ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | ARAH DESA

Sebuah Usulan Agenda Utama dari KTT ASEAN

19 Maret 2012
Sebuah Usulan Agenda Utama dari KTT ASEAN
Baru-baru ini dunia menyaksikan suatu kemungkinan dari kegagalan integrasi ekonomi yang selama ini dianggap paling sukses dan menjadi model proses integrasi ekonomi regional lainnya. Uni Eropa (UE) selama ini dipandang sebagai model yang paling canggih karena tahapan integrasi ekonomi mereka sudah mencapai tingkatan yang paling tinggi. Dalam teori integrasi kawasan ekonomi, kita mengenal beberapa tahapan, yaitu yang paling awal adalah kawasan pasar bebas (free trade area), kemudian meningkat ke penyatuan sistem bea cukai terhadap negara-negara di luar kawasan (customs union).
    
Tahap selanjutnya adalah pasar tunggal (common market) di mana terjadi lalu lintas bebas untukbarang, jasa dan faktor produksi di dalam kawasan. Harmonisasi kebijakan ekonomi di negara-negara anggota (economic union) adalah tahapan selanjutnya, dan tahapan ekonomi yang paling tinggi adalah penyatuan moneter (monetary union) dengan diberlakukannya mata uang tunggal yang diatur oleh suatu otoritas moneter kawasan. UE adalah satu-satunya kawasan integrasi ekonomi yang sudah mencapai tahapan tertinggi tersebut, dengan euro menjadi satu-satunya mata uang yang berlaku di 27 negara anggota.
    
Dalam 50 tahun terakhir banyak dibentuk kawasan ekonomi di setiap belahan dunia, biasanya dengan satu atau dua negara anggota yang dominan. Asosiasi Negara-Negara Asia Tenggara (ASEAN) dibentuk pada tahun 1967 dengan ditandatanganinya Deklarasi Bangkok oleh 5 Menteri Luar Negeri dari negara-negara pendiri ASEAN. Sekarang, ASEAN telah memiliki 10 negara anggota dengan sebuah sekretariat di Jakarta yang mengatur semua bidang kerjasama di ASEAN. Dengan ditandatanganinya Piagam ASEAN (ASEAN Charter) pada tahun 2007 dan berlaku mulai tahun 2008, ASEAN berkeinginan untuk  meningkatkan proses kerjasama dan integrasi untuk menjadi suatu organisasi regional seperti UE.
    
Piagam tersebut menjadikan ASEAN suatu organisasi yang memiliki dasar hukum (legal entity) dengan tiga pilar utama yaitu ASEAN sebagai masyarakat politik keamanan, masyarakat ekonomi dan masyakarat sosial-budaya. Ketiga pilar ini akan membentuk Masyarakat ASEAN seutuhnya yang direncanakan akan terealisasi pada tahun 2015.
    
Setiap tahun secara bergiliran setiap negara anggota menjadi tuan rumah dari Konferensi Tingkat Tinggi  (KTT) yang dihadiri oleh para pemimpin di ASEAN. Selain itu, ada banyak sekali pertemuan dari level teknis sampai level pejabat tinggi (senior officials). Kritik utama terhadap ASEAN adalah banyaknya pertemuan tersebut, yang diadakan setiap tahun, tidak meningkatkan kerjasama dan integrasi di kawasan tersebut secara signifikan, walaupun ASEAN sudah berumur lebih dari 40 tahun.
 
Stabilitas Politik dan Keamanan  
Manfaat yang paling terasa dengan adanya organisasi tersebut adalah stabilitas politik dan keamanan yang sangat tinggi. Selama 40 tahun terakhir hampir tidak pernah ada konflik di antara negara-negara anggota yang meningkat menjadi ketegangan tingkat tinggi. Tahun ini tuan rumah KTT ASEAN adalah Indonesia, sejalan dengan peran Indonesia sebagai Ketua ASEAN untuk periode 2011. Tahun 2011 ini juga menandai terjadinya krisis di beberapa negara anggota UE, yang menjadi model bagi ASEAN.
    
Sejak akhir 2009, krisis hutang publik melanda beberapa negara Eropa. Irlandia, Italia, Portugal, Spanyol dan Yunani adalah anggota-anggota UE yang mengalami krisis tersebut akibat hutang pemerintah yang menggunung. Yunani dan Italia terancam gagal bayar (default) akibat hutang mereka yang sejak tahun lalu bahkan sudah melebihi PDB mereka. Krisis ini telah mempersulit posisi anggota-anggota UE yang lebih sehat karena mereka bersama-sama memiliki kewajiban untuk menjaga kredibilitas dan nilai tukar mata uang euro dan membantu Yunani dan Italia berarti mereka harus menyalurkan bantuan likuiditas yang membuat pemerintah negara-negara tersebut tidak populer di mata rakyatnya. Yang kemudian terjadi adalah para pemimpin negara-negara UE tetap memberikan bantuan tersebut karena efek dari kejatuhan euro bila tidak ada bantuan tersebut bisa menularkan krisis ke para anggota UE yang lain.

Bulan lalu para pemimpin di kawasan euro telah setuju untuk menghapuskan 50 persen dari hutang publik Yunani dan menaikkan paket bantuan Fasilitas Stabilitas Keuangan Eropa (EFSF) menjadi sebesar 1 triliun euro dari sebelumnya 750 milyar euro. Awal bulan November ini bantuan tersebut diikuti dengan peringatan terakhir untuk Yunani untuk segera membenahi perekonomiannya. Secara politik, krisis di Yunani dan Italia telah berakibat jatuhnya Perdana Menteri yang berkuasa.
    
Pertanyaannya sekarang adalah, bagaimana peristiwa-peristiwa di benua Eropa tersebut relevan untuksituasi kita di kawasan Asia Tenggara? Kawasan UE telah menjadi mitra dagang dan investasi penting bagi ASEAN selama beberapa tahun terakhir ini. UE sebagai satu entitas adalah mitra dagang terbesar kedua setelah RRC. UE juga adalah negara asal investasi asing terbesar untuk ASEAN, diikuti oleh Amerika Serikat dan Jepang. Secara ekonomi, perkembangan yang terjadi di kawasan UE patut dicermati karena pengaruhnya yang cukup signifikan terhadap perkembangan ekonomi ASEAN. Selain itu, seperti telah disebutkan di atas, dengan adanya piagam ASEAN, UE menjadi model bentuk organisasi regional yang ingin dicapai oleh ASEAN. Akan tetapi, model yang sepertinya canggih tersebut ternyata cacat dan kawasan tersebut sekarang mengalami krisis terbesar dalam sejarah mereka.
    
Dengan melihat apa yang terjadi di kawasan UE tersebut, adalah penting bahwa para pemimpin ASEAN, yang memiliki cita-cita membawa ASEAN agar menjadi seperti UE, menjadikan perkembangan ekonomi UE sebagai agenda utama dalam KTT kali ini di Denpasar, Bali. Menurut penulis, dalam hubungannya dengan perekonomian UE, beberapa hal yang harus menjadi agenda utama adalah peninjauan ulang terhadap cita-cita pembentukan ASEAN agar mengarah seperti UE. Sebenarnya model UE tidak sepenuhnya cacat karena untuk mengadopsi mata uang euro dan menjadi bagian dari kawasan ekonomi euro (eurozone), ada banyak kriteria ekonomi makro yang harus dipenuhi, seperti batas atas inflasi dan persentase defisit fiskal terhadap PDB. Andaikan semua kriteria tersebut dipatuhi, besar kemungkinan krisis euro sekarang tidak terjadi. Tetapi yang pasti ada yang salah dengan pelaksanaan aturan-aturan tersebut dan para pemimpin ASEAN perlu mencermati masalah tersebut. Jerman dan Prancis adalah negara-negara yang paling maju di kawasan UE.
    
Ketidakseimbangan kemajuan ekonomi antara kedua negara tersebut dengan Yunani adalah juga faktor yang membuat penggunaan mata uang tunggal kurang berhasil di kawasan UE. Usaha membawa anggota-anggota ASEAN ke dalam tahapan kemajuan ekonomi yang lebih seragam. Seperti telah disebutkan sebelumnya, kesenjangan yang terlalu besar di antara perekonomian-perekonomian yang terlibat di dalam proses integrasi akan berdampak buruk terhadap kemajuan integrasi itu sendiri. Para pemimpin ASEAN perlu memikirkan kebijakan-kebijakan ekonomi di tingkat regional yang dapat menyetarakan kondisi ekonomi di negara-negara anggota. Pelaksanaan kebijakan-kebijakan tersebut tentunya membutuhkan peran aktif dari tiap negara agar berhasil. Salah satu ekonom senior Indonesia Profesor Djisman Simanjuntak pernah mengusulkan agar tiap anggota ASEAN lebih membuka diri dengan tidak selalu menolak atas nama kedaulatan negara pada saat harus mengikuti kesepakatan yang telah dibuat di tingkat regional.
    
Demi kemajuan bersama ASEAN, tiap negara anggota harus lebih aktif dalam menjalankan kesepakatan-kesepakatan tersebut.  Berdasarkan kedua pemikiran di atas, alangkah baiknya bila para pemimpin ASEAN juga meninjau ulang rencana diberlakukannya Masyarakat ASEAN pada tahun 2015. KTT ASEAN pada tahun 1997 menetapkan Wawasan ASEAN 2020 (ASEAN Vision 2020) yang pada intinya adalah merencanakan pembentukan Masyarakat ASEAN pada tahun 2020. Tetapi pada Deklarasi Cebu yang ditandatangani oleh para pemimpin ASEAN pada Januari 2007, pembentukan tersebut dipercepat menjadi tahun 2015. Mengingat bahwa kesenjangan ekonomi anggota-anggota ASEAN masih besar, dengan melihat bahwa kesenjangan yang signifikan berakibat buruk terhadap perekonomian UE dengan mata uang tunggalnya, para pemimpin ASEAN dalam KTT kali ini perlu mempertimbangkan untuk menunda pembentukan Masyarakat ASEAN kembali ke 2020.

Sangat penting bagi anggota-anggota untuk sekarang mulai memfokuskan kebijakan ekonomi domestik mereka untuk mengurangi kesenjangan ekonomi di antara mereka agar pada saat Masyarakat ASEAN terbentuk, tidak ada negara anggota yang menjadi beban negara anggota yang lain dan semua dapat memberikan kontribusi positif bagi kemajuan ASEAN sebagai satu entitas.

Bambang Irawan, Staf Pengajar Sampoerna School of Business

Editor: Farida Denura
KOMENTAR