “ngga bagus, ah..” atau “ah, cuma begitu aja…”. Hindari kata-kata ini. Pilih kata atau komentar yang menyemangati anak, misalnya “Wah, gambar adek bagus, lebih bagus lagi kalau mewarnai gambarnya nggak keluar garis, sayang…”. 

Usia anak pada dasarnya sedang mencari tahu apa yang ia sukai dan tidak sukai, yang ia mampu dan tidak, sehingga minatnya mungkin cenderung berubah-ubah. Orang tua disarankan lebih mengarahkan dan memfasilitasi minat dan bakat anak, bukan  membatasi atau memaksakan. 

Cara memfasilitasi dan mengembangkan kemampuan anak, juga bisa dengan  mengikutsertakannya melalui les atau kursus. Untuk aktivitas ini, Hertha mengungkapkan, mengikutsertakan anak ke dalam banyak kegiatan di luar jam sekolah memang bisa mengasah kemampuan dan bakat si kecil. Namun kegiatan tersebut harus disesuaikan dengan kondisi dan usia anak. Jangan memberikan anak kegiatan yang terlalu berat bila usianya masih terlalu dini. Misalnya anak (usia di bawah 6 tahun) yang masih berada di tahap perkembangan kognitif dan motorik. Pada usia tersebut, anak lebih membutuhkan kegiatan bermain.

Maka,  jika ingin mendaftarkan les atau kursus untuk anak di usia tersebut, carilah yang jenis kegiatan  yang mengutamakan pada proses bermain. Misalnya dibandingkan mengajaknya les berhitung, anak lebih baik diajarkan menyusun balok.  Sedangkan apabila anak sudah berusia 6 tahun atau lebih, anak sudah boleh diikutsertakan les pelajaran ataupun memanggil guru pribadi ke rumah. Ini berlaku jika anak terlihat kesulitan dalam belajar.

Hertha memberikan pertimbangan hal-hal ini sebelum mendaftarkan anak kursus:
1.    Orangtua boleh mendaftarkan anak untuk ikut les atau kursus saat anak tersebut memang siap
2.    Orangtua harus tau dan menentukan tujuan les atau kursusnya itu untuk apa.
3.    Orang tua harus mempertimbangkan apakah kegiatan yang akan diikuti si kecil sesuai dengan kemampuan dan usia si kecil.

"Untuk pertama kali, sebaiknya anak diberikan kursus yang sesuai dengan minat dan hobinya, sehingga kegiatan ini tidak akan membebani anak. Misalnya Anda boleh mendaftarkan kurus menari, menggambar, atau menyanyi untuk anak," ungkap Hertha.

Calistung (membaca, menulis dan menghitung) juga boleh dilakukan apabila anak mengalami kesulitan mengikuti pelajaran di sekolah. Ini bisa menjadi cara untuk sehingga membantu anak lebih bisa mengikuti pelajaran di sekolah. Orang tua wajib menyesuaikan dengan tahap perkembangan dan kebutuhan anak. Sebelum mendaftarkan les atau kursus untuk anak, orangtua dapat mengikutsertakan anak pada tes minat dan bakat.  Ini berguna  untuk mengetahui kemampuan, minat, dan bakat si kecil. Jadi nantinya, orang tua dapat membantu untuk mengarahkan anaknya ke bidang yang memang mereka  minati.  

Berikut ini, tips memaksimalkan hobi dan bakat anak tanpa perlu ikut les

Ada cara tersendiri yang bisa orangtua lakukan untuk memaksimalkan perkembangan anak tanpa ikut les. Caranya, buatlah banyak kegiatan variatif di rumah. Misalnya olahraga sendiri di rumah, belajar menari dengan menonton dan mencontoh video, membuat kerajinan-kerajinan tangan, eksperimen sains, dan masih banyak lainnya.
Anda dapat mencari bahan dari internet atau buku guna mencari inspirasi belajar sambil bermain untuk anak. Selain itu, Anda juga bisa mengandalkan peralatan sederhana yang ada di rumah, misalnya menggunakan sedotan warna-warni untuk membuat prakarya.

Hal tersebut mudah dilakukan di rumah tapi tentu dapat membantu mengasah kemampuan anak, khususnya dalam bidang seni. Nah, maka itu Anda harus tahu dulu minat si kecil di bidang apa. Coba gali lebih dalam apa yang ia suka, karena biasanya bakat dan minat anak yang masih dalam perkembangan masih bisa berubah-ubah


Editor: Maria L Martens
KOMENTAR