ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | ARAH DESA

Tahun Ini Pendidikan Vokasi Fokus Genjot Bidang Pariwisata

07 Oktober 2019
Tahun Ini Pendidikan Vokasi Fokus Genjot Bidang Pariwisata
Pelatihan pendidikan vokasi (Net)

JAKARTA, SCHOLAE.CO - Bidang Pariwisata tanah air, kian subur berkembang. Beberapa provinsi pun, makin menebarkan pesonanya, tidak hanya di kalangan domestik, namun berjaya pula di mancanegara. Kemajuan ini memberi peluang bagus buat para lulusan pendidikan vokasi, utamanya di usaha pariwisata.

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir mengungkapkan industri pariwisata, termasuk perhotelan dan kuliner masih membutuhkan banyak lulusan diploma atau vokasi yang bisa langsung bekerja.

"Pemetaannya sampai sekarang tenaga terampil di bidang perhotelan masih terbatas. Di Labuan Bajo, masih kurang. Di Jogja masih kurang. Bali yang begitu besar, bidang perhotelan masih kurang. Ternyata permintaan cukup tinggi, tapi yang profesional. Apakah itu untuk menjadi tour guide-nya, untuk hospitality di perhotelannya, untuk kulinarinya," ungkap Nasir saat Seminar Politeknik Jakarta Internasional di Hotel Borobudur Jakarta, pekan kemarin.

Dia mengungkapkan, sarjana terapan atau lulusan pendidikan vokasi di bidang pariwisata memiliki kelebihan dibanding sarjana atau lulusan pendidikan akademi. Yaitu bisa bekerja tanpa membutuhkan banyak pelatihan. "Kalau rekrutmen pegawai dari sarjana tidak bisa langsung diterapkan menjadi pegawai, harus dididik dulu," ungkapnya.

Dia menyampaikan tahun 2019 program Revitalisasi Pendidikan Vokasi, yang mencakup memberikan beasiswa 'retooling' di dalam dan luar negeri mulai akan merambah fokus ke bidang pariwisata setelah sebelumnya terkait dengan bidang teknik.

"Kami perluas. Tahun kemarin mekanik sudah ada. Perhotelan belum digalakkan, harus kita munculkan. Berikutnya di bidang kulinari. Pokoknya menuju pada pariwisata. Tourism harus didorong. Program studi tertentu yang dulu belum masuk revitalisasi kita masukkan," ungkapnya.


Editor: Maria L Martens
KOMENTAR