Tiga Peran Strategis Universitas dalam Menghadapi Bencana


 Tiga Peran Strategis Universitas dalam Menghadapi Bencana Prof. Tjandra Yoga Aditama, Direktur Pascasarjana Universitas YARSI, berbicara pada Seminar Nasional Hospital Risk Management in Disaster yang diselenggarakan oleh Program Studi Magister Administrasi Rumah Sakit Sekolah Pascasarjana Universitas YARSI pada 24 Januari 2026. (Foto: Dok. Pribadi)

JAKARTA, SCHOLAE.CO  — Universitas tidak hanya berfungsi sebagai pusat pendidikan, tetapi juga memiliki tanggung jawab sosial yang nyata ketika bencana terjadi. Hal inilah yang disoroti dalam Seminar Nasional Hospital Risk Management in Disaster yang diselenggarakan oleh Program Studi Magister Administrasi Rumah Sakit Sekolah Pascasarjana Universitas YARSI pada 24 Januari 2026.

Seminar ini menghadirkan pembicara dari dalam dan luar negeri, mulai dari perwakilan Pusat Krisis Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Persatuan Rumah Sakit Seluruh Indonesia, pakar kebencanaan kebumian, pakar manajemen rumah sakit, pimpinan rumah sakit dari Aceh, hingga relawan yang terlibat langsung di wilayah bencana Sumatera sejak akhir 2025.

Dalam sambutan pembukaannya, Tjandra Yoga Aditama, Direktur Pascasarjana Universitas YARSI, menegaskan bahwa universitas memiliki tiga peran utama ketika bencana terjadi—peran yang saling berkelindan antara aksi kemanusiaan, kontribusi ilmiah, dan pembelajaran berkelanjutan.

1. Terjun Langsung Membantu Korban

Peran pertama adalah keterlibatan langsung di lapangan. Universitas YARSI, misalnya, mengirimkan tim kesehatan ke wilayah terdampak di Sumatera, menggalang bantuan untuk korban bencana, serta memberikan pendampingan bagi mahasiswa yang terdampak secara langsung. Langkah ini menunjukkan bahwa institusi pendidikan tinggi tidak boleh berjarak dengan realitas sosial yang dihadapi masyarakat.

2. Memberikan Masukan Ilmiah Selama Bencana Berlangsung

Peran kedua dijalankan melalui analisis berbasis keilmuan. Saat bencana masih berlangsung, universitas memiliki kapasitas untuk menyampaikan rekomendasi kebijakan dan analisis situasi secara ilmiah melalui media. Kumpulan masukan ini tidak berhenti sebagai opini sesaat, melainkan dikemas secara sistematis dalam bentuk buku yang diluncurkan bertepatan dengan seminar nasional tersebut.

3. Mengkaji dan Menarik Pembelajaran untuk Masa Depan

Peran ketiga diwujudkan melalui penyelenggaraan seminar itu sendiri. Forum ini menjadi ruang refleksi akademik untuk membedah apa yang telah terjadi, merumuskan lesson learned, serta memperkuat kesiapsiagaan rumah sakit dan sistem layanan kesehatan dalam menghadapi bencana di masa mendatang.

Kajian ilmiah dalam seminar ini dirangkum dalam lima topik utama:

  1. Kebijakan nasional dan tata kelola mitigasi bencana di sektor kesehatan.
  2. Peran data, informasi, dan sistem peringatan dini (early warning system).
  3. Standar, regulasi, serta kesiapsiagaan rumah sakit.
  4. Implementasi Hospital Disaster Plan (HDP), Business Continuity Plan (BCP), dan Hospital Emergency Response Plan (HERP).
  5. Penguatan kapasitas sumber daya manusia serta budaya siaga bencana di lingkungan rumah sakit.

Kelima bahasan tersebut diperkaya dengan pengalaman lapangan para praktisi dan relawan yang terlibat langsung dalam penanganan bencana sejak Desember 2025 hingga Januari 2026.

Menariknya, seminar ini juga menerapkan analisis jejak karbon dari seluruh rangkaian kegiatan dan partisipasi peserta. Emisi karbon yang dihasilkan kemudian dikompensasikan, sehingga kegiatan ini memperoleh predikat Seminar “Carbon Net Zero”—sebuah contoh konkret bahwa kepedulian terhadap bencana juga dapat berjalan seiring dengan komitmen terhadap keberlanjutan lingkungan.

Editor : Patricia Aurelia

Berita Scholae Terbaru