ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | ARAH DESA

Mengkaji Fenomena Mahmud dalam Kehidupan Wanita Modern

16 Oktober 2019
Mengkaji Fenomena Mahmud dalam Kehidupan Wanita Modern
Rewindinar sedang mempertahankan disertasinya berjudul "Konvergensi Simbolik dalam Proses Morfogenesis Kajian Morfogenesis Mamah Muda (Mahmud) dalam Realitas Network Society di Indonesia"(Foto: Arahkita/Farida Denura)

Oleh : DR Rewindinar

FENOMENA mamah muda atau yang disingkat mahmud saat ini tengah populer. Mahmud yang juga dikenal dengan sebutan lainnya seperti mahmud abas (mamah muda abis beranak satu), ataupun macan ternak (mamah cantik anter anak) adalah sebutan-sebutan menarik yang merupakan gambaran eksistensi ibu-ibu di masa modern. Mahmud adalah ibu rumah tangga yang berusia muda dengan penampilan menarik dan memiliki selera yang tinggi. Mereka dikategorikan sebagai ibu berusia duapuluhan hingga tigapuluhan yang memiliki anak di usia sekolah yaitu jenjang taman kanak-kanak hingga sekolah dasar.

Kehidupan ibu muda kelas menengah ini memiliki peranan dan tanggungjawab dalam mengurus keluarga yaitu anak dan suami, namun selain itu mereka aktif dalam kehidupan sosial. Mereka sering terlihat berkumpul bersama kelompoknya yang terdiri dari ibu-ibu lainnya, baik di sekolah, di mal ataupun tempat-tempat makan, dengan gaya dan ciri khasnya masing-masing. Oleh karenanya dalam kehidupan sosialnya mahmud selalu terhubung dengan kelompoknya dan ini menjadi ciri di dalam kehidupan modern. Individu dalam masa modern tidak terlepas dari kelompoknya dan kelompok menjadi wadah individu dalam bersosialisasi dan berinteraksi. Peranan kelompok sebagai salah satu faktor eksternal ini memberikan dampak pada kehidupan individu.

Teknologi Mendorong Terjadinya Perubahan dalam Masyarakat

Mahmud adalah gambaran eksistensi ibu-ibu modern yang tidak hanya bertanggung jawab pada urusan domestik keluarga tetapi aktif dalam kehidupan sosialnya. Sebagai contoh, kegiatan mengantar dan menjemput anak ke sekolah bagi seorang ibu yang awalnya merupakan kegiatan domestik tradisional yang sudah berlangsung beberapa waktu dan merupakan bagian atau peran yang tidak terpisahkan bagi seorang ibu, di mana adalah sebuah budaya lama, menjadi ajang interaksi atau pertemuan dengan ibu-ibu muda lainnya yang kemudian semakin lama menciptakan sebuah budaya baru, yaitu budaya mahmud. Bagi mahmud, dengan kondisi sosial ekonomi yang memungkinkan dan dengan sarana teknologi komunikasi mereka miliki, tujuan kegiatan mengantar dan menjemput anak ke sekolah sudah mengalami perubahan dan memiliki makna yang baru, yakni tidak lagi sekedar menjemput dan mengantar anak sekolah tapi sudah menjadi ajang untuk menunjukan eksistensi sosial di mana seorang ibu muda dengan kemampuan sosial ekonominya akan memanfaatkannya dengan mengembangkan hubungan dengan ibu muda lainnya yang mempunyai karakteristik yang sama dan kemudian membentuk perkumpulan atau pertemanan dengan membuat grup atau kelompok eksklusif di mana selanjutnya mereka patuh pada ketentuan atau aturan-aturan maupun simbol-simbol yang berlaku di dalam kelompok, yang kemudian menjadi sebuah kelompok yang terstruktur.

Ajang mengantar dan menjemput anak ke sekolah inilah yang pada akhirnya menjadi sebuah kesempatan bagi mereka untuk bertemu untuk merencanakan kegiatan di luar rumah. Pertemuan antar mahmud pada saat menjemput anak di sekolah kemudian menjadi sebuah wadah tempat berlangsungnya interaksi, di mana setiap anggota mahmud melakukan interaksi sosial kultural, yaitu hubungan antar-agen kultural (mahmud) yang pada gilirannya akan mengarah pada elaborasi budaya. Sebaliknya pertemuan yang mereka lakukan dalam waktu tertentu akan mengarah pada elaborasi atau pengembangan struktural. Dengan demikian seiring berjalannya waktu dalam masyarakat melalui mahmud menjadi contoh perubahan yang terjadi dalam masyarakat.

Perubahan masyarakat ini menjadi sebuah diskusi yang penting, karena di dalam perubahan tersebut, kita akan dapat melihat bagaimana sebuah sistem sosial bekerja melalui unsur-unsur yang ada didalamnya. Menurut pernyataan Sztompka, Perubahan sosial yang terjadi menyangkut hubungan-hubungan yang ada dalam setiap unsur yang ada, baik struktur dalam hubungan, organisasi dan ikatan antara unsur-unsur masyarakat. Lebih lanjut, perubahan sosial akan berhubungan dengan aktor individu di dalamnya, karena perubahan struktural menunjukan bagaimana variabel mikro mempengaruhi motif dan pilihan individual  dan bagaimana cara pilihan individu ini kemudian selanjutnya dapat mengubah variabel makro, seperti yang diungkap Hernes dalam Sztompka.

Aktor-aktor individual akan berinteraksi satu sama lain karena pada dasarnya manusia akan selalu berinteraksi dengan lingkungannya di mana masing-masing memiliki latar belakang, minat dan kebutuhan yang berbeda. Bormann dalam Teori Konvergensi Simbolik, memiliki pandangan atas interaksi yang akan terus terjalin pada akhirnya terbentuk sebuah makna yang menjadi hasil yang disebut dengan konvergensi simbolik. Kemudian melalui interaksi akan muncul sebuah bentuk yang baru karena adanya proses bagaimana beradaptasi dengan lingkungan. Bentuk baru tersebut merupakan hasil dari interaksi di mana setiap individu memiliki makna yang berbeda satu sama lain. Archer melalui pendekatan morfogenesisnya, memberikan pemahaman bahwa kelompok menjadi medium bagaimana perubahan dapat terjadi. Pendekatan morfogenesis menekankan pada interaksi yang terjadi antara individu di dalam kelompok di mana pada akhirnya,bentuk interaksi tersebut dapat membawa terjadinya sebuah bentuk yang baru. Pada morfogenesis selain struktur dan aktor-aktor individual yang terlibat, interaksi yang terjadi antar individu menjadi bagian dari proses terjadinya suatu bentuk, demikian menurut Archer. Dalam proses tersebut terdapat tahapan-tahapan didalamnya dan terdapat pula faktor lain yang berperan yaitu teknologi.

Sejak teknologi menjadi bagian dalam keseharian seseorang, maka tidak dipungkiri teknologi memiliki peranan dalam mendorong terjadinya perubahan dalam masyarakat terutama bagi individu sebagai pengguna. Hampir semua orang menggunakan teknologi dan sepanjang hari tidak lepas dari komunikasi dengan orang lain teknologi orang lain. Teknologi menjadi bagian tidak terpisahkan dari variabel yang dapat mengubah masyarakat.

Fenomena mahmud merupakan sebuah fenomena perubahan yang terjadi pada individu di dalam masyarakat di mana perubahan yang terjadi pada sistem sosial ini adalah melalui peranan dan unsur-unsur yang ada di dalamnya. Mahmud yang menjadi gambaran eksistensi ibu-ibu di jaman modern tidak terjadi begitu saja namun melalui sebuah proses interaksi antar individu. sebelumnya, mahmud ini belum terdengar, namun saat ini di dalam sebuah network society maka kehadiran mahmud dan kelompoknya menjadi sebuah fenomena yang ada di dalam masyarakat.

Pola Komunikasi Baru dalam Network Society

Masyarakat saat ini berada dalam sebuah bentuk baru yang sangat berbeda dari sebelumnya. Bentuk baru dari masyarakat tersebut tidak terlepas dari digitalisasi karena perkembangan teknologi yang semakin luar biasa. Penggunaan teknologi yang sangat berperan besar dalam kehidupan sehari-hari masyarakat tersebut kemudian telah membentuk kehidupan sosial, teknologi, ekonomi maupun budaya yang baru. Salah satu penggunaan teknologi komunikasi ditandai dengan gadget yang melekat dengan internet menjadi aktivitas utama setiap orang karena dengan gadget setiap orang dapat melakukan apapun, dimanapun dan dengan siapapun.

Setiap orang memiliki gadget di mana didalamnya terdapat media seperti  media sosial yang dapat dikelola sendiri oleh pemiliknya. Melalui pengelolaan media oleh setiap orang maka konsep media itu sendiri mengalami pergeseran. Gadget telah menjadi bentuk media baru telah menggeser media konvensional yaitu media lama. Media lama memiliki karakteristik tingkat keintiman yang tinggi karena setiap orang terhubung dengan layar dan interface yang sama dalam waktu lama. Selain itu media lama bersifat pasif karena one way communication dan hanya berperan dalam mentransmit atau memindahkan pesan sementara penerimanya juga adalah audience yang pasif karena hanya sebagai konsumdien dalam mengkonsumsi pesan. Terminologi media baru disebutkan oleh Mc Luhan sebagai media digital dan interaktif yang berbeda dengan media massa.

Berbeda dengan media lama, media baru merujuk pada media digital, interaktif, komunikasi yang dua arah, dan melibatkan bentuk-bentuk dari komputerisasi. Media baru memungkinkan kemampuan teks, audio, digital, video, interaktif multimedia, virtual dan melalui komputer personal. Karakteristik media baru yaitu interaktif di mana masing-masing individu  mengakses materi yag berbeda pada suatu waktu dan media yang berbeda. Media baru juga media interaktif yang sifatnya individualis, disesuaikan dengan karakteristik pengguna dan kebutuhan masing-masing. Dalam media baru, individu atau pengguna adalah produsen aktif yang memproduksi berita.

Melihat karakteristik yang berbeda pada media lama dan baru, maka terjadi perubahan pada dimensi konten dan khalayak. Konten pada media lama merupakan pesan yang diproduksi oleh media, dengan kepentingan pemilik media yang ditujukan oleh khalayak tertentu. Semakin kuat peranan media maka pengaruh khalayak juga semakin tinggi. Sementara itu, konten dalam konsep media baru, diproduksi oleh masing-masing pengguna berdasar kepentingan dan kebutuhan mereka. Pengguna memiliki kuasa untuk membuat pesan termasuk kreatifitasnya. Pengguna adalah audiens yang aktif dalam membuat pesan. Dengan demikian, melalui salah satu contoh dalam bentuk perubahan yang terjadi di media menjadi contoh terjadinya perubahan sosial yaitu dalam tatanan struktural.

Lebih lanjut teknologi selain membawa perubahan dalam sosial, juga membawa dampak dalam hal ekonomi. Peningkatan penggunaan internet dan teknologi mobile di Indonesia membawa pengaruh yang besar terhadap hadirnya e-commerce. E-commerce atau electronic commerce merupakan istilah untuk setiap bisnis atau usaha maupun transaksi komersil yang melibatkan perpindahan informasi melalui internet. Internet dan teknologi mobile memberikan dampak dan perubahan pada proses pertemuan antara produsen dan konsumen. Penggunaan teknologi telepon genggam (mobile phone) yang luas memunculkan peluang-peluang usaha secara khusus pada kelompok dengan demografi usia muda yang menggunakan telepon genggam sebagai standar dalam berkomunikasi.

Melalui teknologi yang terus meluas telah membawa pada transformasi yang secara bersama membangkitkan sebuah bentuk baru dari masyarakat yang disebut dengan network society. Pandangan yang diungkapkan Castell atas bentuk masyarakat yang baru tersebut adalah bentuk pola komunikasi baru yang ada pada masyarakat. Dalam network society komunikasi yang terjalin melalui teknologi adalah dalam situasi terhubung dan secara tipologi dapat menembus jarak dan waktu, serta hubungan dapat terjadi adalah sebagai sistem struktur yang terbuka dan dinamis. 

Pola komunikasi baru merupakan interaksi yang terjadi pada masyarakat yaitu melalui teknologi yang dapat menjadi media antar individu dapat berinteraksi namun selanjutnya melalui networking society maka dapat dilihat bagaimana individu yaitu agen dan struktur bekerja dalam masyarakat.

Dalam network society, teknologi komunikasi memungkinkan komunikasi terjadi secara networking yang melintasi waktu dan jarak. Teknologi komunikasi memungkinkan setiap orang terhubung satu sama lain melalui komunikasi menjadi tidak dapat terpisahkan dalam sistem sosial yang ada, karena teknologi hadir dalam setiap proses morfogenesis.

Teknologi komunikasi memungkinkan bergabungnya kelompok, interaksi yang terjadi juga dalam teknologi sehingga hubungan yang terjalin termediasi oleh teknologi. Teknologi komunikasi dalam morfogenesis yang terjadi dalam kelompo mahmud adalah pada bentuk dan hubungan yang terjadi dalam kelompok dan melalui sumber daya yang memiliki yaitu media yang terintegrasi dengan internet antara lain mobile phone, media sosial (Instagram) dan WAG. Sehingga teknologi komunikasi menjadi faktor yang mendorong aktivitas online menjadi offline.

Media sosial menjadi faktor yang berperan dalam memberikan ide atau fantasi pada kelompok dan direalisasikan pada pertemuan kelompok dan selanjutnya fantasi yang direalisasikan melalui offline diposting di media sosial dan menjadi simbol kelompok. Simbol kelompok yang ditunjukan melalui fantasi bersama sebagai sebuah kesepakatan memiliki makna tolerasi dan keterikatan kelompok. Kesepakatan bersama yang menjadi kebiasaan-kebiasaan pada akhirnya memunculkan kultur dari transisi yang terjadi pada tindakan struktur.

Dengan demikian konvergensi simbolik adalah elaborasi kultur yang terjadi dari proses interaksi sosio kultural dimna dalam tahapan morfogenesis ini muncul aturan-aturan baru yang kemudian mengembangkan simbiol-simbol yang disepakati bersama antar individu dalam kelompok. Konvergensi simbolik dalam proses morfogenesis adalah tahapan elaborasi kultur dan dapat disebut Symbolic Elaboration.

*** Dikutip dari Disertasi Rewindinar, berjudul "Konvergensi Simbolik dalam Proses Morfogenesis Kajian Morfogenesis Mamah Muda (Mahmud) dalam Realitas Network Society di Indonesia"


Editor: DR Rewindinar
KOMENTAR