ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | ARAH DESA

Risa Santoso, Rektor Termuda di Indonesia

07 November 2019
Risa Santoso, Rektor Termuda di Indonesia
Risa Santoso, BA., MA. Ed (Net)

JAKARTA, SCHOLAE.CO - Prestasi gemilang dicapai Risa Santoso, BA., MA. Ed . Di usia yang masih relatif muda, 27 tahun, ia berhasil menduduki posisi puncak sebagai pimpinan perguruan tinggi. Risa didapuk menjadi rektor di Institut Teknologi dan Bisnis (ITB) di ASIA Malang pada 2 November 2019 lalu.

Tak terbendung, media pun ramai memberitakan gadis kelahiran 27 Oktober 1992 ini sebagai rektor rektor termuda di Indonesia. Namun sebelum menjadi rektor Risa pernah menjabat sebagai Direktur Pengembangan Bisnis di Kampus ASIA. Keinginannya untuk terjun ke dunia pendidikan akhirnya bisa terwujud dengan menjadi rektor di Institut Teknologi dan Bisnis. Semasa menjadi mahasiswa, ia juga dikenal sebagai inisiator dari ASIA interprenunership Training Program, merupakan program akselerasi kerjasama dari Swiss dan Indonesia.

Tercatat Risa adalah lulusan kampus ternama yaitu S1 University Of California Amerika Serika, jurusan Ekonomi. Selanjutnya S2 Harvard University jurusan Pendidikan, melalui beasiswa Lembaga Pengelolaan Dana Pendidikan (LPDP). Dua kampus ternama menjadi tempatnya menimba ilmu, khusus jenjang S-2 berkonsentrasi di ilmu pendidikan yang memberinya bekal mengelola perguruan tinggi.

Sebelum menjadi rektor, ia pernah duduk sebagai salah satu staf di Kantor Staf Kepresidenan (KSP). Selama 1,5 Tahun bekerja di bawah Deputi Isu-Isu Strategis Ekonomi di lembaga yang saat itu dipimpin Luhut Binsar Pandjaitan. "Masuk awal-awal tahun 2015 masih Pak Luhut. Waktu itu ada 5 Deputi. Saya di bawahnya Deputi Isu-Isu Strategis Ekonomi," katanya kepada para wartawan yang menemui di kantor.

Saat itu KSP membutuhkan staf yang menguasai bidang ekonomi dan dirasakan sesuai jurusan S-1 yang pernah ditempuhnya. Begitu lulus S-2 dari Harvard of University, dia mengajukan diri ke Kantor yang saat ini dipimpin Jenderal (Pur) Moeldoko itu.

Risa menjadi salah satu dari sekian mahasiswa yang terpanggil untuk mengabdi pada negeri sendiri. Menurutnya, para alumni-alumni di luar negeri saat itu seolah dipanggil untuk ikut membangun negeri. "Karena Pak Luhut datang ke Amerika, waktu saya masih di Harvad. Kan banyak memanggil alumni-alumni, 'jangan ke luar negeri tapi balik ke Indonesia untuk membantu'. Waktu 2015, banyak kayak gitu, karena banyak alumni yang akhirnya stay di luar negeri, bagaimana caranya biar balik ke Indonesia," kisahnya.

Saat itu, Risa berkenalan dan berbincang dengan salah satu Deputy di KSP yang memberikan informasi dan memintanya mengajukan aplikasi. Akhirnya, Risa menjadi staf di Kantor Kepresidenan dalam rentang waktu tahun 2015-2017. "Istilahnya diimbau (untuk kembali ke Indonesia), lalu saya melamar. Tidak harus sih, tapi kan pokoknya diimbau," ungkap perempuan dua bersaudara itu.

Risa mengungkapkan, dukungan yang datang kepadanya melebihi yang dibayangkan. Keluarga, Dosen dan Mahasiswa mendukung atas jabatan baru yang tidak pernah diimpikannya itu. "Malah awal masih menjadi calon, banyak mahasiswa yang bilang 'Sudah ibu saja yang jadi rektor'. Padahal belum diumumkan," ungkap Risa yang mengaku bersaing dengan tiga orang untuk menduduki posisi rektor.

Risa menyadari waktunya akan semakin sibuk dengan pekerjaan-pekerjaan yang harus diselesaikan sesuai tugas tanggung jawab sebagai rektor. Harus dapat membagi waktu dan efektif menggunakannya sehingga sesuai dengan output yang diharapkan. Butuh kerja sama dan kerja keras.

"Gimana caranya waktu di sini membuat waktu lebih efektif, jadi saat di sini rapat, setelah rapat mau apa, sama-sama semua bisa mengatur waktu, tidak hanya saya tetapi juga orang-orang yang bekerja dengan saya. Semua orang juga mengerti ekspektasi outputnya seperti apa," jelasnya.


Editor: Maria L Martens
KOMENTAR