ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | ARAH DESA

Mengapa Diklat Moderasi Ber-Agama?

30 Oktober 2019
Mengapa Diklat Moderasi Ber-Agama?
Anton Ranteallo, SS, M.Pd
Oleh : Anton Ranteallo, SS, M.Pd

PUSDIKLAT Tenaga Teknis Pendidikan dan Keagaman (Pusdiklat) Kemenag RI, mengadakan Diklat untuk para penyuluh agama se-Indonesia dari Selasa (30/7-9/8). Diklat angkatan III dan IV ini diikuti oleh 60 orang perwakilan penyuluh agama dari setiap provinsi. Perwakilan dari penyuluh agama Katolik dari Provinsi Sulawesi Barat, Anton Ranteallo dan Yakobus Tappe Kalua, dari Provinsi Kalimantan Barat Konluksius Bona, dan dari Provinsi NTT Daniel Dagung. Para penyuluh didiklat dengan materi pokok moderasi beragama.

Diklat Teknis Substantif moderasi beragama dibuka oleh Kapus Diklat, DR. Mahsusi, MM. Dalam sambutannya, beliau kembali menjelaskan lambang Kemenag RI yang bermotto “Ikhlas Beramal”. “Motto ini berarti bekerja dengan sebaik-baiknya tanpa menuntut hak di luar ketentuan. Bekerja secara optimal dan itulah yang disebut dengan professional linear dengan bekerja benar dan tepat, apa yang dikatakan itu juga yang dibuat. Hal tersebut senada dengan rovolusi mental yang didengungkan oleh pemerintahan Jokowi, yakni berintegritas, beretos kerja, dan gotong royong. Ketiga hal ini mengarah kepada profesionalitas. Orang yang professional pasti berintegritas. Penyuluh yang profesional harus berinovasi dan bisa bertanggung jawab. Maka motto iklas beramal punya relasi dengan profesionalitas,“ jelas Pak Kapus.

Masusi juga menjelaskan bahwa moderasi beragama tidak sama dengan moderasi agama. Dalam konteks penyuluh diklat moderasi beragama diharapkan kepada para peserta agar agama yang dianut semakin dipahami dan dihayati dengan baik sehingga membantu mendukung meningkatnya relasi antar dan inter umat beragama. Dengan diklat ini pula para penyuluh diharapkan mampu mengantisipasi sekaligus mengambil langkah preventif dan kuratif dalam konflik sosial termasuk konflik keagamaan, dengan demikian ekstrimisme diharapkan berkurang.

Aparatur Sipil Negara (ASN) didiklat agar ilmunya tidak kadaluarsa dan untuk meningkatkan kompetensi diri dan cara kerja yang tepat, serta tahu perkembangan dalam dunia teknologi. Maka itu para penyuluh perlu belajar terus-menerus, berkomitmen belajar lagi, menuntut ilmu sepanjang hayat, belajar meninggalkan hal-hal yang negatif dan meningkatkan yang positif. Beliau juga menjelaskan bahwa agar bisa bekerja dengan baik para penyuluh bila bertemu dengan orang lain harus dengan muka ceriah, setiap berjumpa dengan orang lain lupakan kekurangannya dan ingat kebaikannya, bekerja secara profesioanl agar bisa berprestasi. Orientasi kita semua adalah mutu, karena mutu adalah investasi hidup”, tegas Pak Kapus.   

Mata diklat moderasi beragama semua mengarah pada kehidupan berbangsa dan bernegara yang berlandaskan Pancasila dan UUD 1945. Wawasan kebangsaan harus dimantapkan kembali karena akhir-akhir ini Indonesia dibenturkan kembali dengan paham kebangsaan yang telah dihidupi selama ini. Ada kelompok yang ingin menggantikan dasar negara dengan paham yang lain. Maka kontrak sosial dasar negara yang telah digagas oleh para pendiri bangsa harus dipertahankan, ini adalah salah satu tugas dan tanggung jawab para penyuluh sebagai garda depan Kementerian Agama.

Kita pun tahu bahwa sejak awal bangsa Indonesia yang multikultural ini berbeda dalam banyak hal, sebut saja: suku, tempat wilayah, agama, ras, golongan, dsb. Namun semua itu diikat dalam satu bingkai NKRI. Sejak lahir kita sudah multikultur sehingga kita harus berjiwa toleransi, menerima perbedaan dengan hati yang lapang, tidak boleh ada dominasi, karena bila dipaksakan Indonesia akan bubar.

Dalam kaitannya dengan moderasi beragama, ada beberapa indikator yang dapat dipedomani, dalam hidup bersama, yakni setia kepada dasar Negara Kesatuan RI, toleran dalam menghadapi multikultural, membangun resolusi konflik yang merupakan cara menghadai konflik dengan damai melalui dialog dan mediasi. Moderasi merupakan lawan dari radikalisme yang menjunjung paham sekuler/komunis, yang ingin mengganti negara NKRI, ingin mengganti ideologi dan konstitusi, melakukan jihad, hanya berteman dengan yang seakidah. Maka itu radikalisme dan tentu saja terorisme harus dilawan, sebagaiman yang disampaikan oleh Kasubdit Bpk. Jefri dan Pak Rahmat di kantor BNPT pada hari Selasa, 6 Agustus 2019 yang terletak di Jl. Anyer 1221 Kecamatan Citeureuk Bogor Jawa Barat.

Moderasi adalah cara kita beragama secara moderat. Moderat berarti yang sesuai dengan esensi dari agama itu sendiri. Maka dapat dikatakan semua agama itu moderat. Namun, cara kita memahami ajaran ini yang bisa tergelincir atau terperosok pada paham ekstrem. Moderasi menekankan toleransi, menyebarkan kasih sayang dan moderat dalam menyampaikan masalah agama. Jadi moderasi itu dalam beragama, bukan moderasi agama. Dengan diklat ini para penyuluh mendapat insight baru dalam memahami agama secara moderat. Semoga pengetahuan yang telah didapatkan ini dapat ditularkan kepada masyarakat luas. Semoga!

(Anton Ranteallo, SS, M.Pd- ASN Kanwil Kemenag Prov. Sulawei Barat)



Editor: Anton Ranteallo
KOMENTAR