Selasa, 27 Januari 2026

Konferensi IIF ke-18 di Paramadina, Demokrasi dan Tata Kelola Jadi Sorotan Dunia Akademik


 Konferensi IIF ke-18 di Paramadina, Demokrasi dan Tata Kelola Jadi Sorotan Dunia Akademik Universitas Paramadina, Jakarta, kembali menjadi tuan rumah ajang akademik bergengsi internasional. Pada 17–18 September 2025. (Foto: Dok. Univ. Paramadina)

JAKARTA, SCHOLAE.CO - Universitas Paramadina, Jakarta, kembali menjadi tuan rumah ajang akademik bergengsi internasional. Pada 17–18 September 2025, kampus ini sukses menyelenggarakan Konferensi Internasional Indonesia Forum (IIF) ke-18 dengan tema “Good Governance and Democracy in Indonesia”.

Acara dibuka oleh perwakilan International Indonesia Forum, Frank Dhont dari National Cheng Kung University, bersama Dr. Sunaryo selaku Kepala LPPM Universitas Paramadina. Sesi pembukaan menghadirkan Keynote Panel bertajuk “Governing the Indonesian Democracy?” yang memicu diskusi kritis tentang tantangan sekaligus peluang demokrasi Indonesia ke depan.

Panel utama ini melibatkan sejumlah tokoh akademik, antara lain:

  • Assoc. Prof. Ahmad Khoirul Umam (Universitas Paramadina)
  • Prof. Al Makin (UIN Sunan Kalijaga)
  • William Tuchrello, MA (International Indonesia Forum)
  • Prof. David Price (Charles Darwin University, Australia)

Diskusi tersebut dipandu oleh Prof. Rosdiana Sijabat dari Unika Atma Jaya.

Isu Beragam dalam 6 Panel Paralel

Selama dua hari, peserta konferensi mengikuti enam sesi panel paralel yang membahas isu lintas bidang. Tema yang diangkat mulai dari Islam, demokrasi, dan tata kelola pemerintahan, identitas budaya dan migrasi, hingga komunikasi politik di era digital. Tak hanya itu, topik tata kelola dalam bisnis, lingkungan, dan masyarakat juga menjadi perhatian.

Partisipasi peserta dari berbagai negara seperti Polandia, Jepang, Taiwan, Australia, India, dan Norwegia membuat diskusi semakin kaya perspektif dan membuka ruang dialog lintas budaya.

Gagasan Penting yang Muncul

Beberapa pemikiran yang mencuri perhatian antara lain:

Prof. Al Makin mengkritisi praktik demokrasi di Indonesia lewat presentasi “Democracy without Virtue? Corruption, Leadership, and the Loss of Integrity in Indonesia”.

Dian Nafiatul Awaliyah (Universitas Sultan Fatah) menekankan pentingnya tata kelola berkelanjutan untuk wilayah pesisir.

Azzumar Adhitia Santika dan Ari Santoso Widodo Poespodihardjo mengulas pandangan politik Presiden Subianto soal oposisi.

Muhamad Iksan (Universitas Paramadina) menawarkan pendekatan Game Theory untuk memahami praktik korupsi.

Komitmen Kolaborasi Akademik

Konferensi ditutup dengan refleksi Prof. Frank Dhont dan Dr. Muhamad Iksan yang menegaskan perlunya kolaborasi lintas negara dalam memperkuat demokrasi Indonesia.

Rektor Universitas Paramadina, Prof. Didik J. Rachbini, menyatakan bahwa forum ini tidak hanya ruang akademik, tetapi juga kontribusi nyata bagi bangsa. “Diskusi yang berlangsung dua hari ini membuktikan bahwa dunia akademik memiliki peran penting dalam memperkuat demokrasi dan tata kelola yang baik di Indonesia. Paramadina berkomitmen untuk terus berada di garis depan dalam upaya ini,” ujarnya.

Kesuksesan penyelenggaraan IIF ke-18 di Paramadina sekaligus menegaskan peran forum ini sebagai ruang akademik internasional yang konsisten melahirkan gagasan segar demi terwujudnya tata kelola pemerintahan yang lebih baik.

Editor : Farida Denura

Berita Scholae Terbaru