ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | ARAH DESA

Komitmen Pemda Laksanakan Program 1 Tahun Wajib PAUD

06 November 2019
Komitmen Pemda Laksanakan Program 1 Tahun Wajib PAUD
Program 1 Tahun Wajib PAUD (Net)

JAKARTA, SCHOLAE.CO - Peran serta masyarakat terus di dorong di tiap Kabupaten/Kota untuk merintis pendidikan anak usia dini (PAUD), sebelum anak memasuki jenjang pendidikan dasar. Meski kemandirian jadi gagasan utama, namun pemerintah mengingatkan bahwa kualitas pengajaran harus sesuai dengan standar yang ditetapkan.

Penegasan ini berlaku pada 88 Kabupaten/Kota yang telah memiliki PAUD bagi warganya. Direktur Pembinaan PAUD Muhammad Hasbi mengatakan 88 pemerintah kabupaten/kota di Indonesia berkomitmen untuk mewajibkan layanan PAUD minimal satu tahun sebelum anak masuk SD.

"PAUD merupakan salah satu layanan dasar yang harus disediakan oleh pemerintah daerah. Hal ini tertera dalam Peraturan Pemerintah tentang Standar Pelayanan Minimum. Regulasi ini sudah berlaku efektif tahun ini," katanya pada Seminar Internasional PAUD dan Pendidikan Keluarga di Jakarta, Selasa (05/11).

Indonesia, katanya, telah memiliki sekitar 234.253 PAUD yang tersebar di 57.654 desa di seluruh Indonesia.

Masih ada 26.108 desa yang belum memiliki PAUD dan membutuhkan peran aktif pemerintah daerah dan seluruh masyarakat.

Namun, ia optimistis angka tersebut akan terus berkurang seiring dengan intensitas keterlibatan masyarakat dalam pembangunan PAUD.

"Hal yang membedakan PAUD di Indonesia dengan negara lain adalah tingginya keterlibatan masyarakat," katanya.

Hal itu, kata dia lebih lanjut, tercermin dari jumlah PAUD yang didirikan masyarakat yang mencapai 97 persen. "Sisanya adalah PAUD negeri yang dibangun pemerintah," kata dia.

Dalam hal keterlibatan masyarakat di dunia pendidikan, persentase tersebut merupakan sebuah kekuatan yang tidak dimiliki negara lain.

"Namun di sisi lain, tantangannya adalah menjamin mutu lembaga PAUD yang didirikan masyarakat agar mengikuti standar pemerintah," ujar Hasbi.


Editor: Maria L Martens
KOMENTAR