ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | ARAH DESA

Memahami Asia Tenggara melalui Studi Wilayah

28 Maret 2012
 Memahami Asia Tenggara melalui Studi Wilayah
JAKARTA-ASEAN (Association of South East Asian Nations)  yang berarti Perhimpunan Bangsa-bangsa Asia Tenggara, adalah organisasi regional yang dibentuk oleh kelima negara Asia Tenggara yaitu  Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura dan Muangthai. Berdirinya organisasi tersebut sejak penandatanganan Deklarasi ASEAN atau Deklarasi Bangkok oleh kelima Menteri Luar Negeri-nya pada 8 Agustus 1967 di Bangkok. Kemudian disusul dengan Brunei Darussalam, Vietnam, Kamboja, Laos dan Myanmar yang ikut bergabung.

Seiring telah berdiri lama dan peran ASEAN yang begitu penting terhadap anggotanya, sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara yang tergabung dalam organisasi tersebut telah memulai mempelajari wilayah Asia Tenggara. Hal ini didasari dengan sasaran pembentukan asosiasi ini adalah to promote South-East Asian Studies, mendorong dan mengembangkan studi Asia Tenggara di wilayah tersebut.

C P F Luhulima saat memaparkan tentang pentingnya studi wilayah Asia Tenggara pada diskusi terbatas yang diadakan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Kristen Indonesia (Fisipol UKI) dan Institute of ASEAN Studies (IAS), Selasa (20/3) mengatakan studi wilayah ini baru muncul pada 1976 saat University of Malaya membuka suatu program tentang studi wilayah tersebut dan kemudian diikuti oleh Singapura, Thailand, Vietnam dan Filipina. Sedangkan di Indonesia, studi tersebut belum berkembang.

Saat hadir sebagai pembicara pada diskusi bertema “Eksplorasi Studi Asia Tenggara: Relevansi, Pendekatan, Tantangan, dan Peluang” di Ruang Eksekutif Fakultas Ekonomi UKI tersebut, Luhulima menerangkan tentang Asia Tenggara yang begitu penting dan melalui ASEAN sebagai sarana utama pemusatan perhatian pada kawasan ini dari segi politiknya.

Hadir dalam diskusi tersebut antara lain Dekan Fisipol UKI, D Parlindungan Sitorus, Direktur Eksekutif IAS, Witarsa Tambunan yang juga menjadi salah satu dosen di program studi Hubungan Internasional Fisipol UKI, sejumlah dosen dan mahasiswa Fisip lainnya.

Membahas tentang ASEAN, Luhulima menerangkan bahwa asosiasi ini pada dasarnya untuk membangun kerjasama regional dalam usaha mempercepat pertumbuhan ekonomi, kemajuan sosial dan pengembangan kebudayaan. Persamaan kedudukan di dalam keanggotaan merupakan  salah satu prinsip dalam kerjasama ini tanpa mengurangi kedaulatan negara masing-masing anggota.

Selain itu, kriteria dalam ASEAN, ungkap Luhulima, bahwa setiap negara tidak ada campur tangan dengan urusan dalam negeri satu sama lain. “Kedaulatan suatu negara tidak boleh diganggu dan tidak boleh ada intervensi terhadap permasalahan dalam negeri yang dialami oleh negara lain. Setiap perselisihan harus diselesaikan dengan cara-cara damai. Itu intinya,” paparnya.

Studi wilayah Asia Tenggara, menurut peneliti senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Centre for Strategic and International Studies (CSIS) tersebut mengungkapkan sangat membantu negara-negara ASEAN dalam memahami kondisi negara di kawasan tersebut. Studi wilayah adalah penelitian atau pendekatan ilmiah guna mempelajari segi geografis, nasional, budaya atau mencakup ilmu-ilmu social dan kemanusiaan.

Namun, penelitian ini tidaklah mudah karena membutuhkan tenaga ahli. “Butuh tenaga ahli. Mereka adalah tentunya yang sudah mempelajari dan menguasai bahasa, sejarah, kebiasaan lokal, pikiran politik, dan multidisplin lainnya supaya dapat menyelami masyarakat wilayah tertentu,” ujar Luhulima.

Akan tetapi, ungkapnya, studi wilayah ini hampir tidak berkembang di Indonesia. Lembaga-lembaga penelitian dan pendidikan tinggi di Indonesia kurang memanfaatkan permasalahan dalam negeri untuk dikembangkan dalam konsep dan teori ilmiah universal. Hampir tidak ada spesialis Indonesia, misalnya, tentang negara-negara anggota ASEAN yang melakukan kegiatan studi wilayah ini.

“Karenanya, perlu adanya pemikiran perencanaan tentang studi wilayah mengenai Asia Tenggara di UKI. Tetapi penelitian ini harus dilakukan ditingkat S2, sedangkan di S1 hanya bisa dilakukan dalam disiplin ilmu di program studi yang terkait,” pesannya.

Adapun relevansi karena Indonesia terletak di Asia Tenggara adalah jaminan keberlanjutan kehidupan kebangsaan dan kenegaraan kita. Pendekatan yang perlu dilakukan untuk menjamin keamanan dan perdamaian mengenal negara-negara tetangga langsung melalui bahasa, budaya, dan tata kehidupan mereka. Sebagai tantangan dan peluangnya adalah studi wilayah tersebut dilakukan pada tingkat Strata 2. Namun, permasalahannya adalah butuh tenaga pengajar S3 yang menempuh pendidikan di luar negeri.(PR)

Editor: Farida Denura
KOMENTAR