ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | ARAH DESA

Prestasi Gemilang Anak Negeri

22 November 2019
Prestasi Gemilang Anak Negeri
Christopher Farrel Millenio Kusuma (Net)

JAKARTA, SCHOLAE.CO - Media di akhir pekan ini ramai memperbincangkan tentang tujuh staf Presiden Joko Widodo, yang diumumkan Kamis (21/11) kemarin di Istana Merdeka - Jakarta. Menariknya dari para profil tersebut, seluruhnya adalah kaum pemuda-pemudi alias milenial.

Mereka terbilang moncer dalam bidang pendidikan baik dalam dan luar negeri. Prestasi mereka pun cukup gemilang. Sudah teruji dalam membidangi acara, komunitas, maupun media digital. Era digitalisasi ini, mungkin membuat Presiden menjatuhkan pilihan kepada kaum muda ini.

Mengingatkan bahwa tahun lalu pun, ada siswa asal SMA Negeri 8 Yogyakarta, Christopher Farrel Millenio Kusuma, yang punya prestasi cemerlang hingga ke mancanegara. Ia berkesempatan menimba ilmu di markas besar Google di Mountain View, California, Amerika Serikat. Pengalaman diundang Google menjadi peristiwa bersejarah dalam hidup Farrel. Anak dari pasangan Monovan Sakti Jaya Kusuma dan Hening Budi Prabawati ini mendapat undangan dari Google karena temuannya tentang “Data Compression using EG and Neural Network Algorithm for Lossless Data”.

“Berangkat ke sana karena proposal penelitian saya berjudul ‘Data Compression using EG and Neural Network Algorithm for Lossless Data’ lolos,” kata Farrel.

Ide penelitiannya tersebut yang mengantarkan dirinya ke markas Google berawal dari hal sepele. Ketika itu, Farrel ingin mengunduh sebuah game. Namun, kuota data yang dimilikinya terbatas.

“Awalnya itu ingin men-download game, tapi kuota terbatas, padahal saya ingin sekali main game itu. Lalu kepikiran, bagaimana caranya mengecilkan game itu, biar bisa main,” ujar Farrel.

Farrel lalu mulai mencari di internet cara mengecilkan data. Dari pencariannya itu, remaja berusia 17 tahun ini menemukan data compression atau pemampatan data. “Saya iseng-iseng mencari lalu riset dan ternyata, data compressionbelum begitu berkembang, ya lalu muncul ide untuk meneliti karena dampaknya luas juga,” kata Farrel. “Dari situ tau yang namanya Zip dan Rar. Gimana sih cara membuatnya? Kan itu tahun 90an semua, masa gak ada perkembangan?” sambungnya.

Zip dan Rar merupakan file kompresi yang memungkinkan beberapa file untuk dikumpulkan menjadi satu dengan ukuran yang lebih kecil. Zip dan Rar dapat memudahkan pemidahan file-file anda dalam satu paket. File tersebut juga akan lebih mudah dipindahkan karena ukurannya yang diperkecil atau dikompress. Format file Zip dan Rar seringkali digunakan orang-orang untuk membuat ukuran suatu file agar menjadi lebih kecil.

Setelah kurang lebih satu setengah tahun, remaja kelahiran Yogyakarta, 1 Januari 2000, ini berhasil menciptakan penelitian yang diberi judul “Data Compression Using EG and Neural Network Algorithm for Lossless Data”.

Hasil penelitiannya itu lalu diajukan ke ajang kompetisi di Indonesia baik regional maupun nasional. Sebab, menurutnya, belum ada orang Indonesia yang meneliti secara khusus mengenai data compression,padahal dampak positifnya begitu besar.

Namun, upayanya itu tidak membuahkan hasil. Diajukan sejak tahun 2016, proposal penelitian milik Farrel selalu ditolak. “Ya, kalau dihitung sampai 11 kali tidak diterima,” katanya. Sampai suatu hari, Farrel melihat sebuah pengumuman dari Google di media online tentang lomba penelitian. Ia pun tidak ingin melewatkan kesempatan itu dengan mengajukan proposal ke perusahaan raksasa teknologi itu.

“Namanya submit reset, saya sudah pasrah dan enggak mikir diterima. Eh, ternyata setelah satu minggu ada e-mail masuk, memberitahu kalau saya lolos,” kata Farrel.
Setelah proposalnya dinyatakan lolos, Farrel masih harus menjalani tes wawancara untuk memastikan penelitiannya adalah asli karyanya.

Dalam wawancara itu, Farrel ditanya mengenai dasar pemikiran, teori, sampai dampak penelitiannya. “Saat dinyatakan lolos wawancara, satu yang saya pikirkan, yakni uang, karena tidak ada biaya akomodasi. Lalu saya hanya ada waktu dua minggu untuk mengurus surat-surat, termasuk mencari uang akomodasi. Tapi ternyata Tuhan memberi jalan, dapat sponsor dan mengurus visa bisa cepat, sampai akhirnya berangkat,” ujarnya.


Editor: Maria L Martens
KOMENTAR