ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | ARAH DESA

Masa Depan Pendidikan di Tangan Teknokrat Digital

24 Oktober 2019
Masa Depan Pendidikan di Tangan Teknokrat Digital
Nadiem Makarim (Net)

JAKARTA, SCHOLAE.CO - Keputusan Presiden Joko Widodo menempatkan pengusaha teknologi perintis usaha Go-Jek Nadiem Makarim, mendapat sambutan hangat berbagai kalangan. Pengamat menilai ini adalah keputusan tepat bahkan solutif bagi masa depan pendidikan di tanah air. Mengingat saat ini masyarakat dunia tengah bersiap-siap menyambut revolusi industri 4.0.

Pandangan pertama menanggapi Kebinet Jokowi - Ma'aruf berasal dari pengamat politik dari FISIP Universitas Jember Dr Muhammad Iqbal. Ia menilai Kabinet Indonesia Maju yang disusun oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Ma'ruf Amin merupakan solusi untuk menghadapi era disruptif karena ada upaya strategis dan taktis yang mengubah drastis "zona nyaman" selama ini.

"Niscaya banyak kalangan juga menyoroti munculnya nama-nama baru seperti sosok Mahfud MD sebagai Menkopolhukam dan Prabowo menjadi Menteri Pertahanan, Nadiem Makarim sebagai Mendikbud (membawahi pendidikan dasar, menengah dan tinggi, Red)," ungkapnya.

Selama ini, lanjut dia, mendikbud dan menteri agama diisi birokrat tekhnokrat di bidangnya, namun dalam Kabinet Indonesia Maju diisi oleh sosok yang jauh berbeda. Hampir pasti, orientasi masa depan dan isu kepentingan nasional lebih mengedepan dibandingkan dengan roda eksekutif organisasional, katanya pula.

Ia mengatakan dengan komposisi Kabinet Indonesia Maju itu, bisa jadi Presiden Jokowi dan Wapres Ma'ruf Amin menyiapkan bukan hanya untuk Abad 21, tapi menyiapkan bangsa Indonesia menghadapi Abad 22.

"Abad 21 saja sudah sarat dengan hiperkompetisi, perubahan akseleratif dengan kompleksitas eksplosi big data dan informasi global serta post-truth. Nah, apa kabar nanti di Abad 22," katanya.

Jika generasi bangsa saat ini tidak dipersiapkan sejak dini, lanjut dia, sangat mungkin akan mengalami tak hanya gagap tapi juga gegar budaya dan karakter jati diri.

"Clayton Christensen bilang disrupsi bisa bersifat destruktif dan sekaligus kreatif. Hemat saya, mungkin inilah solusi eksekusi yang ditawarkan Kabinet Indonesia Maju menghadapi era disrupsi ini," ujarnya lagi.

Mendikbud Baru, Bakal Bawa Perubahan Konsep Pembelajaran

Pengamat politik lainnya dari Universitas Brawijaya, Wawan Sobari mengatakan, sosok Mendikbud baru,  akan membawa perubahan pada konsep pembelajaran di Indonesia. Perubahan yang perlu dilakukan pada dunia pendidikan tersebut memang perlu dilakukan mengingat pada era revolusi industri 4.0 seperti saat ini, membutuhkan pendekatan berbasis teknologi informasi.

"Perubahan ke depan dengan revolusi 4.0, memang membutuhkan pendekatan berbasis teknologi. Itu kapastiasnya dimiliki Nadiem," kata Wawan kepada Antara.
Wawan menambahkan, sosok Nadiem lahir pada era disruptif melalui inovasi pada Gojek yang mampu menunjukkan banyak perubahan dengan kecepatan tinggi. Ia menilai, semangat tersebut yang nantinya akan dibawa ke kementerian yang akan dipimpinnya selama lima tahun ke depan.

Namun, menurut Wawan, Nadiem tidak bisa bekerja sendiri. Ia harus mampu menggandeng potensi yang dimiliki oleh berbagai daerah di wilayah Indonesia utamanya untuk pendidikan dasar dan menengah.

"Pada masing-masing daerah, sudah banyak inovasi pembelajaran yang berbasis IT. Tinggal kemudian, memberikan keleluasaan kepada daerah, itu yang harus dikerjakan bersama," kata Wawan.

Namun, persoalan pendidikan di Indonesia bukan sekedar pendekatan dari sisi teknologi informasi saja. Masih banyak persoalan lain yang perlu diselesaikan seperti infrastruktur pada sektor pendidikan.

Memang, lanjut Wawan, selama ini di Indonesia sudah dilakukan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK), namun, sektor lain khususnya untuk pembelajaran para siswa juga perlu diperkuat. "Pembelajaran untuk antisipasi masa depan. Konsep pembelajaran itu harus direvolusi oleh Nadiem," kata Wawan.

Konsep baru pada pembelajaran, juga diungkapkan Pemerhati pendidikan Indra Charismiadji. Ia optimistis digitalisasi pendidikan yang baru dicanangkan Mendikbud, Nadiem Makarim. "Saya optimistis bisa berjalan dengan baik. Kami para penggiat pendidikan siap bantu beliau memajukan pendidikan Indonesia," ungkapnya.

Dia menambahkan tantangan terbesar Mendikbud yang baru adalah sumber daya manusia dan birokrasi yang ada di lingkungan Kemendikbud.

Selain itu, Nadiem juga buta dengan kondisi yang ada di lapangan sehingga membutuhkan banyak bantuan untuk mempelajari persoalan yang ada di pendidikan dan kebudayaan. "Mendikbud yang baru membutuhkan orang yang tepat untuk membimbing beliau," kata dia.

Alasan Penunjukan Mendikbud

Nadiem sendiri mengungkapkan alasan penunjukan dirinya sebagai Mendikbud. Pendiri Go-Jek tersebut mengungkapkan,  bahwa setidaknya ada tiga alasan yang menjadi latar belakang penunjukannya sebagai Mendikbud. "Alasan kenapa saya terpilih walaupun saya bukan dari sektor pendidikan adalah pertama saya lebih mengerti, belum tentu mengerti, tapi lebih mengerti apa yang akan ada di masa depan kita," katanya setelah acara pelantikan menteri di Istana Negara Jakarta, Rabu (23/10).

Nadiem, yang dikenal sebagai pembangun perusahaan teknologi, dinilai mampu mengantisipasi tantangan masa depan, termasuk yang berkenaan dengan kebutuhan lingkungan pekerjaan pada masa mendatang. "Sekali lagi ini adalah visi Bapak Presiden bukan visi saya, link and match itu adalah saya akan mencoba menyambung apa yang dilakukan di institusi pendidikan, menyambung apa yang dibutuhkan di luar institusi pendidikan, agar bisa adaptasi dengan segala perubahan itu," kata pria yang lahir di Singapura pada 4 Juli 1984 itu.

Alasan berikutnya berhubungan dengan pentingnya peran teknologi dalam mendukung pengembangan 300.000 sekolah dan 50 juta murid di Indonesia. "Mau enggak mau peran teknologi akan sangat besar dalam semuanya, kualitas, efisiensi, dan administrasi sistem pendidikan sebesar ini ya, jangan lupa ini empat terbesar di dunia sistem pendidikan ini, jadi peran teknologi sangat penting," katanya.

Alasan yang ketiga, menurut dia, lantaran Presiden memerlukan sosok yang inovatif yang bisa mendobrak, yang tidak melakukan segala sesuai sebagaimana biasa. "Mohon dukungan para milenial karena saya mewakili satu-satunya milenial di kabinet, jadi mohon dukungan teman-teman milenial," kata alumnus Harvard Business School itu.

Menyatakan siap bekerja, Forum Rektor juga menantikan pemikiran 'out of the box' Nadiem.  "Nadiem sebelumnya di Gojek, biasa berpikir 'out of the box'", kata Yos Johan di Semarang, seperti dikutip Antara. Ia menambahkan Nadiem memiliki pengalaman memimpin suatu perusahaan yang fenomenal. Menurut dia, akselerasi dalam pelaksanaan program kerja Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan akan bagus.

Kinerja kabinet yang baru ini, lanjut dia, akan dilihat dalam 100 hari pertama mereka bekerja. "Kita lihat apa yang bisa dilakukan dalam tiga bulan ke depan, kira-kira 100 hari pertama bekerja," kata Rektor Universitas Diponegoro Semarang ini.

Presiden Joko Widodo melantik Nadiem Makarim sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dalam Kabinet Indonesia Maju.


Editor: Maria L Martens
KOMENTAR