ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | ARAH DESA

Mahmud, Hantarkan Rewindinar Raih Doktor Komunikasi Predikat Cum Laude

12 Oktober 2019
Mahmud, Hantarkan Rewindinar Raih Doktor Komunikasi Predikat Cum Laude
DR Rewindinar dan keluarga foto bersama Tim Penguji (Arahkita/Farida Denura)

GAYA HIDUP kekinian yang mempengaruhi kaum urban, khususnya wanita dalam menjalani kehidupan sosialnya. Salah satu fenomena yang terjadi adalah, kehadiran kaum ibu yang di usia muda telah memiliki anak. Hal biasa memang. Tapi di era kekinian, rupanya gaya hidup para ibu muda, menarik untuk dicermati. Dan cermatan inip un yang dikaji Rewindinar, mahasiswi Program Studi Doktor Ilmu Komunikasi Universitas Sahid Jakarta.

Tema menarik dan kekinian, serta penting untuk ditelaah, menghantarkan Rewindinar meraih Doktor dengan predikat Cum Laude.

Melalui Disertasinya berjudul "Konvergensi Simbolik dalam Proses Morfogenesis Kajian Morfogenesis Mamah Muda (Mahmud) dalam Realitas Network Society di Indonesia", berhasil mempertahankan karya penelitiannya di hadapan Penguji Sidang Terbuka Senat Akademi Usahid dalam promosi Doktor Ilmu Komunikasi, Sabtu (5/10/2019) di Ruang Serbaguna Sekolah Pascasarjana Usahid Jakarta.

Promotor Disertasi ibu muda yang biasa disapa Rhere yang juga seorang praktisi Humas dan akademisi ini adalah Dr. Pinckey Triputra, M.Sc dan Ko-Promotor, Dr Mikhael Dua, MA. Sementara Penguji Disertasi adalah Udi Rusadi, Sunarto, Mirza Rhonda, Umaimah Wahid, Rahtika Dinana.

Kepala Seksi Humas BPK PENABUR yang juga Dosen Kalbis Institute ini mampu menjawab semua pertanyaan yang diajukan Dosen Penguji dengan cerdas dan hasil Sidang Penguji menyatakan Rhere lulus dengan yudisium Cum Laude, lulus dengan pujian.

Ibu tiga orang anak ini ketika memaparkan hasil penelitiannya di hadapan Penguji Sidang Terbuka Senat Akademi Usahid mengatakan bahwa fenomena Mamah Muda (Mahmud) saat ini tengah populer.

Mahmud yang juga dikenal dengan sebutan lainnya seperti mahmud abas (mamah mudah abis beranak satu), ataupun macan ternak (mama cantik anter anak) adalah sebutan-sebutan menarik yang merupakan gambaran eksistensi ibu-ibu di masa modern.

Penelitian:  Ibu-ibu Jaman Now  yang Multitasking

Mengutip Majalah Femina, edisi 37 halaman 53, tahun 2016 Rhere menjelaskan bahwa Mamah Muda atau Mahmud ibu rumah tangga yang berusia muda dengan penampilan menarik dan memiliki selera yang tinggi. Mereka dikategorikan sebagai ibu berusia duapuluhan hingga tigapuluhan yang memiliki anak di usia sekolah yaitu jenjang taman kanan-kanak hingga sekolah dasar.

Sambung Rhere sebagaimana dalam teori Giddens, kehidupan ibu muda kelas menengah ini memiliki peranan dan tanggung jawab dalam mengurus keluarga yaitu anak dan suami, namun selain itu mereka aktif dalam kehidupan sosial. Mereka sering terlihat berkumpul bersama kelompoknya yang terdiri dari ibu-ibu lainnya, baik di sekolah, mal ataupun tempat-tempat makan, dengan gaya dan ciri khasnya masing-masing. Oleh karenanya dalam kehidupan sosialnya mahmud selalui terhubung dengan kelompoknya dan ini menjadi ciri di dalam kehidupan modern. Individu dalam masa modern tidak terlepas dari kelompoknya dan kelompok menjadi wadah individu dalam bersosialisasi dan berinteraksi. Peranan kelompok sebagai salah satu faktor eksternal ini memberikan dampak pada kehidupan individu.

Dalam karya penelitian ini Rhere melakukan pengamatan dilakukan di beberapa sekolah TK dan SD swasta yang ada di wilayah Jakarta Utara, Jakarta timur, Bogor, Tangerang, dan Semarang. Dalam pengamatan yang dilakukan pada tahun 2015 ini, terlihat di setiap sekolah-sekolah tersebut terdapat ibu-ibu yang berkelompok dan menunggu anaknya di lobi sekolah.

'Mahmud', Gambaran Eksistensi Ibu-ibu Modern

Pengamatan lainnya, terlihat ibu-ibu berkelompok tersebut setelah mengantar anak sekolah keluar dari sekolah dan pergi bersama-sam, hingga beberapa jam kemudian kembali ke sekolah dan menjemput anaknya. Aktivitas ibu-ibu tersebut terus berulang berlangsung setiap harinya. Kemudian dilakukan wawancara awal pada beberapa mahmud di sekolah-sekolah tersebut.

"Mamah Muda atau dikenal dengan Mahmud merupakan gambaran eksistensi ibu-ibu modern yang tidak hanya bertanggung jawab pada urusan domestik keluarga melainkan juga aktif dalam kehidupan sosialnya,"kata perempuan kelahiran Jakarta 5 Maret 1979 ini.

Sebagai contoh sambung Rhere, kegiatan mengantar dan menjemput anak ke sekolah bagi seorang ibu yang awalnya merupakan kegiatan domestik tradisional yang sudah berlangsung beberapa waktu dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan bagi seorang ibu, dimana ini adalah sebuah budaya lama, menjadi ajang interaksi atau pertemuan dengan ibu-ibu muda lainnya yang kemudian semakin lama menciptakan sebuah budaya baru , yaitu budaya mahmud.

Lanjut Rhere, bagi mahmud dengan kondisi sosial ekonomi yang memungkinkan dan dengan sarana teknologi komunikasi mereka miliki, tujuan kegiatan mengantar dan menjemput anak sekolah sudah mengalami perubahan dan memiliki makna yang baru yakni tidak lagi sekedar menjemput dan mengantar anak sekolah tapi sudah menjadi ajang untuk menunjukkan eksistensi sosial di mana seorang ibu muda dengan kemampuan sosial ekonominya akan memanfaatkannya dengan mengembangkan hubungan dengan ibu mudah lainnya yang mempunyai karakteristik yang sama dan kemudian membentuk perkumpulan atau pertemanan dengan membuat grup atau kelompok eksklusif di mana selanjutnya mereka patuh pada ketentuan atau aturan-aturan maupun simbol-simbol yang berlaku di dalam kelompok, yang kemudian menjadi sebuah kelompok yang terstruktur.

Peran Teknologi Mengubah Gaya Hidup

Dalam salah satu kajian penelitiannya, Rhere juga menyebut, selain teknologi menjadi salah satu pengubah gaya hidup seseorang dalam bersosialisasi. Era kekinian pun, tak lepas dari faktor kecanggihan sarana ini. Komunikasi diantara kaum ibu-ibu muda, menjadi sangat mudah dan praktis untuk sekedar 'kongkow-kongkow' atau melakukan aktivitas bareng dengan wanita seusianya. 

"Ajang mengantar dan menjemput anak ke sekolah inilah yang pada akhirnya menjadi sebuah kesempatan bagi mereka untuk bertemu untuk merencanakan kegiatan di luar rumah. Pertemuan antar mahmud pada saat menjemput anak di sekolah kemudian menjadi sebuah wadah tempat berlangsungnya interaksi, di mana setiap anggota mahmud melakukan interaksi sosial kultural, yaitu hubungan antar agen kultural (mahmud) yang pada gilirannya akan mengarah pada elaborasi budaya,"papar istri Vincent Budi Darmawan ini.

Sebaliknya pertemuan yang mereka lakukan dalam waktu tertentu akan mengarah pada elaborasi atau pengembangan struktural. Dengan demikian seiring berjalannya dalam masyarakat melalui mahmud menjadi contoh perubahan yang terjadi dalam masyarakat.

Menurut Rhere, sejak teknologi menjadi bagian dalam keseharian seseorang maka tidak dipungkiri teknologi memiliki peranan dalam mendorong terjadinya perubaan dalam masyarakat terutama bagi individu sebagai pengguna.

"Hampir semua orang menggunakan teknologi dan sepanjang hari tidak lepas dari komunikasi dengan orang lain, teknologi orang lain. Teknologi menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari variabel yang dapat mengubah masyarakat,"kata pemerhati parenting yang sering menjadi pembicara dalam topik-topik parenting. Fenomena mahmud merupakan sebuah fenomena perubahan yang terjadi pada individu di dalam masyarakat dimana perubahan yang terjadi pada sistem sosial ini adalah melalui peranan dari unsur-unsur yang ada di dalamnya.

Mahmud yang menjadi gambaran eksistensi ibu-ibu di jaman modern tidak terjadi begitu saja namun melalui sebuah proses interaksi antar individu. Sebelumnya mahmud ini belum terdengar, namun saat ini di dalam sebuah network society maka kehadiran mahmud dan kelompoknya menjadi fenomena yang ada di dalam masyarakat.

Trainer dalam bidang komunikasi ini juga menjelaskan tujuan penelitian yakni mendeskripsikan dan menjelaskan konvergensi simbolik yang terjadi pada proses interaksi sosio-kultural dalam morfogenesis. Mendeskripsikan dan menjelaskan terbentuknya realitas mahmud dilihat dari proses morfogenesis yaitu structural conditioning, socio-cultural interaction dan cultural elaboration.

"Fenomena mahmud dalam penelitian ini dapat menjadi contoh menarik untuk dilihat sebagai perubahan sosial yang terjadi melalui konvergensi simbolik dalam proses morfogenesis. Proses tersebut memperlihatkan bagaimana proses terbentuknya mereka dari satu tahapan ke tahapan lainnya. Sehingga dalam tataran teori, hal ini adalah untuk menegaskan bahwa morfogenesis dapat menjadi pisau analisis. Hal tersebut dapat menjadi contoh untuk dapat diterapkan dalam berbagai fenomena sosial apapun, terutama fokus pada tataran komunikasi yaitu pada tahapan sosio-cultural interaction dalam proses morfogenesis,"paparnya lagi.

Networking, Cara Modern Kumpul Bareng di Dunia Maya

Menurut Rhere, dalam network society, teknologi komunikasi memungkinkan komunikasi terjadi secara networking yang melintasi waktu dan jarak. Teknologi komunikasi memungkinkan setiap orang terhubung satu sama lain melalui komunikasi menjadi tidak dapat terpisahkan dalam sistem sosial yang ada, karena teknologi hadir dalam setiap proses morfogenesis.

"Teknologi komunikasi memungkinkan bergabungnya kelompok, interaksi yang terjadi juga dalam teknologi sehingga hubungan yang terjalin termediasi oleh teknologi. Teknologi komunikasi dalam morfogenesis yang terjadi dalam kelompo mahmud adalah pada bentuk dan hubungan yang terjadi dalam kelompok dan melalui sumber daya yang memiliki yaitu media yang terintegrasi dengan internet antara lain mobile phone, media sosial (Instagram) dan WAG. Sehingga teknologi komunikasi menjadi faktor yang mendorong aktivitas online menjadi offline,"ungkapnya.

Menurut Rhere, media sosial menjadi faktor yang berperan dalam memberikan ide atau fantasi pada kelompok dan direalisasikan pada pertemuan kelompok dan selanjutnya fantasi yang direalisasikan melalui off line diposting di media sosial dan menjadi simbol kelompok. "Simbol kelompok yang ditunjukan melalui fantasi bersama sebagai sebuah kesepakatan memiliki makna tolerasi dan keterikatan kelompok. Kesepakatan bersama yang menjadi kebiasaan-kebiasaan pada akhirnya memunculkan kultur dari transisi yang terjadi pada tindakan struktur,"katanya.

"Dengan demikian konvergensi simbolik adalah elaborasi kultur yang terjadi dari proses interaksi sosio kultural dimna dalam tahapan morfogenesis ini muncul aturan-aturan baru yang kemudian mengembangkan simbiol-simbol yang disepakati bersama antar individu dalam kelompok. Konvergensi simbolik dalam proses morfogenesis adalah tahapan elaborasi kultur dan dapat disebut Symbolic Elaboration,"pungkasnya.


Editor: Maria L Martens
KOMENTAR