ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | ARAH DESA

Cerita Javas Rizqi Mahasiswa Non-Kesehatan UI yang Jadi Relawan COVID-19

22 April 2020
Cerita Javas Rizqi Mahasiswa Non-Kesehatan UI yang Jadi Relawan COVID-19
Javas Rizqi Ramadhan, mahasiswa Program Studi; Kesejahteraan Sosial, FISIP UI, untuk menjadi relawan di RSUI, Depok. (Foto-Foto: Dok. KIP & Humas UI)
SEKALIPUN ia bukan mahasiswa program studi rumpun ilmu kesehatan, namun niat tulus Javas Rizqi Ramadhan, mahasiswa Program Studi; Kesejahteraan Sosial, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI), untuk menjadi relawan di Rumah Sakit UI (RSUI), Depok, tidak bisa dibendung. Javas bergabung menjadi relawan RSUI sejak 1 April 2020. Ia ditempatkan di unit Health Care Assistant (HCA) RSUI untuk membantu para perawat dalam menangani pasien COVID-19.

“Ilmu Kesejahteraan Sosial yang selama ini saya tempuh semasa kuliah menjadi pendorong saya untuk bisa turun menjadi volunteer. Praktik kesejahteraan sosial yang menekankan empati dalam setiap penyelesaian permasalahan, menguatkan saya untuk bisa turun langsung menjadi relawan," katanya memaparkan.

Javas menjalani tanggung jawab menjadi relawan dengan jadwal kerja sebanyak 4-5 hari kerja. Setiap hari ia memperoleh satu shift (6-7 jam per hari). Sejumlah pekerjaan dijalankan Javas diantaranya membantu perawat mengambil resep obat ke unit farmasi, mengantarkan sampel darah ke unit laboratorium, menyiapkan Alat Pelindung Diri (APD) bagi para tenaga medis, dan menyiapkan pakaian bagi para tenaga medis yang bertugas di unit HCA COVID-19. Ketika ditanya kendala saat menjadi relawan di rumah sakit, Javas menuturkan, “Pekerjaan yang dipercayakan kepada saya merupakan jenis pekerjaan yang tidak membutuhkan kompetensi khusus di bidang kesehatan, sehingga tidak ada kendala yang berarti saat saya bekerja. Pekerjaan ini cukup  menguras tenaga karena tugas yang dilakukan cukup berat, sehingga kita harus  mampu mengatur waktu untuk beristirahat dengan cukup dan mempersiapkan kondisi fisik yang prima.”

Pria berusia 21 tahun ini mengungkapkan bahwa pengalaman menggunakan APD lengkap adalah momen yang takkan pernah ia lupakan. “Ketika saya menggunakan APD, cukup meletihkan, karena saya tidak bisa bernafas secara leluasa, harus menahan buang air, menahan tidak makan dan minum untuk waktu yang cukup lama," katanya.

Saat menyenangkan baginya adalah ketika memperoleh banyak dukungan, mulai dari keluarga, teman kelompok kuliah, para dosen, tim Kemahasiswaan FISIP UI, Ketua Departemen Ilmu Kesejahteraan Sosial, hingga Dekan FISIP UI.

Dengan statusnya yang masih mahasiswa, Javas menyebutkan bahwa RSUI mengizinkan untuk melakukan penyesuaian jadwal menjadi relawan dengan jadwal kuliah yang ia miliki. “Di awal, membagi diri untuk mengerjakan tugas dan relawan terasa cukup berat, namun lambat-laun saya mulai membiasakan untuk mengefektifkan seluang apapun waktu yang saya miliki untuk menyelesaikan tugas-tugas kuliah,” kata Javas yang saat ini tengah menempuh kuliah semester enam.

Ia menambahkan bahwa rasa kemanusiaannya terpanggil melihat kondisi terbatasnya tenaga medis, sehingga dengan bergabung menjadi relawan, ia berharap bisa berkontribusi terhadap permasalahan tersebut. “Saya juga sangat terinspirasi atas ajaran agama yang menyebutkan bahwa menyelamatkan satu orang manusia sama seperti menyelamatkan seluruh manusia. Terlebih support yang diberikan dari orang tua di kampung yang mendukung saya untuk bisa berkontribusi ditengah wabah corona, menjadi motivasi yang tak ternilai,” ujarnya.

Javas berharap agar masyarakat dapat berkontribusi sesuai dengan kemampuan masing-masing, baik menjadi relawan, atau memberikan donasi, atau cukup dengan menaati pemerintah seperti berdiam diri di rumah, menggunakan masker jika terpaksa harus keluar rumah, dan tidak mudik. Javas juga berharap agar masyarakat dapat menciptakan suasana kondusif di tengah pandemi COVID-19 dengan mencegah penyebaran kabar hoax serta stop memberikan stigma negatif terhadap tenaga medis.
 


Editor: Farida Denura
KOMENTAR