ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | ARAH DESA

Guru dan Jalan Kemerdekaan dari Sang Menteri

25 November 2019
Guru dan Jalan Kemerdekaan dari Sang Menteri
Asep Saefuddin, Rektor Universitas Al Azhar Indonesia (Net)
Oleh : Prof. Dr. Ir.  Asep Saefuddin

PADA setiap tanggal 25 November kita selalu merayakan Hari Guru Nasional (HGN). Perayaan ini memang penting, tetapi yang lebih penting lagi adalah menelaah dan menata fungsi guru agar sesuai dengan esensi pendidikan. Tugas dan fungsi guru tidak bisa seratus persen digantikan dengan robot atau teknologi buatan manusia secanggih apapun. Karena fungsi guru bukan sekedar mengajar, tetapi justru esensinya adalah mendidik. Dalam pengajaran, bisa saja guru menggunakan teknologi termasuk digital dan robot. Tetapi semua itu hanyalah alat  bukan guru.

Sangat tepat jika akhirnya sebelum puncak peringatan HGN 2019 di gelar hari ini (25/11), Nadiem Makarim selaku Mendikbud merilis pidato yang ‘tidak biasa.’ Pidatonya tidak lagi merilis tentang angka – angka capaian pendidikan lima tahun belakang. Tidak juga tentang berbagai upaya fantastis yang telah dilakukan pemerintah. Pun, pidatonya seorang Mendikbud kali ini juga tidak panjang lebar apalagi disertai dengan diksi yang memukau dan cenderung basa-basi.

Pidatonya sangat sederhana. Tapi menyentuh rasa. Mendikbud menyampaikan apa adanya tentang persoalan pendidikan. Tapi memberikan harapan. Pendiri go-jek ini sangat mafhum, bahwa salah satu  jalan sekaligus kunci perbaikan pendidikan bisa dimulai dari guru. Makanya kemudian, ia berpesan sekecil apapun, guru harus berani melakukan perubahan.

Sekarang, jalan terang guru untuk berinovasi dan bebas dari himpitan beban administrasi telah terbuka. Hanya saja, pertanyaannya sanggupkan guru berlepas diri dari kebiasaannya selama ini? Pertanyaannya yang sama juga ditujukan kepada kita semua. Sanggupkah kita merubah cara pandang terhadap mereka yang berprofesi sebagai pendidik ini? Selama ini guru telah dikurung dengan kotak administrasi yang pengap. Untuk itu, perlu ada perubahan paradigma. Jangan sampai terjadi, kisah seekor gajah yang telah lama kakinya diikat, sulit lari, bahkan ketika kandang sudah kebakaran.

Reorientasi Pembelajaran

Wacana masa lalu tentang guru hanya berbasis standar akademik lewat IPK seharusnya tidak perlu diangkat lagi. Jika guru sudah kecanduan dengan standar akademik semata, mereka sulit menerjemahkan kebebasan berinovasi dan menghargai perbedaan siswa sebagaimana yang diharapkan Mendikbud itu.

Guru hari ini setidaknya harus kembali menyadari bahwa siswa itu bukanlah robot yang bisa diciptakan sesuai keinginan guru. Siswa adalah manusia yang mempunyai berbagai keunikan. Keunikan inilah yang harus dikawal untuk kemudian mampu melahirkan insan yang utuh. Tidak sekedar pintar dari segi IQ saja. Tapi sebagai manusia seseorang tentu punya kelebihan yang berbeda-beda. Potensi kelebihan itulah yang harus dibantu agar anak didik punya kepercayaan diri. Sehibgga seseorang bisa menghadapi masa depan yang semakin kompleks.

Oleh karena itu, sekolah di harapkan tidak hanya menghipnotis para siswa untuk menjadi sarjana atau meraih gelar-gelar akademik semata. Banyak sekali profesi masa depan yang bisa dijalankan tanpa harus melewati strata pendidikan yang menjulang. Begitu juga, kampus sebagai agen produksi berbagai gelar kesarjanaan diharapkan mampu menginjeksikan karakter yang kuat pada lulusannya. Dengan demikian, kelak kita tidak lagi berdebat tentang angka siswa yang melanjutkan ke perguruan tinggi. Sehingga kita tidak terus-terusan terbebani jumlah sarjana penganguran. Tentu perencanaan SDM unggul ini juga harus dibarengi dengan industrialisasi yang terukur.

Semuanya bisa terjawab jika sekolah dan perguruan tinggi bisa fokus pada pengembangan karakter dan kecerdasan majemuk. Seperti yang telah diketahui bersama, setidaknya ada tujuh karakter yang harus diaktifkan dalam diri peserta didik, yaitu communication skill, creativity, critical thinking, collaboration, connectivity, cultural awarness, dan citizenship

Melepaskan Jerat Kepentingan

Tema besar menciptakan SDM unggul telah dimulai Presiden Jokowi dengan memberikan kepercayaan kepada sosok yang tidak pernah diprediksi sebelumnya. Presiden tidak mengambil dari salah satu perwakilan ormas terbesar di Indonesia. Juga bukan dari kalangan akademik yang bergelar Doktor atau Profesor sekalipun. Tidak mewakili kampus besar. Juga bukan dari kalangan pengamat, praktisi bahkan pakar pendidikan yang namanya telah dikenal, plus bahkan telah diprediksi menjadi menteri. Tidak sama sekali. Ini bisa jadi modal untuk bekerja tanpa beban.

Nadiem Makarim hadir tanpa mewakili berbagai kepentingan pada umumnya. Maka kemudian, ini bisa diterjemahkan keinginan kuat Presiden bahwa pengelolaan dunia pendidikan Indonesia harus bebas dari berbagai jerat kepentingan yang bersemayam dalam setiap kebijakan pendidikan. Bila terus-terusan demikian, pendidikan di Indonesia hanya mampu merubah cover semata. Tanpa pernah menyentuh subsntansi. Akhirnya kita terus ‘bertikai’ dengan berbagai angka yang tersajikan dalam laporan statistik saja. Hanya sampai pada titik ini, padahal masalah terus membengkak.

Untuk itu, birokrasi dalam tubuh pendidikan juga harus segera dibangunkan dari zona nyaman.  Jutaan guru pasti menaruh harapan terhadap apa yang disampaikan Mendikbud. Namun, kita (di luar guru) juga harus sadar bahwa siapa guru sebenarnya? Di sekolah, guru mempunyai kepala sekolah. Guru dan kepala sekolah berada dalam kekuasaan dinas pendidikan. Ada kepala dinas pendidikan. Kepala dinas pendidikan sendiri adalah bagian dari tim atau orang kepercayaan (bahkan orang terdekat) dari pemimpin daerah. Walikota/Bupati atau Gubernur. Tali temali politik juga ikut melilit.

Otonomi daerah yang secara tidak langsung telah membentuk singgasana kerajaan di daerah telah membuat guru harus takluk. Tidak bebas berinovasi. Seperti tahun-tahun sebelumnya, guru tanpa disadaari sudah menjadi objek memenuhi standar pendidikan daerah yang sumir. Terlalu berorientasi pada angka yang bisa menjebak, membuat birokrasi pendidikan semakin superfisial. Sering laporan Daerah Dalam Angka tidak bermakna dalam kehidupan. Sangat kering dan membosankan.

Untuk itu, momentum kreativitas ini sudah hadir. Mari bersama kita sambut dengan memberikan kepercayaan kepada sang guru untuk terus bergerak, berinovasi, berkreasi. Juga kita kawal kepercayaan ini dengan tidak menjebaknya dalam berbagai jeratan kepentingan. Agar Indonesia benar-benar maju dengan kekuatan manusia unggul.

Selamat Hari Guru Nasional.


Asep Saefuddin
Rektor Universitas Al Azhar Indonesia
Guru Besar IPB




Editor: Asep Saefuddin
KOMENTAR