ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | ARAH DESA

Tradisi Mengantar Anak Sekolah, Anak Aman Bunda pun Nyaman

20 Oktober 2019
Tradisi Mengantar Anak Sekolah, Anak Aman Bunda pun Nyaman
Rewindinar foto bersama Pengurus BPK PENABUR (Arahkita/Farida Denura)

JAKARTA, SCHOLAE.CO - Mengapa orang tua perlu mengantarkan anak ke sekolah? Menurut penjelasan yang dipaparkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, ada delapan manfaat yang dapat diambil dari kegiatan baik ini.  Yaitu; (1)  mengantar anak ke sekolah pada dasarnya adalah kewajiban orang tua,  (2) dapat berkenalan dengan guru, wali kelas, dan kepala sekolah, (3) menceritakan kondisi dan karakter anak  saat di rumah, (4) bertanya dan memberi masukan mengenai pembelajaran satu tahu ke depan, (5) bertukar kontak dengan guru, wali kelas, dan kepala sekolah, (6) mengapresiasi guru karena telah mendidik anak-anak kita, (7) menawarkan bantuan untuk terlibat dalam kegiata penunjang pembelajaran, (8) berkenalan dengan orang tua murid lainnya. (Kemdikbud, 2016). Mengantar anak ke sekolah memang lebih dititikberatkan kepada anak kelas I SD karena bersekolah adalah pengalaman pertama mereka, masih kecil, dan masih perlu bimbingan.

Mengantarkan anak ke sekolah adalah sebuah langkah yang sangat penting dan strategis karena anak kita nanti akan mengisi 1/3 harinya di sekolah, 5-6 hari seminggu, dan bertahun-tahun belajar di sekolah. Ketika orang tua mengantarkan anaknya ke sekolah, tentu akan menjadi sebuah kenangan yang sangat berkesan baginya. Dia akan menulis dalam catatan hidupnya, dan suatu saat akan menceritakan kepada anak cucunya bahwa hari pertama sekolah dia diantar oleh orang tuanya. Hal ini juga tentunya akan dicontoh oleh dia kelak ketika mengantarkan anaknya ke sekolah.

Dalam kehidupan masyarakat urban, kaum ibu rumah tangga banyak pula yang kerap melakukan kegiatan mengantar dan menjemput anak ke sekolah. Sering berinteraksi pada waktu dan tempat yang sama, membuat para bunda ini membentuk komunitas sosial yang lambat laun dirasakan makin nyaman dan menyenangkan.

Fenomena ini pun menjadi kajian Rewinindar yang memotretnya sebagai bahan penelitian Disertasinya bertajuk "Konvergensi Simbolik dalam Proses Morfogenesis Kajian Morfogenesis Mamah Muda (Mahmud) dalam Realitas Network Society di Indonesia" .  Penelitia ini dipaparkannya  pada  Sidang Terbuka Senat Akademi Usahid dalam promosi Doktor Ilmu Komunikasi,  Sabtu (5/10) di Sekolah Pascasarjana Usahid Jakarta.

Dalam penelitian tersebut, pendidik yang kesehariannya berkarya di BPK PENABUR Jakarta ini, melakukan pengamatan  di beberapa sekolah TK dan SD swasta yang ada di wilayah Jakarta Utara, Jakarta timur, Bogor, Tangerang, dan Semarang. Dalam pengamatan yang dilakukan pada tahun 2015, terlihat di setiap sekolah-sekolah tersebut terdapat ibu-ibu yang berkelompok dan menunggu anaknya di lobi sekolah. Kelompok ini pun populer dengan Mahmud.

Mahmud yang juga dikenal dengan sebutan lainnya seperti mahmud abas (mamah mudah abis beranak satu), ataupun macan ternak (mama cantik anter anak) menjadi istilah menarik yang merupakan gambaran eksistensi ibu-ibu di masa modern.

Dalam pengamatan Rewindinar, terlihat kelompok  tersebut setelah mengantar anak sekolah keluar dari sekolah dan pergi bersama-sam, hingga beberapa jam kemudian kembali ke sekolah dan menjemput anaknya. Aktivitas ibu-ibu tersebut terus berulang berlangsung setiap harinya.

Sebagai contoh, kegiatan mengantar dan menjemput anak ke sekolah bagi seorang ibu yang awalnya merupakan kegiatan domestik tradisional yang sudah berlangsung beberapa waktu dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan bagi seorang ibu, dimana ini adalah sebuah budaya lama, menjadi ajang interaksi atau pertemuan dengan ibu-ibu muda lainnya yang kemudian semakin lama menciptakan sebuah budaya baru , yaitu budaya mahmud.

Bagi mahmud dengan kondisi sosial ekonomi yang memungkinkan dan dengan sarana teknologi komunikasi mereka miliki, tujuan kegiatan mengantar dan menjemput anak sekolah sudah mengalami perubahan dan memiliki makna yang baru yakni tidak lagi sekedar menjemput dan mengantar anak sekolah tapi sudah menjadi ajang untuk menunjukkan eksistensi sosial di mana seorang ibu muda dengan kemampuan sosial ekonominya akan memanfaatkannya dengan mengembangkan hubungan dengan ibu mudah lainnya yang mempunyai karakteristik yang sama dan kemudian membentuk perkumpulan atau pertemanan dengan membuat grup atau kelompok eksklusif di mana selanjutnya mereka patuh pada ketentuan atau aturan-aturan maupun simbol-simbol yang berlaku di dalam kelompok, yang kemudian menjadi sebuah kelompok yang terstruktur.

Ajang mengantar dan menjemput anak ke sekolah inilah yang pada akhirnya menjadi sebuah kesempatan bagi kaum ibu muda tadi, untuk bertemu dan merencanakan kegiatan-kegiatan di luar rumah.

Pertemuan antar mahmud pada saat menjemput anak di sekolah kemudian menjadi sebuah wadah tempat berlangsungnya interaksi, di mana setiap anggota mahmud melakukan interaksi sosial kultural, yaitu hubungan antar agen kultural (mahmud) yang pada gilirannya akan mengarah pada elaborasi budaya.

Maka tradisi baik ini, selain mendukung program yang dicanangkan Kemendikbu, anak-anak pun aman dan para bundanya pun nyaman lantaran menikmati aktivitas bahkan bisa berdampak positif. Misalnya, menumbuhkan motivasi ekonomi dengan 'membuka' pasar baru untuk memasarkan produk-produk yang mungkin tengah dikembangkan. Selain itu, mengantar dan menjemput anak  sekolah merupakan bagian dari mendidik anak supaya mereka memiliki kepercayaan diri dan merasa diperhatikan oleh orang tuanya.


Editor: Maria L Martens
KOMENTAR