ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | ARAH DESA

Citra Sekolah, Wibawa Guru dan Pengaruhnya Terhadap Mutu Pendidikan

21 November 2019
Citra Sekolah, Wibawa Guru dan Pengaruhnya Terhadap Mutu Pendidikan
Febriano Kabur

Oleh Febriano Kabur*
 
TAK BISA dipungkiri, peran guru sangat strategis dalam ikut mencerdaskan anak-anak bangsa. Guru menjadi sosok yang penting dalam menggerakkan arah masa depan dan kemajuan negara. Guru sangat berperan penting dalam mewujudkan generasi bangsa yang sejahtera.

Tanpa guru, semua orang tak akan bisa menjadi sukses,baik pejabat,maupun pengusaha besar yang kaya raya. Sementara siswa,tentu saja mengalami kesulitan dalam belajar ataupun menerima materi tanpa keberadaan guru, hanya mengandalkan sumber belajar dan media pembelajaran saja akan sulit dalam penguasaan materi tanpa bimbingan guru. Guru yang penuh kerja keras membimbing, mendidik, dan rela memberikan ilmu yang dimilikinya kepada pelajar sebagai penerus generasi bangsa. Bisa dilihat bahwa guru memiliki banyak peran yang harus dikerjakan bersamaan.

Pendidikan dikatakan bermutu bila ada keseimbangan antara dua unsur yaitu pertumbuhan intelektual dan moralitas. Diharapkan pendidikan dapat menghasilkan manusia yang berpengetahuan dan tahu apa yang baik dilakukan (Mochtar Buchari 2005), untuk mencapai harapan itu lingkungan pendidikan, yaitu sekolah dan peran para guru tidak bisa diabaikan.

Ketika kualitas pendidikan merosot, pemerintah, guru, penyelenggara sekolah dan masyarakat umumnya menilai dengan ukuran dari rata-rat hasil UAN. Dalam skala nasional NTT dikenal sebagai provinsi yang menempati urutan ekor dari presentasi rata-rata nilai UAN. Bukan tidak mungkin untuk mengembalikan citra ini kadang objektifitas hasil ujian dimanipulasi atau guru-guru membantu mengerjakan soal-soal dalam UAN, kunci jawaban soal dibocorkan. Muncullah istilah atau konfersi (perubahan) nilai dan segala bentuk kecenderungan lainnya  seakan-akan tindakan ini dibenarkan agar citra sekolah tetap terjaga.

Lulus seratus persen sekolah itu dianggap mengangkat citra sekolah itu, karena itu sekolah cenderung mengejar persentasi kelulusan daripada menjaga keobjektifan mengerjakan UAN dan hasil UAN itu sendiri .

Sekolah dalam hal  ini, para guru dan pengelola sekolah malu kalau lulusanya tidak mencapai seratus persen, tetapi mereka tidak malu membocorkan soal dan memanipulasi hasil ujian. Ada kontradiksi di sini, di satu pihak orang berusaha menjaga citra dan nama baik sekolah tetapi di pihak lain orang mengaburkan atau merusak citra sekolah sebagai institusi yang mengajarkan kebenaran dan kejujuran.

Ketika hasil UAN dijadikan titik tolak penentu mati hidupnya nasib siswa dan ukuran kualitas sekolah maka orientasi pengajaran di sekolah hanya difokuskan pada hasil UAN yang maksimal. Semua anggota komunitas sekolah dipacu mengupayakan berbagi cara demi suksesnya UAN.

Aktifitas pelajaran di sekolah sehari-hari hanya untuk latihan soal-soal. Siswa tidak lagi diajarkan menguasai konsep pelajaran dan menganalisis  kenyataan. Soal ujian semester dan mid semester tidak lagi disusun untuk melatih kemampuan bernalar, menguji wawasan dan kereatifitas siswa, tetapi  soal pilihan ganda yang melatih siswa membuat spekulasi. Bila tindakan diatas terus merajalela  maka bukan  tidak mungkin  maka mutu pendidikan akan merosot jauh dan kualitas out-putnya tidak bisah diharapkan karena tidak memiliki kematangan akademik dan intelektual.

Merosotnya mutu pendidikan disebabkan situasi lingkungan sekolah itu sendiri. Satu kelemahan bahwa sekolah tidak tampil sebagai lingkungan di mana para siswa merasa kerasan berada dan belajar di sana, bebas berkembang sesuai kemampuannya. Merasa kerasan berarti  merasa aman, bebas berkembang sesuai dengan kemampuannya. Yang terjadi adalah siswa merasa terbebani karena aturan dan kebijakan yang diciptakan kurang sesuai dengan dunia mereka. Para siswa juga tidak bisa belajar dengan baik karena batin diliputi rasa takut berhadapan dengan gurunya sendiri yang tidak hanya keras tapi kasar.

Panggilan menjadi guru adalah tugas luhur karena dengan itu mereka membantu orang tua menuaikan tugas mendidik anak, dan yang bertindak atas nama masyarakat hendak mempersiapkan generasi muda menjadi generasi yang bertanggung jawab. Guru yang secara luas berfungsi sebagai pendidik, merupakan salah satu faktor yang sangat dominan dalam proses belajar mengajar.

Dalam proses belajar mengajar guru harus memiliki kemampuan tersendiri guna mencapai harapan yang dicita-citakan dalam melaksanakan pendidikan pada umumnya dan proses belajar-mengajar pada khususnya.

Namun keluhuran tugas ini diplesetkan karena motivasi guru dan komitmen yang rendah, mental, sampai yang beranggapan bahwa mengajar atau tidak mengajar tiap bulan tetap dapat gaji ditambah pula beberapa kurikulum terakhir yang sangat menekankan keaktifan dan belajar mandiri siswa menjadi tameng memperkuat kemalasan guru.

Hal ini juga semakin diperkuat dengan adanya pergantian berbagai jenis kurikulum yang mewajibkan siswa untuk secara sadar dan secara aktif untuk belajar secara mandiri. ***


*) Pelajar SMA Widya Bhakti Ruteng


Editor: Febriano Kabur
KOMENTAR